Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#15


__ADS_3

"Si ade kenapa zal?"


"Kenapa pak?"


"Ademu marah sama bapak? Kok bapak merasa ade cuek ke bapak"


"Perasaan bapak aja itu. Bapak kan tau si ade kalo merajuk sama suaminya kita suka kena imbas juga".


"Tapi bapak yakin, kayaknya ade tu marah sama bapak"


"Gak usah dipikirkan pak, nanti Izal tanya ke ade"


###########


"Bapak tanya ke kakak lho de"


"Tanya apa Kaf?"


"Kata bapak, sepertinya kamu marah ke bapak"


"Keliatan emangnya Kaf?"


"Jadi serius kamu marah ke bapak?"


Aku hanya diam tidak memberikan Kakaf jawaban.


"Kak Alif kan sudah menjelaskan ke kita semuanya. Kenapa bapak memilih menikah lagi. Kenapa juga waktu itu bapak menikahnya diam diam"


"Jadi kakaf sudah tau kan apa yang ade marahkan"


"Apa? Kakaf ga tau"


"Menikah tanpa persetujuan kita"


"Bapak ga perlu ijin atau persetujuan siapa pun de untuk menikah lagi. Bapak tidak berpoligami. Mama sudah meninggal. Bapak berhak punya teman di masa tua bapak"


"Setidaknya bapak bicara dulu dengan kita sebelum menikah"


"Bapak sudah bicarakan dengan kak Alif. Bahkan kak Alif juga menghadiri pernikahan bapak"


"Berarti kan bapak gak menganggap ade"


Aku masih tetap ngotot. Dan kakaf hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keras kepalaku.


####

__ADS_1


"Kenapa harus pindah bu?"


Bang Handi duduk disampingku yang asyik memasukan barang barang ke dalam kardus.


"Biar bapak leluasa bawa istri baru ke sini"


"Gak begini kan caranya bu"


"Kalo abang mau tetap tinggal di sini ya sudah. Ibu aja yang pindah".


Aku menaikkan sedikit intonasi suaraku. Dan seperti biasanya, bang handi memilih mengalah. Meninggalkanku sambil mengelus pelan kepalaku.


Tak berselang lama, bang Handi masuk kembali ke dalam kamar.


"Bu, dipanggil kak Alif"


Aku mendesah sedikit kesal, pasti berita keinginanku untuk pindah rumah sudah sampai di telinga kakak kakakku. Dan benar saja, ketika aku keluar kamar menuju ruang tv, kulihat ke empat kakak laki lakiku sudah berkumpul di tambah kak Fani, yang bisa kupastikan memaksa untuk ikut karena tahu sifat kak Alif yang keras. Hanya kak Fani yang bisa menjadi penengah jika kami bersaudara sedang berselisih paham


"Duduk de,sini".


Kak Fani menunjuk sofa kosong disampingnya. Aku pun mengikuti maunya kak Fani. Lebih aman memang duduk di samping Kak Fani untuk saat sekarang ini.


"Kenapa memutuskan untuk pindah?"


Kak Alif tanpa basa basi bertanya padaku.


"Baru sekarang berpikir seperti itu? Kebetulan sekali"


"Memang dulu ade di bolehkan punya rumah sendiri? Memang dulu ade pernah di tanya apa maunya ade?"


Aku memandang kak Alif. Memberanikan diri kali ini untuk menantangnya.


"Ibuuu" Bang Handi yang berdiri di belakangku mengusap bahuku.


Kulihat kak Alif mengerutkan dahinya melihat keberanianku.


"Jadi, apa maumu sekarang?" kak Alif kembali bertanya.


"Pindah rumah"


"Kenapa baru sekarang punya niat pindah rumah?"


"Karena sekaranglah waktu yang tepat"


"Sekali lagi kakak tanya, KENAPA?"

__ADS_1


Kak Alif meninggikan satu oktaf suaranya.


"Kakak kakak semua tau alasan ade, kenapa lagi harus bertanya? Apa ade harus bilang kalo ade kecewa, ade marah?"


Aku pun meninggikan suaraku dan kali ini aku mendapat elusan di tangan dari kak Fani.


"Apa yang dikecewakan? Yang dimarahkan? Bapak?"


"Biar bapak leluasa membawa istri baru kemari"


Aku berkata dengan lirih.


Dan kak Alif mendesah kesal. Marah dan jengkel padaku. Tapi tidak bisa melampiaskannya.


Kak Fian beranjak, duduk berjongkok di depanku.


"Apa ade gak kasian sama Izal? Dia bakal sendirian disini."


"Akan ada mama baru yang mengurus kakaf"


"Bisa ga keras kepala itu dihilangkan?" Kak Alif kembali bersuara.


"Bisa gak sikap diktator itu juga dihilangkan?" aku kembali menantang kak Alif.


"Ade.." Ketiga kakakku yang lain serempak bersuara.


"Oh, sudah mulai hebat kamu ya, lupa sama masa lalu". Kak Alif mulai beranjak hendak mendekatiku.


Bang Handi tiba tiba berdiri di depanku, bersuara sambil membawaku berdiri..


"Maaf kakak kakak semua jika handi lancang. Tapi kali ini biarkan dulu kami pindah. Biarkan yanti menenangkan dirinya. Biarkan yanti bisa berdamai dulu dengan keadaan ini. Jika kami masih tinggal disini, situasi akan terus seperti ini. Jadi tolong, kali ini ijinkan Handi untuk mengambil sikap atas istri dan anak anak Handi. Tolong"


Bang Handi mendekapku yang mulai terisak. Aku pun memberanikan diri untuk kembali menatap ke empat kakak laki lakiku.


"Bisa kakak kakak memposisikan diri sebagai ade? Ade tinggal dirumah ini, tapi ade tidak di beritahu bapak sudah menikah. Bapak membawa wanita itu seperti wanita selundupan. Di saat ade tidak ada di rumah, bapak memasukan wanita itu. membawa wanita itu keluar kamar di saat ade juga tidak ada dirumah. Ini rumah bapak, ade sadar ade numpang disini. Jadi sekarang, ade kembalikan semua ke bapak. Bapak bisa menjadikan wanita itu menjadi satu satunya wanita di rumah ini".


"Ade minta maaf kalo ade sudah berani melawan. Beritahu bapak, hati hati dengan istri muda. Ada Kakaf, siapa tau dia tertarik dengan kakaf".


Aku kemudian beranjak kembali masuk ke kamar diikuti oleh bang Handi yang terus merangkul pundakku.


Pedih, ada rasa sesak di dada. Entah kenapa sulit bagiku untuk menerima kenyataan bahwa bapak menikah lagi.


Kata kakaf, aku seperti seorang istri yang tidak rela di madu.


Tidak!! Aku hanya seorang putri yang kecewa. Yang merasa kehadirannya tidak di hargai.

__ADS_1


Semoga dengan kepindahanku, bisa membuat semuanya lebih baik dan adil. Baik untuk ku dan Adil untuk istri baru bapak.


__ADS_2