
"Yanti"
Aku sedikit terkejut ketika membuka pagar hendak membuang sampah, ada seseorang yang memanggilku.
"Eh iya, kenapa kak?"
Ternyata istri kakak iparku.
"Ada indomie goreng gak?"
Aku menarik nafas sejenak.
"Kami gak jualan kak, tuh di ujung ada warung" aku menunjuk sebuah rumah yang berjualan sembako.
"Aku gak mau beli, kan aku mau minta kamu"
"Maaf kak, ga ada juga. Anak anak gak boleh makan indomie sama ayahnya. Masuk dulu ya kak, mau masak".
Aku langsung menutup pintu pagar, walaupun aku masih mendengar suaranya memanggilku. Masa bodo, kutulikan saja telingaku.
Sudah satu minggu kami pindah. Dan satu minggu ini pula istri kakak iparku itu terus terusan datang. Kadang minta bawang, minta kecap, dan kali ini minta indomie. Dipikirnya di rumahku warung kali ya.
Aku sudah mengadu pada Bang Handi. Kata bang Handi kunci saja terus pintu. Kakak iparnya yang nomor dua itu memang agak aneh dan unik.
Sudah pernah kan aku cerita kalo rumah kami bertetanggaan dengan saudara saudaranya Bang Handi. Rumah kami berada di tengah, karena bang handi anak ke tiga. Saudara bang Handi nomor satu tidak tinggal satu daerah dengan kami, tapi tinggal di perumahan elit lainnya.
Jadi, rumah nomor satu di berikan kepada ibu sambungnya Bang Handi, kemudian kakak ke duanya bang Handi, rumah nomor tiga milik bang Handi, keempat dan kelima masing masing milik adik nya Bang Handi. Karena adik yang nomor lima belum menikah, maka rumah miliknya di kontrakan ke orang lain, dan adiknya bang Handi masih tinggal dengan sang ibu yang merupakan ibu sambungnya bang Handi.
Bang Handi sangat hormat dengan ibu sambungnya. Tapi biar bagaimanapun, tetap masih ada perlakuan berbeda yang di tampak kan sang ibu antara bang Handi dan dua adik nya. Dulunya bang Handi suka curhat dengan perlakuan sang ibu. Tapi lama kelamaan, bang Handi sudah terbiasa, bahkan sekarang terkesan cuek.
__ADS_1
"Yang penting, jangan usik istri dan anak anakku"
Itu yang dulu pernah di ucapkan bang Handi ketika kakak nomor duanya mengadu tentang ibu sambung mereka.
Dan memang benar, ibu mertua tidak pernah berbuat aneh aneh padaku. Bahkan terkesan sungkan padaku. Kata kakak ipar keduaku, itu karena orang tuaku kaya, si ibu gak mau cari masalah dengan keluargaku.
Memang beda sih perlakuan mertuaku terhadap aku dan istri kakak iparku. Jika aku datang berkunjung, anak anakku dijamu dengan baik. Beda jika anak kakak iparku yang datang. Mertuaku cenderung marah dan menyuruh mereka pulang.
Aku pikir dulunya karena kami tinggal jauh, sehingga jika kami datang, beliau senang. Tapi ketika kami sudah pindah rumah dekat dengan beliau, perlakuan mertua dan adik adik iparku tetap baik ke aku dan anak anak.
Dan baru dalam berapa hari ini aku tau alasannya.
Istri kakak iparku pemalas, anak anaknya suka minta makan di rumah neneknya. Rumah mereka berantakan karena malasnya si istri membersihkan rumah. Suka minta gula, garam dan semacamnya ke rumah mertuaku yang sekarang juga sudah ku alami.
Kata mertuaku dua hari yang lalu ketika mendengar ceritaku.
"Tolak aja yan, di tega tegain. Keenakan klo di ikuti terus"
"Kalian baru seminggu, mama ini sudah berapa tahun tinggal sampingan gini. Katanya sih Leni tu agak sedikit stress"
"Serius ma?"
"Mama kandungnya juga stres, mungkin keturunan itu. Di tambah lagi si Hamdi gak kerja"
"Kak Hamdi gak kerja ma. Kan kerja sama julak Harbi?"
"Suka masuk siang, marahlah kakaknya. Mama juga marah kalo semaunya gitu."
"Jadi di berhentikan?"
__ADS_1
"Gak, di SP aja katanya. Di suruh rajin rajin dulu masuk kerja. Baru diangkat lagi di kantor. Sekarang di suruh jaga ponton aja dulu".
"Tapi tetap di gaji kan ma?"
"Di gaji, tapi leni kan gitu. Gak bisa pegang uang. Hamdi juga, klo habis gajian, boros beli ini itu. Tengah bulan, habis sudah uangnya, baru lirak lirik ke rumah mama"
Aku hanya terkekeh mendengar cerita mertuaku.
"Mama ni juga cuman dapat bulanan kan dari kantor. Di tambah uang kontrakan rumahnya Hasbi. Ya itulah mama cukup cukupkan. Kalo mereka tiap hari numpang makan juga sama mama ya gak cukup. Anaknya aja sudah empat."
Lagi lagi aku hanya tersenyum.
"Hati hati kamu yanti, nanti si leni bakalan kerumahmu terus. Minta ini itu, buntutnya nanti pinjam uang. Kalo gak di pinjamin, di ceritakan kemana mana kalo kita tu pelit"
"Kalo pas kerumah minta makanan dan kami ada, ya yanti kasih ma, kalo gak ada ya gak dikasih"
Aku bicara sambil tertawa kecil.
"Kalo sekali kamu kasih, bakalan minta terus itu".
"Yanti mau mandikan abak anak dulu ya ma. Sudah sore"
Aku pun memutus hibah kami sore itu dengan langsung membawa kedua anakku untuk pulang dan mandi.
Sore itu kami berhibah di rumah anak keempat di sebelah kiri rumahku, karena memang mertuaku lebih sering berada di rumah anak pertamanya itu di siang hari. Selain karena menantunya baru saja melahirkan tiga bulan yang lalu, katanya juga supaya ga bosan di rumah terus. Padahal di rumah adik iparku itu, mertuaku pun berada si rumah saja dan menjadi baby sister untuk cucunya.
Aku selalu ingat pesan bang Handi.
"Kalo mereka cerita apapun, dengarin aja. Jangan di komentarin yang berlebihan. Jadi pendengar yang netral aja".
__ADS_1
Dan itulah yang selalu kulakukan. Dan kadang kala aku malah menghindar jika di ajak ke rumah adik iparku dengan berbagai macam alasan.
Heemmm... Kini cerita kehidupanku semakin berwarna dan menarik. Dan aku pun mulai mengenal kehidupan di luar kehidupan keluarga besarku dulu.