
"Bang.."
"Heemmm "
Bang Handi yang sibuk bermain game hanya menjawabku sekilas.
"Baru kali ini ibu tu merasakan dunia luar"
Bang Handi menghentikan gerakan tangannya dan menatapku sekilas.
"Aih, kalah kan"
"Emang salah ibu abang kalah?"
"Maksudnya apa nih merasakan dunia luar?"
Aku duduk disamping Bang Handi,melingkarkan lengan kananku ke lengan kiri Bang Handi sambil mengelusnya menggunakan tangan kiriku.
"Nanti abang pengen lho ya ini"
"Ih, di elus aja kok"
Bang Handi terkekeh dan kembali menarik tanganku yang tadi kutarik karena ucapannya.
"Jadi, apa nih istriku tersayang"
"Ter? berarti ada yang lain dong?"
"Okey, di ralat. Istriku sayang??"
Aku tertawa sambil mencium pipi kiri bang Handi. Beginilah kami berdua jika kedua buah hati kami sudah tertidur. Kadang kala, Bang Handi pun mengajakku "bermain" di ruang tamu, ruang tivi atau di mana pun. Katanya mumpung anak anak masih kecil. Inilah juga salah satu kebiasaan baru kami yang dulu tidak pernah kami lakukan.
"Jadi?" Bang Handi kembali bertanya.
"Waktu tinggal di rumah lama kan ibu jarang interaksi sama tetangga. Nah, disini ibu sering ke warung di ujung. Mulai kenal sama ibu ibu di komplek sini"
"Hubungannya dengan dunia luar apa?"
"Ih abaaaannggg.." Aku memukul bang Handi.
"Serius, abang nanya. Hubungannya apa?"
"Maksudnya ibu tuh, ibu mulai liat gimana kelakuan emak emak yang di tinggal suaminya kerja. Trus masalah masalah rumah tangga mereka".
"Emang masalah rumah tangga di omongkan juga?"
"Iya, pada curhat sambil duduk duduk"
"Ibu juga?"
"Enggaklah, ngapain ibu cerita cerita. Masalah tempat tidur juga diomongin bang".
"Nah, klo masalah di kamar, ibu cerita aja kalo abang tu kuat semalaman".
"Trus? Kalo ada ibu ibu itu yang naksir abang?"
"Ya, tergantung kamu, mau punya teman di rumah apa gak?"
"Teman... Madu kale?"
"Mau Gak?" Bang Handi menaik turunkan alisnya menggodaku.
"Kusunat, kupotong habis punya abang"
Bang Handi tertawa sambil memeluk ku erat.
"Kamu satu satunya buat abang. Abang gak akan menduakan kamu"
"Gombal.. Eh bang.. Istri itu kan dari tulang rusuknya si suami nih. Iya kan?"
"Hmmm.. kenapa?"
"Wanita yang lebih dari satu kali menikah itu berarti dari dua tulang rusuk dong"
Bang Handi lagi lagi tertawa.
"Abang gak paham, nanti lah kita tanya ke ustad ya"
"Tulang rusuk abang kira kira ada buat wanita lain gak ya bang"
"Ada, buat madunya ibu nanti"
Sebelum aku menjawab bang Handi, dia sudah lebih dulu membungkam mulutku dengan mulutnya. Dan taulah yang terjadi selanjutnya kan???
###############
"Tadi Kak Izal ada telpon bu. Nanyain anak anak".
Pagi ini, ketika sarapan bang Handi membuka perbincangan kami.
__ADS_1
"Kenapa ga telpon ibu langsung?"
"Katanya gak tau moodmu. Lagi bagus apa gak".
Aku melempar tisu ke bang Handi yang bicara sambil tertawa mengejekku.
"Mau ajak anak anak jalan bilangnya. Kangen sama si duo A"
"Cuman anak anak?"
"Kamu mau juga ikut?"
"Gak diajak"
"Sama bapak juga katanya. Kainya kangen cucu cucu".
Aku terdiam.
"Ogah, kalo sama istri baru. Gak ibu ijinkan anak anak".
"Abang juga sudah tanya ke Kak Izal. Katanya cuman berdua bapak. Nanti ketemuan juga sama kak Fian".
"Anak anak di jemput kesini?"
"Gak, abang yang antar ke rumah bapak. Boleh gak? Klo boleh, siapkan perlengkapan anak anak"
"Sendirian dong ibu di rumah"
Aku masih tidak rela jika di tinggal, tapi gengsi jika meminta ikut.
"Nanti abang langsung pulang. Kan enak, berduaan aja di rumah".
Bang Handi mengedipkan matanya padaku.
"Terus anak anak gimana pulangnya? Di jemput abang lagi?"
"Gak lah, kan bisa di antarkan Kak Izal".
"Kenapa gak kakaf juga yang jemput kesini?"
"Tadi kakaf tanya, aku ada niatan mau keluar rumah gak? Kalo iya, minta bawakan si duo A.. Kalo gak, ya kak Izal yang kesini jemput".
"Emang abang mo jalan?"
"Iya, kan mo beli keran air buat di kolam. Rusak kerannya"
"Emang di dekat sini gak ada yang jual?"
"Gak usah, abang aja yang antar. Cepat pulang tapi ya".
"Pastilah, kan mo buat ade lagi buat Azka".
"Ogah !"
Aku pun langsung beranjak menjauhi bang Handi untuk mempersiapkan perlengkapan kedua anakku.
###########
Aku setengah tertidur ketika mendengar suara pintu di ketuk. Jelas bukan bang Handi. Karena bang Handi memiliki kunci rumah sendiri.
Kupertajam pendengaranku. Dan benar, ternyata istri kakak iparku yang mengetuk pintu seperti orang kesurupan. Rupanya pagar rumah tadi tidak terkunci, sehingga bisa masuk sampai kedepan pintu rumahku.
"Ga ada orang mak, kan mobilnya om Handi gak ada"
Kudengar suara anak laki lakinya. Rupanya istri kakak iparku datang berdua anaknya.
"Ada itu ibu yanti di dalam. Kalo jalan semua, pasti pagarnya di kunci rapat"
"Sudahlah mak, mungkin si ade lagi tidur"
"Kamu kan lapar. Kita belum dapat makanan"
"Mamak masaklah, jangan minta terus begini. Nenek aja sudah marah mak"
"Mamak malas masak. Kan ada saudara bapakmu"
"Tapi gak enak mak, malu"
"Kalo kamu malu, ya sudah. Gak usah makan kamu!"
"Beli aja mak. Minta uangnya!"
"Ini mama mau minta sama ibu yanti"
Aku mengelus dada mendengar perdebatan mereka di depan pintu rumahku.
"Mamak gak punya uang? Kan sudah di kasih bapak?".
"Sudah habis, mamak bayar hutang sama beli quota"
__ADS_1
"Aku pulang, mamak tunggu aja di sini sampai ibu yanti atau om Handi datang"
"Kalo mamak dapat uang, gak mamak bagi kamu"
Kudengar kak Leni istri kakak iparku berteriak pada anaknya yang kuyakin sudah keluar dari pagar.
Hening, tak ada lagi suara gedoran pintu. Aku menarik nafas lega. Tapi kembali terkejut karena suara gedoran pintu terdengar dari arah belakang yang menuju kekolam renang dan dapur. Untung aku bersembunyi di balik tembok ruang tamu, jika tidak, jelas terlihat karena pintu belakang tidak tertutup, hanya pintu teralis besinya yang terkunci
Aku diam tanpa suara sambil berbaring manis di sofa ruang tamu. Masa bodoh, biar saja sampai capek sendiri.
"Yanti, aku tau kamu di rumah. Buka dong, aku lapar nih"
"Yantiiiiii... Jangan pelit begitu jadi orang"
"Yantiiii.. Aku ini juga keluargamu"
Aku tersenyum sendiri mendengar semua ucapannya untukku.
Tak lama kudengar, suara pagar terbuka. Rupanya bang Handi sudah pulang.
"Istrimu di rumah?"
"Iya, kenapa kak?"
Kudengar suara bang Handi sambil menutup pintu pagar.
"Tuli ya dia, aku teriak teriak dari tadi gak dengar. Sengaja dia itu"
"Kenapa cari yanti?"
"Mau ngobrol aja"
"Aku sudah ketemu selva, sudah kukasih uang buat beli makanan. Kakak pulang sekarang"
"Kok ke selva kasihnya?"
"Nanti kakak belikan quota, gak di belikan makanan. Sudah kakak pulang, aku mo kunci pagar"
"Bilangin istrimu, jangan begitu sama aku"
"Kakak juga jangan begitu sama istri aku"
Kuintip sedikit dari gorden. Kulihat bang Handi mengunci pintu pagar dan tersenyum begitu melihat wajahku yang mengintip di kaca.
"Buka !"
bang Handi menyuruhku membuka pintu rumah.
"Kunci abang mana?"
Bang Handi pun mengeluarkan kunci rumah miliknya dan membuka pintu.
"Kenapa gak dibuka?"
"Malas, kakak iparmu kan aneh"
"Bukan itu"
Bang Handi mengunci pintu rumah kembali.
"Jadi apa?"
"Bajunya. Kok gak dibuka? Tadinya kupikir mo langsung wik iwik begitu datang"
Aku memukul belakang bang Handi sambil naik ke atas pundaknya.
"Nyatanya ketemu seseorang ya di depan pintu rumah. Abang sih, gak kunci pagar"
"Abang pikir cuman ngantar anak anak aja. Gak nyangka juga kan ada yang nongol"
Bang Handi terus menggendongku menuju ruang televisi yang sekalian jadi ruang keluarga kami.
"Tutup pintu belakang bang!"
"Gak bisa lagi mereka masuk, kan pagar sudah dikunci. Mo loncat tembok?"
"Siapa tahu, nekat pake tangga"
"Ya rezeki mereka lah kalo liat kita lagi main kuda kudaan"
"Emang mo main kuda kudaan?"
"Eh, gak mau ya? Enam sembilan mau? Atau kangguru? Enak lho yang gaya kangguru"
"Nanti ngeluh, pinggang ma kakinya pegel"
"Tapi, hari ini mo coba yang lain ah, mo coba di dapur dekat kompor"
"Abaang ih, aneh aneh aja"
__ADS_1
Itulah suamiku. Sejak kami tinggal di rumah sendiri, fantasi liarnya semakin menjadi. Tapi aku juga suka. Habisnya, enaaakkkkk hahahahaha.