Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#24


__ADS_3

Didalam menjalani rumah tangga, yang namanya konflik itu adalah hal yang biasa.


Nih filosofi para emak emak yang suka duduk di warung sayur.


Kalo rumah tangga itu adem ayem aja gak da bertengkarnya. Gak seru ! Gak ada bumbu bumbunya. Lama lama bisa hambar tu rumah tangga. Muncul deh orang ketiga.


Bukannya orang ketiga itu muncul dulu baru ada pertengkaran ya?


Udahlah ngapain aku mikirin filosofi para emak emak itu.


Bagiku, sebisa mungkin untuk menghindari konflik. Jika memang konflik itu harus ada.


Ya, segera di selesaikan.


Eh, emang rumah tanggaku dan Bang Handi ada konflik? Amit amit jabang bayi (sambil ketuk ketuk lantai)


"Assalamualaikum.. Eh, udah rapi aja sayang sayangnya ibu".


Ketika aku memasuki rumah. Bang Handi dan kedua buah hati kami sudah selesai mandi dan sudah duduk manis di depan televisi.


"Waaalaikumsalam. Kok lama belanja sayurnya? Ada berita hot lagi?"


"Biasalah.. Emak emak komplek. Mau pulang, ada aja yang ngajakin ngobrol".


"Apa berita hot minggu ini?"


"Ayah ih, hobi juga bergosip"


"Katanya bukan gosip, tapi kenyataan?"


"Ayo anak anak makan dulu. Mau ketemu kai kan hari ini?"


Aku menyiapkan nasi kuning yang kubeli di tempat mamanya bang Handi tadi pagi sebelum ke warung sayur.


Ya, sekarang ibu mertuaku mengisi waktunya di pagi hari dengan berjualan nasi kuning.


Di hari kerja, aku selalu membuat sarapan sendiri buat bang Handi dan anak anak.

__ADS_1


Berbeda di hari minggu.


Bagiku hari minggu adalah hari bebas memasak.


Jadi di hari minggu, kami mulai dengan nasi kuning nenek samping rumah. Makan siang di rumah bapak dan di tutup makan malam di cafe Kakaf. Atau makan malam bersama keluarga besarku.


Dan setiap minggu, adalah jadwal kami untuk turun gunung ( itu katanya kakaf)


Padahal setiap harinya aku selalu turun gunung untuk mengantar anak anak sekolah.


Dengan bergulirnya waktu, Azwa sekarang sudah duduk di kelas tiga sekolah dasar. Dan azka di taman kanak kanak.


Tak terasa pula, kami sudah lima tahun tinggal di rumah ini.


Hubunganku dengan istri baru bapak? Aku malas menceritakannya.


Tapi kami sekarang sudah berteman. Aku sudah menerima dengan lapang dada bahwa bapak memiliki istri lagi.


Hubunganku dengan istri bapak seperti teman sekelas biasa di sekolah. Akan bertegur sapa bila berpapasan atau bertemu di kantin. Tapi kami bukan dua sahabat yang saling berbagi cerita.


Kata Bang Handi lebih baik seperti itu. Yang penting tetap saling menghormati dan menghargai.


Tetap seperti dulu. Harmonis dan tetap dimanja.


Kabar terbaru hanya datang dari Kakaf yang akan segera mengakhiri masa sendirinya. Aku yang paling antusias dan bahagia. Aku ingin Kakaf memiliki pendamping hidup untuk menemaninya kelak di saat tua.


"Ade, sini makan dulu. Tu kakak sudah makan".


Aku pun ikut duduk di depan televisi bersama Azka. Tak lama Azwa dan Bang Handi pun ikut duduk di depan televisi sambil membawa piring masing masing


"Kok pada makan di depan tivi semua?"


"Rame kartunnya bu, Ayah aja suka.. Iya kan Kak?"


Azwa hanya mengangguk. Mulut asyik mengunyah makanan. Mata fokus ke televisi.


Aku hanya menggeleng. Biarlah, toh cuman di hari minggu mereka bebas menonton televisi ataupun bermain hape. Di hari sekolah, aku memberikan batasan waktu untuk mereka berdua.

__ADS_1


Termasuk Bang Handi. Jika malam hari menemani anak anak belajar, maka aku ataupun bang Handi dilarang untuk bermain gadget. Terkecuali memang ada sesuatu yang penting.


Itulah kesepakatan yang kami buat berdua.


Di depan anak anak, fokus pada mereka. Tidak ada kegiatan lain. Segala sesuatu pekerjaan, harus selesai sebelum waktu kami bersama anak anak. Seperti pagi ini, tidak ada hape diantara kami ber empat.


"Jadi, apa berita hot minggu ini di komplek bu?"


"Ih ayah, masih aja penasaran"


Jika di depan anak anak, aku memanggil bang Handi dengan sebutan ayah.


"Biar nanti kalo pas tugas ronda. Ayah udah tau berita. Gak ketinggalan"


"Emang bapak bapak kalo ronda pada gosip juga ya?"


"Kadang, kalo memang heboh betul".


"Nanti ibu cerita. Jangan di depan anak anak".


"Nanti ayah drop aja ya kerumah bapak. Ayah mo kerumah teman. Mo bahas kerjaan. Tapi ayah turun dulu kok, cuman gak lama".


Aku hanya mengangguk.


Belum ku tahu kerjaan apa yang dimaksud bang Handi. Biasanya jika sudah pasti, baru bang Handi memberitahuku.


Sejak anak anak mulai sekolah. Bang Handi mulai mencari pekerjaan tambahan bersama beberapa temannya. Katanya lumayan, buat tambahan uang sekolah anak anak. Uang dari honor di kantor hanya cukup untuk biaya di rumah termasuk bayar listrik dan air. sedangkan bapak sekarang sudah tua, sudah tidak lagi mengambil proyek proyek pemerintah. Bapak sekarang hanya membangun rumah baru kemudian di jual.


Bahasa kerennya itu Jual Beli Rumah


Keuangan bapak pun tidak seperti dulu lagi yang otomatis juga berpengaruh pada keuanganku.


Donatur terbesarku sekarang adalah Kakaf. Tapi aku juga tau diri. Aku ingin Kakaf juga bisa menabung buat dirinya sendiri.


Karenanya sekarang aku juga mengikuti jejak mertuaku. Aku membuat beberapa makanan kecil yang kutitipkan setiap paginya pada mertuaku. Lumayan, buat uang jajan anak anak.


Dengan keadaan rumah tangga kami sekarang ini, aku sangat bersyukur. Anak anak juga tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan. Sejak mereka kecil kami berdua berusaha memberikan pengertian kepada anak anak bahwa segala sesuatu itu harus ada prioritasnya. Mana yang paling di butuhkan, itulah yang harus dibeli terlebih dahulu. Syukurnya, anak anak mengerti.

__ADS_1


Dan kakak kakakku pun mendukung dengan tidak memanjakan kedua buah hati kami.


Apa komentar emak emak di warung ya kalo tau tentang rumah tanggaku?


__ADS_2