Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#16


__ADS_3

"Bismillahirrahmanirrahim"


Kuucapkan doa itu ketika aku membuka kunci pagar rumah kami. Azwa langsung berlari memasuki halaman rumah. Bang Handi yang menggendong Azka mengikuti langkahku dari belakang.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumcalam ibuuu" Azwa yang lebih dulu masuk kedalam rumah menjawab salamku. Dan aku pun membalas putri pertamaku dengan senyuman.


"Kita tidul di sini ibu?" Azwa bertanya sambil berkeliling di seluruh rumah.


"Iya, kakak suka?"


"Suka, kakak mau belenang ya ibu"


"Iya, nanti kalo ade sudah bangun, kakak ajak ayah berenang ya".


Azwa mengangguk gembira sambil berlari ke arah ayahnya yang sedang menutup pintu pagar setelah mengeluarkan barang barang dari bagasi mobil.


Inilah hari pertamaku di rumah kami sendiri. Rumah pemberian dari kakak tertua Bang Handi. Bukan tanpa alasan kami mendapatkan rumah ini. Dikarenakan rumah peninggalan almarhum ayahnya Bang Handi di jual oleh kakak tertuanya. Dari hasil penjualan, di bangunkanlah rumah untuk Bang Handi dan ke empat saudara lainnya.

__ADS_1


Rumah mungil yang hanya memiliki dua kamar tidur itu pun sudah kami renovasi. Rumah yang dulunya satu tingkat, sekarang menjadi dua tingkat dengan tiga kamar tidur dan satu gudang.


Iya, aku paling tidak suka barang barang yang berantakan tidak pada tempatnya. Karena itu aku maunya setiap rumah ada gudang yang bisa kumasukin barang barang. Biarlah di dalam gudang barang barang itu tercampur jadi satu, yang jelas di dalam rumah bersih dan rapi.


Padahal mertuaku sudah berulang kali memberitahuku. Setiap rumah yang memiliki balita pasti akan berantakan. Belum punya balita kalo belum berantakan.


Tapi bagiku, ada balita atau tidak ada balita, rumahku harus tetap bersih dan rapi. Karenanya aku membuatkan satu kamar khusus untuk bermain anak anakku. Mainan mereka tidak boleh keluar dari kamar itu. Kalo di pikir pikir, kejam Juga aku sebagai seorang ibu.


Sisa lahan di samping rumah dibuatkan bang Handi kolam renang kecil. Karena itu Azwa sangat senang jika tiap minggu kami ajak kemari. Karena tentu saja Azwa ingin bermain air di kolam renang kecilnya.


Di Karenakan rumah ini awalnya di buatkan oleh kakak tertuanya bang Handi, maka tetangga kanan kiri ku adalah kakak ipar dan ade iparku. Ya, di sini aku hidup dan bersosialisasi dengan mama dan saudara saudaranya suamiku. Dan mulai hari ini, ceritaku mungkin tentang mereka. Dan semoga cerita mereka tidak mengganggu cerita rumah tanggaku.


"Sudah, tenang aja. Padahal tadi di Salva udah lirik lirik lho bu"


" Oh ya? Terus?"


"Kukunci aja langsung"


"Ayah ih, nanti ngadu lho ke bapaknya"

__ADS_1


"Biarin, habis kalo mainan gak ingat waktu. Kalo bapaknya nanya bilang aja lagi beres beres trus si ade juga tidur kan?"


"Terserah ayah ajalah. Makanya kemaren kemaren itu ibu minta tembok tinggi sama di pagar. Supaya enak privasi kita. Gak ada yang nyelonong masuk masuk aja".


"Iya, ayah juga gak mau pindah kesini kalo belum di pagar seperti kemaren. Bahaya juga buat anak anak. Biar ini perumahan, tetap aja motor motor itu pake ngebut semua".


"Ibu masak nasi dulu ya yah. Si Ade kalo bangun pasti langsung minta makan"


Aku pun beranjak keluar kamar meninggalkan Bang Handi yang langsung tidur di samping Azka dan Azwa yang asyik memainkan tablet pemberian Kakaf kemarin sebelum kami pindah.


Kata kakaf sih, biar enak kalo video call sama azwa, layarnya gede, mukanya gede juga. Seperti kami tinggal di kota yang jauh saja. Padahal masih satu kota cuma beda kecamatan.


Gimana kabar rumah setelah kutinggal hari ini?


Tidak ada satu orang pun kakak kakakku yang hari ini telpon atau chating padaku. Bahkan grup keluarga kami pun sepi. Biasanya ada saja yang memasukan video video lucu dan aneh yang kemudian menjadi bahan obrolan kami. Mungkin mereka sudah membuat grup keluarga baru tanpa diriku.


Hmmm.. Jangan berburuk sangka dulu.. Aku yang memutuskan untuk pergi, jadi aku mulai sekarang harus bisa mengatasi kesendirianku tanpa keempat kakak laki lakiku. Mungkin sekaranglah saatnya aku menopangkan diriku pada suamiku. Memegang tangan suamiku seutuhnya. Belajar untuk menjadi diriku sendiri.


Bismillahirrahmanirrahim..

__ADS_1


Semoga kehidupanku di rumah kami sendiri ini bisa menambah kebahagiaan kami.


__ADS_2