Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
POV AUTHOR


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Kandungannya yang semakin mendekati hari melahirkan membuat yanti sering kali merasa sedih. Kerinduannya pada almarhum ayahnya anak anak pun semakin menjadi. Yanti kembali sering menangis kerap kali memikirkan jika ia hanya melahirkan seorang diri tanpa seorang suami.


Azwa dan Azka kembali bersamanya walaupun kerap kali Andi dan istrinya masih menculik mereka.


Takut jika Yanti kembali depresi, keluarga memberikan perhatian lebih pada Yanti. Tapi ternyata mereka salah, Yanti melampiaskan kesedihannya melalui sholat2 sunnah. Acapkali tidurnya yang mulai tidak nyenyak dibawanya untuk sholat malam. Humaira istri Izal lah yang selalu menjadi pembimbingnya.


Izal pun sekarang lebih rajin melaksanakan sholat walaupun sifat usilnya masih tidak berubah. Kadang, istrinya pun dijadikannya sebagai bahan candaan. Beruntunglah Izal memiliki istri seperti Ira. Yang sabar dan selalu tersenyum.


Suasana rumah pun kembali hidup. Rutinitas berkumpul setiap minggu kembali dilaksanakan. Bapak kembali tersenyum melihat anak cucunya berkumpul seperti hari ini.


"Pak, ingat keluarga abah Rasyid?"


Alif berbisik pada bapak.


"Yang bertemu di pesantren?"


Alif mengangguk.


"Kemaren Rahim, anak tertuanya yang teman Alif telpon pak. Katanya Rahman mau melamar ade."


Bapak hanya diam mendengarkan.


"Ade pasti menolak pak".


"Rahman itu yang dipanggil abang Azka, abi?"


Alif kembali mengangguk.


"Bukannya kemarin katanya mau nikah sebulan setelah Izal dan Ira?"


"Menurut cerita Rahim, Rahman membatalkannya. Karena Rahman jatuh cinta pada ade. Bahkan juga jatuh cinta pada Azka dan Azwa".


"Kasian calon istrinya kemaren".


"Rahman juga menemukan bukti kalo calon istrinya itu menjadi simpanan pejabat pak".


"Astagfirullah. Jadi pernikahannya dengan Rahman mau dijadikannya tameng?"


"Ya, mungkin saja pak"


"Keluarga abah Rasyid tidak akan melamar sekarang. Tapi tunggu setelah ade melahirkan. Masalahnya sekarang di ade pak. Bagaimana caranya kita memberitahukan ade tentang niat mereka".

__ADS_1


Bapak menarik nafas panjang.


"Bapak akan bicara dengan Ira. Mungkin Ira bisa mengajak ade bicara"


Alif kembali hanya mengangguk.


Pembicaraan bisik bisik pun terhenti. Alif sebelumnya sudah memberitahukan Andi tentang hal ini sebelum bicara dengan bapak.


Tugas Alif mengajak bapak bicara. Dan tugas Andi memberitahukan Fian dan Izal.


"Menurut Izal ade tidak akan terima kak, terlalu cepat. Belum satu tahun ayahnya Azwa meninggal".


"Anak-anak perlu figur ayah zal. Kamu lihat, bagaimana Azka lengketnya pada Rahman. Padahal baru bertemu."


"Izal paham kak. Cuman menurut Izal, ini terlalu cepat. Ade sampai depresi karena kehilangan suami. Tapi belum setahun sudah menikah lagi. Apa kata orang nanti kak?"


"Ade perlu figur yang bisa menyayanginya zal"


"Apa kita kurang menyayangi ade?"


"Zal, apa kita bisa menemani ade tidur?"


"Izal rasa, perempuan lebih tahan tidak disentuh dibanding kita laki laki. Ade juga pasti akan fokus pada bayinya nanti"


"Izal paham kak, tapi biasanya perempuan itu lebih mudah curhat dengan perempuan lainnya. Jadi Izal yakin seratus persen, kalo ade akan menolak".


Alif datang ikut bergabung bersama adik adiknya.


"Bapak bilang, istrimu nanti yang akan berbicara pada Ade, Zal".


"Kalo itu Izal setuju saja kak. Izal tau, Ira bisa mengontrol suasana hati ade. Tapi keputusan tetap ditangan ade".


########


Malam harinya Izal mengajak istrinya berbicara. Memberitahukan tentang niat keluarga abah Rasyid.


"Wah, Ira senang kak, klo Ade berjodoh dengan bang Rahman. Bang Rahman itu baik, penyayang juga".


"Tapi ayahnya anak anak belum setahun meninggal de. Apa kata orang nantinya"


"Untuk apa suamiku yang katanya ganteng ini mendengarkan kata orang lain? Gak percaya sama ketetapan Alloh? Jika Alloh sudah memutuskan, tiga bulan setengah meninggal pun bisa menikah lagi. Asal masa iddah nya sudah lewat".


Kak Izal hanya bisa diam.

__ADS_1


"Serahkan pada Alloh kak. Ira akan bicara pada ade. Selanjutnya biarkan menjadi rahasia Alloh"


Izal tetap diam.


"Kakak gak rela ade menikah lagi?"


"Bukan seperti itu. Siapa yang tidak mau ade bahagia setelah kesedihannya selama ini. Aku hanya ragu".


"Kakak tau kan bang Rahman itu sepupu Ira? Apa kakak tidak percaya dengan penilaian Ira?"


"Kalo percaya kamu, musyrik dong"


"Ih, suamiku. Pinter deh sudah"


Ira memeluk suaminya dari samping.


"Jangan peluk-peluk. Aku mau tutup cafe dulu".


"Ya udah kalo ga mau dipeluk. Ira peluk guling aja"


"Biasanya, kalo perempuan ngambek gitu lagi hamil".


"Apa sih kak?"


"Merah kan mukanya? Beneran lagi hamil?"


"Kan kakak sendiri kemarin bilang. Tunda dulu sampai ade melahirkan. Nanti gak ada yang bantu ade jagain bayinya."


"Hehehehe lupa. Padahal aku sendiri ya yang keluarinnya di luar"


"Kakak, bicara apa sih?"


Ira menutup kedua telinganya mendengar ucapan Izal. Izal hanya terkekeh geli melihat wajah malu istrinya.


"Tapi, siapa tau aku pernah khilaf. Keluarinnya di dalam. Kan bisa jadi tuh?"


"Iih, kakak. Ira gak mau dengar!"


Izal kembali tertawa seraya memberikan ciuman bertubi tubi pada wajah dan pucuk kepala istrinya.


"Check Cafe dulu ya sayang. Tidur saja duluan. Jangan tunggu aku. Nanti kubangunkan kalo ade kecilku terbangun".


Ira memukul pelan lengan suaminya yang super usil itu. Ira mencium tangan Izal.sebelum akhirnya Izal keluar dari kamar mereka.

__ADS_1


Ayoo.. Yanti terima Rahman gak yaa?


__ADS_2