Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#23


__ADS_3

"Untung aja bapak dan kakak kakak gak maksa kita buat pindah lagi ya bu".


Bang Handi membelai kepalaku yang bersandar di dadanya setelah kami menyelesaikan permainan naga mencari sarang yang penuh dengan keringat.


"Emang kalo dipaksa, abang mau pindah?"


"Kan kita udah bicarakan ini sayang"


"Mereka gak akan memaksa bang. Gak tau besok besok".


Aku tertawa kecil sambil menggigit pelan dada bang Handi.


"Gak usah gigit gigit, abang balas lho nanti"


"Baaangggg"


Aku merengek manja sambil menaikkan badanku ke atas badan bang Handi.


"Kenapa sayang?"


Bang Handi mengecup keningku yang tepat berada di depan matanya.


"Berat gak bang?"


Aku sedikit menekankan badanku ke badan bang Handi.


"Gak ada apa apanya berat kamu nih. Makanya abang sanggup gendong kamu seperti kangguru".


"Emang ibu kurus ya bang"


"Gak kok, pas aja. Kalo dibanding kak Mia, kurus banget malahan".


"Di dengar kak Mia, kita ga diantarin kue lagi lho bang"


Bang Handi tertawa sambil mengelus punggungku.


"Tadi mo ngomong apa?"


"Ibu lega bang. Udah selesai semuanya"


"Belum selesai lah sayang"

__ADS_1


"Kok belum bang?"


"Kamu belum ikhlas untuk terima nenek barunya anak anak"


Aku menarik nafas. Turun dari badan bang Handi dan langsung memunggunginya.


"Tuh kan. Reaksinya langsung begitu"


Bang Handi memelukku dari belakang.


"Dengarin abang ya sayang"


Bang Handi meletakkan kepalanya di leherku sambil tetap memelukku.


"Kamu tau kan mama yang sekarang ini bukan mama kandung abang. Jadi abang mengerti posisimu dan paham perasaanmu sayang".


Aku menolehkan kepalaku dan secepat kilat bang Handi mengecup bibirku. Aku baru sadar, posisi bang Handi pun sama sepertiku. Kami sama sama memiliki ibu sambung.


"Cuman bedanya, waktu itu abang gak berani pindah rumah atau lari dari rumah"


"Abang ih, pake nyindir lagi"


"Serius deh sayang. Ikhlas menerima takdir itu akan lebih melegakan buat kita. Abang waktu itu pun seperti kamu. Tapi protes pun semua tetap akan terjadi karena memang sudah di takdirkan akan terjadi seperti itu".


"Bapak tidak pernah terbayang akan ditinggal mama selamanya. Bapak pun tidak pernah ada niat untuk menikah lagi. Tapi takdir berkata lain kan sayang. Jadi, ikhlas lah. Semua akan baik baik saja".


"Kalo nanti ibu meninggal duluan. Apa abang akan menikah lagi?"


"Abang tidak bisa berjanji, karena abang tidak bisa memastikan bagaimana kehidupan kita kedepannya nanti. Sekarang abang balik, jika abang yang lebih dulu pergi, apa kamu akan menikah lagi?"


"Perempuan itu tahan menjanda bang. Laki laki yang gak tahan menduda"


Bang Handi tertawa.


"Jadi kamu berjanji tidak akan menikah lagi?"


"Eh, ga tau bang"


"Nah itulah sayang, kita gak tau bagaimana kedepannya kita nanti. Jangan pernah berjanji untuk sesuatu yang tidak bisa kita ketahui. Karena semua itu kuasanya Alloh SWT".


Aku menggenggam tangan bang Handi yang ada di depan perutku.

__ADS_1


"Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa. Semoga jodoh kita panjang. Kita bisa membesarkan anak anak terus bersama sampai mereka memiliki kehidupan mereka sendiri"


"Amin"


"Dan satu lagi yang bisa kita lakukan sekarang ini sayang"


"Apa lagi bang?"


"Melanjutkan game ke dua. Naganya sudah bangun lagi nih, siap mencari sarangnya".


Aku hanya tertawa geli karena bang Handi menggelitik perutku dan mulai melakukan serangan pemanasan sebelum permainan babak kedua di mulai.


"Bang, kok ga pernah game over ya permainannya".


"Pemainnya kan handal. Udah jago. Gak akan pernah game over sampai babak keberapa pun"


"Emang naganya gak bisa mati ya bang"


"Cuman pingsan. Di cium juga bangun lagi"


"Naganya punya saudara gak bang?"


"Gak, anak tunggal dia".


"Gak ada niat mau cari permainan sarang yang lain tu naga bang?"


"Belum dapat ijin dari yang punya sarang sekarang".


"Ih, abang mau poligami ya?"


Aku setengah berteriak.


"Lho kok abang? Kan yang di tanya si naga. Naga mah cuman jawab pertanyaan aja. Yang nanya kan kamu sayang".


"Awas kalo naga cari sarang baru. Ibu bungkus pake kain kuning ntar tu naga"


"Sayaaanngg, kamu kira benda keramat apa ni naga"


"Dari pada ibu bungkus pake kain putih. Dikubur ntar naganya"


"Sayang ih, jangan ngomong begitu. Ayo dah goyang aja. Cantik eh kalo sayang goyang gitu"

__ADS_1


Setengah cemberut aku pun mengikuti kemauan bang Handi. Dan selanjutnya tidak ada pembicaraan aneh tentang si naga. Yang ada hanya suara aneh pertemuan antara naga dan sarangnya yang membuat kedua pemain pun melambung tinggi ke atap plapon.


Nah lhooo...


__ADS_2