Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#26


__ADS_3

KAKAF POV


Sudah tiga hari ade terbaring di ruang perawatan rumah sakit tempat Handi menghembuskan nafas terakhirnya.


Ade bahkan tidak mengantarkan jenazah suaminya ke peristirahatannya yang terakhir.


Yang di lakukannya hanya menangis, berteriak kemudian tidak sadarkan diri.


Bahkan ketika kedua buah hatinya datang menemuinya, yang di lakukannya bukannya memeluk mereka, tapi malah berteriak histeris. Membuat kedua anak itu ketakutan.


Mentalnya benar benar hancur. Di tinggal Handi pergi untuk selamanya membuat adik perempuanku satu satunya menjadi gila. Ade bahkan berniat melukai bayi di dalam kandungannya.


Kami semua sedih. Kami semua terpukul melihat betapa hancurnya adik perempuan kami.


Istri baru bapak yang dipanggil nenek muda oleh keponakan keponakanku lah yang merawatnya


Liatlah keegoisanmu dulu de.


Dibalas dengan keihklasan merawatmu. Walapun mendapatkan tendangan dan makian bila kamu mulai histeris.


Tapi apa yang dilakukan nenek muda padamu? Dia terus memelukmu sambil membaca berbagai macam doa doa dan memintamu untuk tenang.


Berbagai cara sudah dilakukan bapak dan kakak kakakku untuk memyadarkan ade.


Bapak memanggil seorang psikiater untuk ade. Memanggil seorang ustad untuk merukiyahnya. Tapi semuanya tidak berhasil.


Yang di lakukan ade hanya diam melamun, menangis, berteriak kemudian tidak sadarkan diri.


Itu berlangsung selama berminggu minggu.


Kami memindahkan semua barang barang ade dan anak anaknya kerumah bapak. Ketika ade keluar rumah sakit, kami membawanya kerumah bapak. Lebih mudah untuk kami menjaga ade di rumah bapak. Kami pun takut jika ade kembali kerumahnya, dia akan kembali histeris.


Azwa dan Azka di rawat kak Mia. Mereka masih takut mendekati ibu mereka. Walaupun kadang kala aku juga melihat sorot mata ade merindukan mereka berdua. Tapi kenangan tentang Handi akan muncul ketika ade melihat kedua buah hati nya. Itu yang membuat nya kembali menangis.


Kabar tentang ade yang menjadi gila pun tersebar. Jika kami keluarga artis, mungkin infotainment di tiap televisi akan menayangkan tentang ade dan keluarga kami.


Sahahat sahabat ade datang menjenguk. Teman teman sekolah ade datang menyemangatinya. Tapi semua hanya di anggap angin.

__ADS_1


Ade hanya diam memandangi kedatangan mereka. Tanpa kata.


Tubuh ade semakin kurus tapi perut membuncit. wajah pucat karena tidak pernah terkena matahari. Adikku seperti mayat hidup.


Keinginan ade untuk mati sangat kuat dibanding keinginannya untuk hidup.


Bapak dan Nenek muda rajin memberinya makan walaupun kadang kala di tolak bahkan dibuang.


Mereka dengan sabar merawat ade. Kadang kala kulihat bapak menangis di tengah malam. Nenek mudalah yang selalu mengingatkan bapak bahwa ade pasti sembuh.


Jahat kamu de sudah membuat bapak menangis. Dan aku pun akhirnya ikut menangis juga.


"Ade, ayo makan nak. Kasian si dede di perut kalo gak dikasih makan".


Suara lembut si nenek muda kembali terdengar. Aku yang bersiap untuk keluar rumah kembali masuk. Aku takut ada tragedi lempar melempar piring lagi. Jadi kuurungkan niatku untuk pergi.


Aku ikut kekamar ade walaupun hanya di depan pintu saja. Kulihat ade sedang memandang keluar jendela kamarnya.


"Kenapa?"


Ade bersuara tanpa mengubah arah pandangnya sedikit pun.


"Kenapa mau merawatku?"


"Karena kamu anakku".


Jawabannya nenek muda membuat ade memalingkan kepala dan memandanginya.


"Kami semua sayang sama ade. Kami semua mau ade sehat kembali".


"Kenapa bang Handi pergi? Bang Handi tidak sayang sama ade?"


Mendengar pertanyaan itu kami semua waspada. Jika sudah menanyakan tentang almarhum suaminya. Tidak lama ade pasti akan menangis, kemudian histeris.


Nenek muda mendekati ade dan membelai rambut ade yang semakin panjang.


"Karena Alloh subhannawlohuwataala yang sayang sama ade".

__ADS_1


Kulihat ade mengerutkan dahinya.


"Ade adalah orang orang pilihan Alloh. Hanya orang orang pilihan yang akan mendapatkan cobaan seperti ade ini".


"Alloh tidak akan memberikan cobaan pada umatnya melebihi kemampuan umatnya sendiri"


"Tapi ade tidak sanggup".


Kulihat air mata ade kembali keluar dari kedua matanya.


"Ade sanggup. Alloh percaya bahwa ade bisa melalui cobaan ini. Kami pun. Bapak dan kakak kakak ade semua percaya kalo ade bisa melewati ini. Ade tidak sendirian. Ada kami semua".


Air mata ade semakin deras keluar.


"Maafkan ade ya nek"


Ade memeluk nenek muda


"Ade tidak salah. Kenapa harus minta maaf. Sekarang ade makan dulu. Nenek suapin ya. Kalo nanti ade mau nangis lagi, sudah ada tenaga. Kan sudah makan"


Aku tersenyum mendengar ucapan nenek muda. Tidak salah bapak memilihnya menjadi istri. Dibalik usianya yang muda. Yang seumuran dengan Kak Fian. Ternyata ada sifat keibuan yang di tampakkannya.


Nenek muda pun selama ini selalu sabar menghadapi tingkah bapak dan kami semua. Terutama sikap ade terhadapnya. Anggapan bahwa nenek muda hanya ingin harta bapak saja sudah terpatahkan.


Buktinya selama beberapa tahun ini, ketika keuangan bapak turun. Nenek muda masih tetap mendampingi bapak. Bahkan ketika harus membiayai perawatan ade di rumah sakit selama sebulan. Nenek muda pun dengan sukarela memberikan perhiasannya untuk dijual.


Beruntunglah bapak. Di masa tuanya ada nenek muda yang mendampingi. Beruntunglah ade ada nenek muda yang merawatnya. Dan aku pun juga beruntung. Ada yang membuatkanku sarapan setiap paginya.


"Cari istri makanya kaf..Jadi ga nyusahkan ade sama nenek muda"


Itu yang selalu dikatakan ade padaku dulu sambil cemberut.


Ade, Kakaf kangen bibir monyongmu. Kakaf kangen suara manjamu memanggil kami dengan sebutan anehmu itu.


Cepat sembuh ya de.


Cepat pulih kembali.

__ADS_1


Pulihlah lebih cepat dan bangkitlah lebih kuat.


Kok kayak Tema Hut kemerdekaan yaa??


__ADS_2