
Hari ini abah menugaskanku untuk mengantar beras dan beberapa barang lainnya ke pesantren Abi Abdi sepupu abah yang letaknya lumayan jauh dari kota. Aku pun mengendarai mobil berdua Doni yang juga sepupu merangkap asistenku.
Begitu sampai di pesantren, kami menurunkan barang barang yang kami bawa dibantu oleh beberapa santri laki laki.
Ummi, istri Abi Abdi meminta kami untuk beristirahat di pendopo pesantren sebelum aku dan Doni memutuskan untuk kembali pulang.
"Istirahat dulu. Jangan langsung pulang. Sebentar lagi Ashar. Sholatlah dulu disini, baru pulang".
Aku dan Doni mengangguk tanda menyetujui permintaan Ummi.
Kami pun duduk di balei depan pendopo. Sambil melihat aktivitas para santri yang sudah bersiap menuju mesjid karena sebentar lagi azan ashar akan berkumandang.
Saat itulah mataku melihat ummi berjalan bersama perempuan bercadar yang kuyakini Humaira anaknya ummi dan seorang perempuan lagi yang tidak bercadar.
Entah kenapa, mataku enggan beralih dari perempuan yang terus tertunduk itu. Dia tidak bercadar, wajahnya putih bersih. Hidungnya bangir, tidak mancung tidak juga pesek. Wajahnya nyaman untuk dipandangi walaupun aku tahu memandangi lawan jenis itu dilarang oleh agama. Apalagi di dalam pesantren seperti ini. Tapi aku terus memandanginya sampai mereka hilang dari pandanganku.
Ada yang aneh dari wajah bersih dan putih itu. Matanya. Ya, sekilas aku tadi sempat melihat matanya. Walaupun kami tidak berpandangan langsung tapi aku melihat matanya. Mata itu tidak bersinar. Menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam.
"Ayo ke mesjid. Kita sholat Ashar!".
Aku terkejut ketika abi menepuk pundakku. Aku pun berdiri mengikuti abi menuju mesjid. Rasa penasaranku pada perempuan itu membuatku mencarinya kesana kemari.
"Abang kenapa? Apa yang abang cari dari tadi?"
Suara Doni menyadarkanku. Aku pun hanya menggeleng sambil menuju tempat berwudhu.
Akan kutanyakan pada abi nanti. Siapa perempuan itu?
########
"Bang Rahman? Bang Doni? Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam".
__ADS_1
Aku dan Doni serempak menjawab salam dari Humaira.
"Apa kabar Humaira?"
Aku bertanya sambil berusaha memandang seseorang yang bersembunyi di belakang Humaira.
"Baik bang, abang abang masuklah. Ira akan buatkan minuman".
"Kami sudah mau pulang. Tinggal menunggu abi. Katanya ada yang mau di titipkan buat abah".
"Baiklah jika begitu. Ira masuk dulu ya bang. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Tak lama abi Abdi pun keluar rumah membawa keranjang besar berisi buah buahan.
"Berikan laporan ini pada abahmu. Dan juga buah buahan ini".
"Baik Abi"
"Abi, siapa perempuan yang bersama Humaira tadi?"
Abi sekilas memandangku.
"Dia masih haram untuk kamu pinang"
Aku tertawa kecil.
"Rahman tau abi, Rahman cuman bertanya. Siapa dia?"
"Namanya Ariyanti. Suaminya meninggal kecelakaan beberapa bulan yang lalu"
"Masa iddah nya sudah lewat kan abi?"
__ADS_1
"Masih, sampai beberapa bulan kedepan".
"Maksud abi?"
"Yanti sekarang sedang mengandung. Karena nya dia depresi ketika suaminya kecelakaan. Sempat di rawat di RSJ. Kemudian abi membawanya kemari untuk abi rawat".
"Pantas, dari matanya Rahman melihat kesedihan bi".
"Jangan memandangi lawan jenismu"
"Rahman tau bi, Rahman juga tadi tidak sengaja. Karenanya Rahman penasaran".
"Kalo kamu mau menikahinya saat masa iddahnya nanti selesai. Abi sangat bersyukur"
Seketika aku terdiam.
"Terlambat bi" Aku bergumam kecil.
Abi memandangiku, menunjukan wajah penuh tanya.
"Abah sudah melamarkan seorang perempuan buat Rahman bi. Kami akan menikah. Mungkin nanti abah akan kemari untuk mengundang Abi".
Abi tersenyum kembali menepuk pundakku.
"Jodoh itu rahasia Alloh. Kita tidak tahu kedepannya bagaimana. Walaupun manusia sudah berencana. Abi yakin, kalian berjodoh".
"Abi meramal?"
"Husst.. tidak boleh ramal meramal. Cuma ada keyakinan saja di hati abi. Sudah, sana pergi. Jangan lupa sholat maghrib nanti di jalan".
"Baik Abi"
Aku pun mencium kedua tangan abi. Setelah mengucapkan salam, aku meninggalkan abi menuju tempat mobilku terparkir. Entah kenapa pikiranku masih tertuju pada perempuan yang bernama ariyanti itu.
__ADS_1
Ah, Andai saja aku melihatnya sebelum abah dan bang Rahim melamar Sarah. Mungkin aku akan mempertimbangkan saran Abi untuk kelak meminang ariyanti ketika anaknya sudah lahir dan masa iddahnya sudah selesai.
Ah andai saja. Andai saja.