Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#27


__ADS_3

KAK ANDI POV


########


Minggu Malam yang panas. Entah kenapa malam ini begitu gerah. Aku pun memutuskan untuk duduk di teras rumah walaupun sudah pukul satu pagi.


Aku berselanjar di dunia maya. Menelusuri berbagai aplikasi. Mencari berita yang sedang viral saat ini. Sampai mataku melihat sebuah berita di salah satu berita terkini di kotaku.


Mataku langsung membulat. Aku langsung berdiri dan membangunkan Mia istriku.


Mia membaca berita yang kuperlihatkan padanya.


"Ini motornya Izal pah. Handi kan tadi yang pake?"


"Papah telp Izal dulu mah"


Aku pun melakukan panggilan telpon. Bukan hanya pada Izal, tapi aku melakukan panggilan grup. Grup yang kami buat tanpa ade sebagai anggotanya. Grup chat itu terbentuk ketika ade kemarin melakukan walk out dari rumah bapak.


"Kenapa ndi?" kak Alif menjawab


"Iya kak?" Fian menjawab.


"Mana Izal?"


Panggilan untuk Izal terjeda sekian menit. Sambil menunggu Izal, aku menceritakan berita yang kubaca.


Tak lama Izal masuk bergabung dalam grup.


"Kamu dimana Zal?" Kak Alif yang bertanya.


"Izal sudah tau beritanya. Izal gak sanggup mengabari ade"


Kulihat Izal menangis.


"Andi, kita kerumah sakit nyusul Izal.


Fian, kamu kerumah kabarin bapak trus nyusul ke rumah sakit"


Kak Alif langsung memberi instruksi. Kami pun semua otomatis mematikan telpon. Aku pun langsung bersiap untuk pergi.


"Bangunin Rei mah. Nanti mamah sama Rei ikut kerumah ade. Siap siap aja. Nanti papah telp. Papah ke rumah sakit dulu"


"Hati hati pah"


Aku pun lantas memacu motor menuju rumah kak Alif yang hanya berbeda blok dengan rumahku. Begitu aku sampai, Kak Alif sudah siap di mobil bersama anak tertuanya. Anak kedua kak Alif menyambut motorku dan memasukkannya ke dalam pagar. Aku pun langsung naik ke dalam mobil kak Alif.


"Kalian kerumah kai ya?"


"Iya Abah"


Anak kedua kak Alif yang menjawab. Kami pun langsung bergegas menuju rumah sakit.


#####


Izal berdiri di depan ruang gawat darurat bersama beberapa polisi berseragam ketika Aku dan Kak Alif datang. Setelah mengenalkan siapa kami. Kami pun masuk di temani polisi. Ada dua orang polisi berpakaian preman yang ternyata teman sekolah Izal dulunya.


Dari Polisi itulah, Izal mendapatkan informasi terlebih dahulu karena mereka mengenali plat motornya Izal yang dikendarai Handi.

__ADS_1


Kondisi Handi sangat parah. Luka di kepala. Patah tangan dan kaki. Begitu aku masuk, tubuh Handi penuh dengan alat alat medis yang terhubung keberbagai monitor.


"Kondisinya kritis. Banyak banyak berdoa"


Dokter yang berjaga malam itu memberitahukan kami keadaan Handi.


Kudengar kak Alif berbicara dengan polisi untuk mengetahui kronologis kejadiannya.


Sampai seorang perawat mendekatiku.


"Maaf pak, pasien sadar. Mau bicara katanya"


Aku pun mendekati Handi. Kak Alif dan Izal yang melihatku pun langsung ikut mendekat.


"Titip yanti dan anak anak"


Handi bersuara lirih ketika kudekatkan telingaku ke bibirnya yang bergerak.


"Jangan bersuara macam macam. Kamu pasti sehat lagi"


Aku pun membalas perkataan Handi.


Aku memandang Kak Alif dan Izal bergantian.


Saat itulah bapak datang bersama Fian.


Bapak menggeleng lemah melihat keadaan Handi. Memandangi Izal dan berkata


"Kamu jemput ademu sekarang"


Izal menggeleng menyatakan keengganannya untuk memberitahu ade tapi kemudian Izal menggangguk.


"Kamu paling dekat sama ade zal, jemput ade. Minta temanin sama temanmu yang polisi itu"


Kak Alif lagi lagi memberi intruksi.


"Ajak Kak Mia sama Rei. Biar mereka yang menunggui anak anak. Besok pagi baru aku jemput mereka. Kasian anak anak kalo dibawa malam ini juga. Jemput kak mia di rumah. Sudah siap dia itu".


Aku pun menambahi intruksi untuk Izal.


Izal hanya mengangguk tanpa kata dan segera berlalu dari hadapan kami.


"Aku telpon kakaknya Handi dulu"


Kak Alif pun ikut menjauh dari kami untuk melakukan panggilan telpon.


Aku dan Fian kembali masuk kedalam.


Kulihat bapak masih berbisik di telinga Handi.


Sampai kemudian layar monitor berbunyi menunjukkan garis lurus.


"Astagfirullahalazim"


Kudengar Fian bersuara sambil memeluk lenganku. Aku diam tertekun melihat perawat memompa dada Handi. Bapak tetap berbisik di telinga Handi sampai dokter menyatakan bahwa Handi sudah meninggal dunia. Tepat pukul tiga pagi.


"Kami akan menjaga istri dan anak anakmu. Pergilah dengan tenang"

__ADS_1


Bapak menutup kedua mata Handi sambil membaca ayat ayat Quran.


Fian memelukku dari belakang. Kak Alif mendekati Bapak dan membantu bapak mengurus Handi.


Aku tetap terdiam.


Inikah jalan takdir adik perempuanku?


"Jangan telpon Izal. Izal tu juga cepat melow. Biar mereka datang dulu kerumah sakit"


Aku dan Fian serempak mengangguk.


Kami menunggui jenazah Handi sambil membaca ayat ayat Quran.


Polisi akan melakukan pemeriksaan terhadap tubuh Handi bersama dokter forensik. Kami diminta menunggu di luar. Kak Alif dan kakak tertuanya Handi yang ikut menyaksikan di dalam.


Tak lama Kak Alif keluar.


"Ade belum datang? Perlu tanda tangan buat otopsi"


Begitu kak Alif selesai bertanya. Kulihat ade di rangkul Izal berjalan mendekati kami.


Bapak menyambut ade kedalam pelukannya bapak.


"Ikhlas ya nak.. Ikhlas"


Ade langsung jatuh di kaki bapak sambil menangis. Izal langsung memeluknya.


"Ade mau lihat bang Handi"


Izal membantu ade untuk bangun dan masuk ke dalam.


Suara tangisan dan teriakan ade membuat ruangan rumah sakit ini menjadi heboh. Semua berusaha menenangkan ade yang berteriak histeris.


Hatiku ikut tersayat mendengar tangisan adik perempuan kesayangan kami. Aku berusaha memisahkan tubuh ade yang terus mendekap tubuh suaminya.


Sampai kemudian ade tidak sadarkan diri.


Aku langsung menggendong ade dan membawanya ke ruang perawatan yang lain.


Ketika sadar ade kembali histeris dan berteriak teriak. Kami pun tidak bisa meminta dokter terus menerus memberikan obat penenang. Karena tanpa kami ketahui, ternyata ade sedang hamil empat minggu.


Aku kembali tertekun.


Adikku hamil. Suaminya meninggal.


Kuatkah ade menjalani ini?


Ternyata pikiranku benar. Ade depresi. Ade di vonis dokter terganggu psikis dan kejiwaannya. Dokter menyarankan untuk di rawat di instalasi khusus kejiwaan.


Aku sempat emosi dan marah.


Adeku tidak gila. Untuk apa di rawat di rumah sakit khusus kejiwaan.


Aku sempat akan menghajar dokter yang menyebut adeku ODGJ (orang dalam gangguan jiwa) jika tidak di tarik keluar ruangan oleh Fian.


"Kak, sabar. Kita dengar dulu apa kata dokter. Fian tahu kakak terpukul. Fian juga. Kita semua terpukul dan sedih liat ade. Tapi apapun kata dokter, jika itu yang terbaik buat ade harus kita ikuti kak".

__ADS_1


Aku menarik nafas dalam. Fian benar, kami semua sayang dengan ade. Dan menginginkan yang terbaik buat ade.


__ADS_2