
KAK ALIF POV
##########
Sebagai anak pertama aku di tuntut untuk bisa menjadi panutan untuk adik adikku. Akulah yang selalu diminta bapak untuk membuat keputusan walaupun aku tahu keputusanku yang kadang memaksa untuk di setujui membuat adik adik ku menganggap aku diktator.
Aku tidak pernah menangis. Aku selalu berusaha tegar agar adik adikku dapat melihat bahwa aku adalah sosok yang kuat. Sosok yang dapat mereka andalkan selain bapak.
Ketika Andi menelpon memberitahukan berita tentang Handi, yang terbayang olehku adalah bagaimana aku harus menghadapi yanti. Adik perempuan kami paling kecil yang sangat kami sayangi. Yang tetap kami panggil Ade walaupun sudah bersuami dan mempunyai anak.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku berusaha menata hati dan merangkai kata. Apa yang harus kukatakan pada Ade nantinya? Apa yang harus kulakukan sebagai seorang kakak laki laki tertua yang selama ini menjadi panutan mereka.
Begitu melihat Handi di bilik rumah sakit, hatiku bertambah takut. Aku ingin lari dan pergi sejauh mungkin. Bukan luka luka Handi yang kutakutkan. Tapi adik perempuanku yang kutakutkan.
Aku takut melihat reaksinya.
Aku bingung apa yang nantinya harus kuucapkan padanya.
Aku menenangkan hatiku dengan bertanya kronologis kejadiannya pada polisi. Aku berusaha untuk menepis semua rasa takutku.
"Ada anak pulang main futsal di hadang enam orang memakai sepeda motor. Di hajar dan di rampas sepeda motornya. Kebetulan adik bapak lewat dan melihat semua kejadian itu. Bermaksud untuk meminta bantuan, adik bapak malah di kejar mereka juga".
"Pelakunya sudah di tangkap?"
"Dari keterangan saksi korban yang pertama, kami berhasil mengamankan satu orang. Sisanya masih dalam pengejaran"
"Keadaan korban yang pertama?"
"Tidak parah dari adik bapak. Hanya beberapa luka pukulan. Korban pertama lah yang berlari ke arah perkampungan penduduk dan berteriak minta bantuan".
"Ada dimana korban pertama?"
"Di ruangan sebelah. Nanti akan kami kenalkan ke Pak Alif".
"Saya mau dikabari terus tentang kasus ini".
"Baik pak, kami akan selalu mengabari keluarga korban"
Pembicaraanku dengan polisi terputus ketika aku melihat Andi mendekati Handi. Aku dan Izal pun ikut mendekat.
Handi berbicara lirih di telinga Andi. Tapi aku bisa membaca gerakan bibirnya.
"Titip Yanti dan anak anak"
Andi terlihat marah.
"Jangan bersuara macam macam. Kamu pasti sehat lagi"
Kudengar Andi berkata. Kemudian Andi memandangi aku dan Izal bergantian.
Aku melihat Bapak dan Fian datang.
Bapak menggeleng lemah. Aku tahu maksud Bapak. Sangat sulit bagi Handi untuk bertahan. Tapi aku masih berkeyakinan bahwa Handi bisa melewati semua ini.
"Kamu jemput ademu sekarang"
Bapak memerintah Izal.
Kulihat Izal enggan untuk pergi karena Izal menggelengkan kepalanya. Aku memberikan sedikit sentuhan pada lengan Izal yang berada disampingku. Izal pun akhirnya mengangguk. Kami berempat keluar meninggalkan bapak hanya berdua dengan Handi.
"Kamu paling dekat sama ade zal, jemput ade. Minta temanin sama temanmu yang polisi itu"
Aku memberi perintah kepada Izal seperti kebiasaanku selama ini yang menjadi pimpinan dari adik adikku.
__ADS_1
Andi menambahkan perintah untuk Izal.
"Ajak Kak Mia sama Rei. Biar mereka yang menunggui anak anak. Besok pagi baru aku jemput mereka. Kasian anak anak kalo dibawa malam ini juga. Jemput kak mia di rumah. Sudah siap dia itu".
Izal pergi tanpa kata. Aku tahu sebenarnya Izal enggan menjadi utusan penyampai berita untuk Ade.
"Aku telpon kakaknya Handi dulu"
Aku menjauh dari kedua adikku. Bukan hanya sekedar untuk menelpon kakak tertuanya Handi. Tapi juga untuk kembali menenangkan diriku sendiri.
Aku menarik nafas panjang sebelum kembali masuk.
Rasanya kaki ini susah untuk berdiri tegak ketika melihat dokter memompa jantung Handi. Ingin rasanya aku jatuh kelantai dan menangis.
Tapi ketika aku melihat Andi yang diam terpaku, Fian yang memeluk erat Andi sambil meneteskan air mata, kemudian bapak yang terus berbisik di telinga Handi. Sosok sebagai anak pertama kembali muncul.
Aku harus tegar. Aku harus bisa menjadi penopang untuk adik adikku saat ini.
Aku pun membantu bapak mengurus jenazah Handi.
"Jangan telpon Izal. Izal tu juga cepat melow. Biar mereka datang dulu kerumah sakit"
Aku memberitahu Andi dan Fian yang dibalas mereka dengan anggukan tanpa kata.
Bapak, Andi dan Fian pun keluar ruangan ketika polisi dan dokter forensik mengambil alih untuk proses otopsi. Aku dan Kakak tertua Handi yang baru datang yang mengikuti proses otopsi..
Kami sepakat bahwa hanya akan dilakukan otopsi luar. Tidak ada pembedahan organ dalam. Tapi semua tetap memerlukan tanda tangan ade sebagai istri.
Aku pun keluar bermaksud untuk menanyakan keberadaannya ade dan Izal.
"Ade belum datang? Perlu tanda tangan buat otopsi"
Belum ada yang menjawab pertanyaanku ketika kami serempak melihat ade datang dirangkul Izal.
Bapak memeluk ade, dan ade menangis tersungkur dikaki bapak.
Ingin rasanya aku menghilang saat ini dibandingkan aku harus melihat kehancuran adik kesayangan kami.
Lebih baik aku dihadapkan dengan Hakim, dan jaksa penuntut di sidang pengadilan daripada dihadapkan dengan situasi sekarang ini.
Aku ingin ikut menangis bersama ade. Aku ingin ikut berteriak meluapkan emosi di dadaku seperti ade. Tapi lagi lagi logikaku berbicara.
Aku penopang adik adik ku.
Selalu kalimat itu yang kutanamkan di otakku.
Tapi sekuat kuatnya aku menanamkan kalimat itu pada diriku sendiri. Akhirnya aku pun menangis di hadapan Fani istriku.
"Abah gak kuat ma. Abah ga sanggup melihat ade dan anak anaknya. Ade depresi ma".
"Keluarkan bah. Menangislah sepuas abah. Jangan ditahan. Di sini cuman ada kita berdua"
Aku pun kembali terisak. Istriku tahu, bahwa pantang bagiku untuk menangis di depan orang banyak.
"Ade hamil"
"Iya, tadi mia sudah memberitahu Mama. Kita harus dukung ade bah. Tidak mudah hamil di saat tidak punya suami"
"Sakit dada abah melihat ade. Ingin rasanya abah membangunkan Handi kembali bagaimana pun caranya"
" Hus abah. Ini sudah takdir Alloh. Sekarang bagaimana kita membantu ade untuk bangkit dan ikhlas menghadapi semua ini".
Setelah mengeluarkan semua sesak di dada, aku pun kembali pada sosok kakak yang kuat.
__ADS_1
Aku mengurus semua pemakaman Handi. Aku melakukan semua hal agar aku tidak diminta bapak ke rumah sakit.
Aku tidak sanggup melihat ade yang terus menangis dan berteriak.
Menghadapi berbagai kejadian kriminal adalah hal yang biasa bagiku. Berurusan dengan polisi hal yang sering kulakukan. Tapi menghadapi kenyataan bahwa adik perempuanku harus mengalami depresi bahkan di minta dokter untuk di rawat khusus di poli kejiwaan membuatku menjadi lemah.
Tidak ada satu pasal pun di sekolah hukum yang kupelajari tentang hal ini.
Aku terdiam di sofa ruang rawat ade bersama bapak dan tiga adik laki lakiku. Kami sibuk dengan pikiran kami masing masing. Andi yang emosi sempat marah dengan dokter jika tidak di tenangkan Fian. Izal sejak meninggalnya Handi hanya bicara jika di tanya.
Handi memang hanya adik ipar kami. Tapi kehadirannya di sisi ade membawa perubahan positif buat ade yang selama ini penuh dengan kemanjaan dan berbagai keistimewaan yang di dapatnya dari kami.
Handi mampu merubah arah pandang ade hanya dengan kata kata halusnya. Tidak dengan emosi atau sikap keras yang kutunjukkan. Bahkan kata kata manis yang selalu di ucapkan Izal pada Ade tidak mempan membuat ade tunduk dan patuh.
Berbeda dengan Handi. Sebagai seorang suami, dia memiliki cara tersendiri untuk menghadapi istri yang manja seperti ade.
Kami semua pun sangat dekat dengan Handi. Lebih dekat dibanding keluarga besar Handi sendiri. Tangisan kami lebih terdengar dibanding tangisan keluarganya di saat pemakaman Handi. Bahkan anak bungsuku dan Rei yang memang dekat dengan Handi erat memeluk omnya di saat saat terakhir.
"Bagaimana menurut kalian?"
Pertanyaan bapak memecah keterdiaman kami.
"Sudah seminggu ade seperti ini, mungkin kita harus mengikuti saran dokter. Di poli kejiwaan ada perawat khusus yang biasa menangani pasien seperti ade. Mereka lebih mengerti dibanding perawat di poli umum. Di sana juga ada ruangan khusus pak. Bukan hanya bangsalan. VIP juga ada. Alif setuju dengan dokter"
"Andi juga setuju pak. Yang penting ade kembali sehat"
Fian dan Izal hanya mengangguk.
"Azwa dan Azka biar Mia yang merawatnya. Kamu keberatan ndi?"
"Tidak pak, Andi bahkan ingin mengutarakan ini juga. Biarkan anak anak sama Andi. Tapi Andi minta bantuan untuk sama sama memberi pengertian pada anak anak tentang ibu mereka".
"Pindahkan juga barang barang ade dan anak anaknya ke rumah bapak. Kalian atur saja bagaimana supaya rumah itu kosong. Kita sewakan saja setelah itu".
"Bukan masalah uang sewanya, tapi bapak mau semua yang bisa membuat ade ingat dengan almarhum suaminya kita hindari dulu sampai ade benar benar pulih".
Kami berempat serempak mengangguk.
"Atur itu Alif! Kordinasikan seperti biasa dengan adik adikmu"
"Baik pak".
Dan akhirnya kami pindahkan ade ke rumah sakit khusus kejiwaan. Bapak meminta ruangan khusus tanpa ada penghuni lain yang tentu saja itu memerlukan biaya yang besar.
Aku dan Istriku memutuskan untuk membantu biaya pengobatan ade. Semua biaya kami jadikan satu kemudian kami hitung bersama.
Izal menjual motornya karena khawatir hal itu akan mengingatkan ade tentang peristiwa malam itu. Uang penjualan motor diberikan Izal pada bapak untuk biaya pengobatan ade.
Fian bahkan meminjam uang di bank dengan jaminan SK pegawai negeri sipilnya. Bapak awalnya menolak kemauan Fian. Bapak ingin Fian menabung buat masa depan anaknya yang masih kecil. Tapi Fian bersikeras.
"Pak, ade butuh biaya banyak. Ade juga kan adenya Fian. Biarkan Fian ikut menanggungnya juga pak. Jika Fian berada di posisi ade sekarang, Fian yakin ade yang lebih dulu membantu Fian".
Bapak menyeka air mata yang mengembun di sisi mata bapak.
"Almarhum mama pasti bangga melihat kalian yang saling menyayangi. Bapak bersyukur memiliki kalian semua"
Akhirnya bapak pun menangis.
"Kalian tau bagaimana hancurnya bapak melihat ade sekarang? kenapa bapak tidak dipanggil Alloh lebih dulu daripada bapak melihat ade kalian sekarang ini".
"Karena Alloh tahu pak. Ade memerlukan bapak di saat saat seperti ini"
Bapak tertunduk menangis dan akhirnya kami pun kembali menitikan air mata.
__ADS_1
Cepat sehat de, Kak Alif kangen berdebat denganmu. Hanya kamu satu satunya yang berani membantah ucapan kak Alif.