Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#19


__ADS_3

Aku mendekap erat kakaf yang sore ini mengantarkan anak anakku pulang.


"Kangen ya sama kakak"


Kakaf mencium puncak kepalaku.


"Gak, kepedean'


"Kenapa meluknya gini kalo gak kangen"


"Ngetes aja, ni dada masih enak ga dipeluk. Kan udah sekian tahun, belum ada cewek nih yang meluk"


Aku melepas pelukan pada kakaf dan beralih ke tas belanja yang tadi di bawa bang Handi masuk.


"Kok cuman segini? Sudah habis uang kakaf?"


"Dibagi bagi lah de. Tadi belikan anaknya kak Fian juga'


"Udah bisa apa tu baby Al kaf?"


"Di minta Kak Nisa buat kerumahnya kamu de. Kata kak Nisa, gak kangen apa kamu sama baby Al?"


"Kangen lah kaf. Nantilah ade kesana"


Aku mengambilkan kakaf air minum dingin sesuai maunya kakaf.


"Enak tinggal di sini?"


Kakaf duduk di meja makan sambil mengunyah keripik di toples yang kubeli dua malam lalu di pasar malam komplek.


"Enak lah, tanya aja ayahnya anak anak tu"


"Kok tanya abang?"


Bang Handi muncul sambil menggendong Azka yang sudah selesai mandi. Kakaf langsung mengambil alih Azka dan menciumi kembarannya itu.


"Iyalah tanya abang, kan abang senang tinggal dekat ma saudara abang"


"Abang tu dimana aja heppy. Yang penting kamu sama anak anak juga hepi"


"Duh, kesambet apa kamu ndi?"


Kakaf mengomentari ucapan Bang Handi.


"Kalo Handi ga romantis, nanti ade situ ngadu lagi"


Kakaf tertawa dan Azka pun juga ikut tertawa.


Bocah hampir dua tahun itu mengira kakaf sedang tertawa bersamanya.


"Si ade tadi cerewet kaf?"


"Ngak, pintar. Yang cerewet tu si kakak. Banyak yang di maunya".


"Iyalah, si ade kan gak ngerti masih kaf"


"Car sit si ade sudah di keluarkan Ndi?"


"Sudah Kak, sudah Handi masukan dalam mobil Handi"


"Si kakak katanya sekolah tahun ini? Sekolah dimana?"


"Belum tau kaf. Supaya enak antar jemputnya, ade cari dekat sini aja".


"Yang di dekat cafe kakak aja de. Turun ikut Handi. Nanti kakak yang jemput".


"Terus, baru pulang kerumah tunggu bang Handi pulang gitu?"

__ADS_1


"Kalo gak sibuk, ya kakak antarkan"


"Kalo kakaf sibuk terus?"


"Ya kakak sempatkan lah de"


"Ribet ah kaf"


"Enggalk ribet kalo kamu gak banyak mikir"


"Betul tu kak, ade kakak tu terlalu banyak mikirnya"


Bang Handi langsung meringis, karena mendapat cubitan dariku.


"Atau, kamu pake mobilnya kakak buat antar jemput"


"Terus kakak naik apa?"


"Kan ada mobilnya bapak. Ada motor juga. Kakaf sendirian naik motor ga jadi masalah. Daripada kamu naik motor bertiga sama anak anakmu. Ga bisa bayangkan kakak".


"Ya, jangan dibayangkan lah Kaf. Lagian sekolah di situ mahal kaf. Baru juga TK, sudah bikin sakit kepala tiap bulan".


"Ada aja rezeki buat anak anak itu. Kami juga gak akan membiarkan"


"Kami itu siapa?"


"Kata bapak, biarpun kamu marah sama bapak, tapi Azwa dan Azka kan juga cucu bapak. Jadi sama seperti sepupu sepupunya yang lain. Tiap bulan bakal di beri uang bulanan sama bapak".


Aku hanya terdiam sambil memainkan sendok dan piring makan anak anak yang memang kuletakkan di atas meja makan.


"Keras hati itu jangan di pelihara. Nanti kena kanker hati. Kalo kamu gak mau terima uang bapak ya sudah. Kakak yang tiap bulannya nanti bayarin uang sekolahnya Azwa"


Aku memandangi kakaf.


"Nanti kalo kakaf punya istri, bakal bermasalah".


"Kalo sudah terlanjur di nikahi?"


"Sudah pernah cerai, gak pa pa kan klo cerai yang kedua kali lagi"


"Ih Kakaf, segitunya.. Gak akan ada nanti yang mau jadi istrinya kakaf"


"Jodoh itu rahasia Alloh. Kalo memang masih ada jodoh kakak lagi, ya, Alhamdulillah"


"Amiiinnn.. Ade berdoa, Kakaf dapat istri yang baik, sholehah, pintar mengaji, pintar masak, pintar bersih bersih rumah.."


'Stooopp! Kalo yang seperti doamu itu. Kakak cari aja di agen tenaga kerja"


Aku terkekeh sambil mencubit gemes pipi anak keduaku.


#############


"Itu siapa de?"


Seminggu kemudian kakaf kembali datang mengunjungiku dengan membawa makanan kesukaan ku dan cemilan anak anak.


"Siapa Kaf?"


Aku yang menyambut kedatangan kakaf di depan pagar dan menunggu kakaf mengeluarkan barang barang dari bagasi mobil pun mengedarkan pandangan kearah yang dimaksud kakaf.


"Oh, istri kakaknya Bang Handi"


"Itu yang kamu ceritakan?"


Aku mengangguk sambil menutup pagar ketika kakaf sudah melewatiku masuk.


"Masih suka minta minta?"

__ADS_1


"Masihlah, apalagi tadi liat kakaf bawa banyak tas belanja gitu. Begitu kakaf pulang, langsung datang itu".


"Dibagi ajalah de. Siapa tau rezeki kalian memang ada di mereka. Dengan memberi mereka, bertambahlah juga rezeki kalian"


"Kalo ada ade kasih. Tapi kalo yang diminta memang ga ada, ya gak ade kasih".


"Suruh Handi pasang wifi. Bagi kemereka. Jadi alasan uang quota itu gak ada lagi kan?"


"Iya Kaf, bang Handi juga kmren rencananya begitu. Ini sudah pengajuan, tinggal tunggu teknisinya datang".


"Jangan terlalu sadis sama saudara suamimu de. Bagaimanapun juga, sekarang mereka yang di dekatmu. Mereka yang pertama kali bisa membantu jika ada apa apa sama kalian disini".


"Iya Kaf, ade paham"


"Nih, di bagi dulu cemilannya. Disisihkan yang buat di kasih ke keponakannya Handi. Tas yang ungu ini cemilannya si kakak sama ade semua ya".


"Siiippp, makasih kakaf ku sayang"


Aku pun beranjak ke dapur. Tak lama kudengar suara teriakan di kamar bermain anak anak. Tentu saja si azwa yang berteriak melihat kedatangan om kesayangannya. Kalo azka sih biasanya cuman ikut ikutan teriak saja.


"Ibuuuu, kata om Izal ada es grim"


Azwa berlari mendekatiku yang berada di dapur.


"Jangan lari kaaakk "


Kudengar suara kakaf juga meneriaki azwa yang langsung berlari ke dapur.


"Kakak, jangan lari seperti itu. Kakak mau jatuh?"


Azwa menggeleng kuat.


"Es grimnya?"


"Ada, gak akan ada yang makan. Itu kan es cream kakak. Sudah ibu simpan di kulkas. Jadi kakak jangan lari lari lagi. Janji?"


"Janji!"


Azwa mengangguk sambil menarikku menuju kulkas. Bocah empat tahun yang sudah lancar bahkan fasih berbicara itu menatap ke arah kulkas dengan mata berbinar melihat sederet es cream kotak yang dibelikan om Izal nya.


"Makannya satu hari cuman satu es cream ya kak?"


Lagi lagi azwa mengangguk.


"Habis makan es cream, minum apa?"


"Minum air putih hangat ibu"


"Anak ibu pintar. Ini, kasih ke om Izal satu. Bilang ke om Izal, suapin ade kata ibu. Ade gak boleh suap sendiri. Kakak paham?"


Azwa meangguk anggukkan kepalanya dan dengan cepat mengambil es cream di tanganku.


"Jangan lari, kalo es creamnya jatuh. Gak ibu kasih lagi".


Aku melihat putri pertamaku berjalan membawa es cream dengan gaya penganten putri solo. Aku terkekeh sendiri melihat tingkah putriku.


Dan beberapa menit kemudian, terjadilah kehebohan di ruang bermain anak anakku.


"Om Izal, jangan dimakan. Itu punya kakak"


"Ibuuuuu... Om Izal".


"Ibuuui.. es dede ancul"


"Ibuuuu, dede ambil es kakak"


Ibuuuu... Ibuuuu dan ibuuuu

__ADS_1


Aku hanya menggelengkan kepalaku. Menikmati semua moment moment yang anak anakku lakukan. Jika mereka besar nanti, semua ini hanya akan menjadi kenangan untuk kami.


__ADS_2