Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#21


__ADS_3

"Gak capek apa de?"


Minggu siang, Kakaf kembali berada di rumahku. Entahlah, kenapa kakaf sering mengunjungiku. Kurasa, ada misi tersembunyi yang dilaksanakan kakaf atas perintah kakak kakak di atasnya.


"Capek kenapa Kaf?"


"Ngambeknya"


"Siapa yang ngambek?"


"Ade lah.. Siapa lagi?"


"Kapan ade ngambek?"


"Gak sadar?"


"Serius Kaf!"


Kakaf mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk dan menghadap kepadaku.


"Selama satu tahun ini, apa yang ade lakukan kalo gak ngambek?"


Aku cemberut.


"Ade gak ngambek. Siapa bilang ade ngambek".


"Jadi apa?"


"Kecewa" Aku menjawab dengan lirih.


"Kecewa??" Kakaf bertanya padaku. Dan aku jawab dengan anggukan.


Kakaf menghela nafas dan kembali menatapku.


"Okey, ade kecewa. Sekarang pertanyaan kakak, kapan kecewa ini berakhir?"


"Memang kecewa harus ada akhirnya Kaf?"


"Apa ade gak capek dengan keadaan keluarga kita sekarang? Kak Alif sering kali bersitengang dengan Kak Andi setiap kami membahas tentang ade".


"Berarti kalian sering gosipkan ade dong?"


"Bosan gosip deeeee, tapi membicarakan tentang ngambeknya kamu"


"Sama aja itu gosipkan ade"


"Bukan ! kami berdiskusi!".


Kakaf terlihat kesal, tapi bagiku kekesalan kakaf sangatlah lucu.


"Jadi, Kakaf adalah hasil diskusi kalian?"


"Maksudnya apa nih?"


"Dari hasil diskusi kalian, makanya di utuslah Kakaf untuk selalu datang ke rumah ade. Iyakan??"

__ADS_1


Kakaf terdiam.


"Berarti tebakan ade benar".


"Sok Tau!"


"Buktinya Kakaf gak bisa jawab. Langsung diam begitu ade tanya".


Kakaf kembali menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Kami mau semua kembali seperti semula de".


"Ade juga maunya begitu"


"Ayo kita akhiri semua ini"


Kakaf benar benar mengubah posisinya menghadapku.


"Menurut hasil diskusi kakak- kakak, bagaimana solusinya?"


Aku lagi lagi memancing Kakaf.


"Ade minta maaf ke bapak"


"Cuman itu?"


Kakaf mengangguk.


"Okey, ade minta maaf ke bapak. Tapi ade tetap tidak bisa seperti dulu lagi".


"Maksud ade?"


"Kenapa?"


"Karena ade tetap tidak akan menerima wanita itu, walaupun ade sudah minta maaf kebapak".


"Kalo bapak pindah dari rumah?"


"Pindah?"


"Bapak pernah cerita ke kakak, kalo ade marah karena istri bapak tinggal di rumah, jadi biar bapak yang pindah".


"Itu rumah bapak, hak bapak untuk bawa siapa saja".


"Deeee, kalo seperti ini terus. Gak akan ada habisnya".


"Lho, bener kan Kaf? Bapak berhak bawa siapa saja. Bapak berhak menikah lagi seperti Kata Kak Alif. Bapak berhak bahagia kata kalian semua. Okey, itu hak bapak. Tapi ade juga berhak untuk tidak menerima kan?"


Kakaf kembali terdiam.


"Capek kakak de, mending gangguin anak anak biar bangun. Enak berdebat sama kakak azwa dibanding ibunya".


Kakak berdiri, melangkah kekamar anak anak. Bang Handi yang sejak tadi hanya menjadi pendengar kami mendekatiku.


"Istri abang ini cantik lho".

__ADS_1


Bang Handi mengelus kepalaku. Aku bersandar di dada bang Handi.


"Tapi lebih cantik lagi jika jadi orang yang ikhlas. Kata orang jawa itu legowo".


"Belum bisa bang. Enggak tau kenapa, sulit rasanya bang".


"Coba deh buka di youtube ceramah agama tentang ikhlas. Atau tentang orang tua yang menikah lagi. Cari tahu, kenapa memilih menikah lagi. Mungkin dari situ, kita bisa melihat dari sudut pandang bapak. Apa yang di cari bapak dengan menikah lagi".


"Atau bisa juga bertanya langsung ke bapak. Toh selama ini belum ada empat mata antara bapak dan istri cantik abang ini"


Aku hanya diam sambil terus memeluk bang Handi.


"Ada Kak Izal lho bu"


"iya, memang ada Kakaf kan?"


"Meluknya jangan gini. Abang kan jadi pengen traveling".


"Abang aja yamg mesum. Meluknya kan biasa aja. Kecuali ibu tu meluk sambil elus cacingnya abang".


"Cacing, enak aja. Naga ini"


"Naga tu menyemburkan api"


"Abang kan Naga aliran suci. Jadi cuman bisa menyemburkan lahar putih"


"Ada aja balesannya"


Aku kembali memeluk erat bang Handi. Kami berdua sama sama terkekeh.


"Jadi, kapan mo ngobrol ma bapak?"


"Nantilah bang ibu pikirkan"


"Kasian kakak kakak. Mereka jadi suka berselisih paham juga kan karena ibu".


"Ibu juga gak mau seperti ini"


"Maka itu, seperti abang bilang tadi. Ibu harus legowo"


"Ibu belum ketemu sama pak legowo itu bang"


"Ih, malas bercanda"


Bang Handi balas memelukku dengan erat dan menciumi pipiku dengan gemas.


"Kak Izal kayaknya tidur di kamar anak anak"


Bang Handi berbisik di telingaku.


"Terus?"


"Kekamar yok, naganya abang mulai bangun"


"Ih, abaaannggg"

__ADS_1


"Ssttttt.. Jangan berisik!"


##########


__ADS_2