
"Anak anak dimana?"
Ketika aku baru keluar dari mesjid setelah sholat ashar. Tidak kulihat kedua buah hatiku.
"Main di halaman samping"
Ummi Khadizah, istri Abi Abdi memberitahuku.
Aku menuju samping mesjid, dan benar kedua anakku bermain di sana bersama seorang pria asing.
"Kakak, abang"
Aku memanggil keduanya.
"Ibuuuu. Abang main sama abi"
Anak lelakiku yang berteriak. Si kakak berlari mendekatiku. Laki laki yang bermain bersama azka melihat padaku.
"Kakak main sama abi bu."
"Abi?"
"Iya itu. Abi Rahman"
"Kak, jangan main sama orang asing"
"Dia bukan orang asing"
Tiba tiba Ummi berada di belakangku.
"Ummi?"
Ummi menggandeng tangan Azwa.
"Ayo kita pulang, nenek lapar. Kita makan ya Azwa?"
"Iya nek."
"Man, bawa Azka kembali ke rumah. Kita makan dulu."
Ummi berteriak pada laki laki yang bersama Azka
"Iya ummi"
Aku pun mengekor di belakang ummi yang lebih dulu berjalan menggandeng azwa.
Azka dan laki laki itu berjalan di belakangku.
Sesampai di rumah ummi dan Abi. Suasana masih ramai. Masih banyak keluarga yang berkumpul. Sang penganti baru pun sudah berada di sana setelah acara resepsi tadi.
Aku menoleh kebelakang mencari Azka. Tapi yang kulihat, laki laki yang dipanggil anak anakku abi itu tengah mencuci tangan juga kakinya Azka. Aku tertekun sejenak. Betapa azka sangat patuh padanya. Apa azka merindukan ayahnya?
Tentu tidak. Kakak kakak ku sudah menggantikan sosok ayah buat mereka. Dan aku pun tidak ingin mereka memiliki ayah lagi.
"De, ayo cepat masuk."
Kak Fani memanggilku.
"Menunggu Azka kak"
"Biar saja Azka bersama Rahman"
"Kakak mengenalnya?"
"Kakaknya Rahman itu temannya Kakak kamu. Itu keluarga mereka juga ada di dalam. Ayo masuk."
Aku pun masuk mengikuti kak Mia.
"Yanti, sini!"
Abi Abdi memanggilku. Beliau duduk bersama bapak dan beberapa orang tua lainnya.
"Ini yanti, putri bungsunya Dani"
Abi Abdi memperkenalkanku.
__ADS_1
"Salim nak, ini abah Rasyid. Sepupu Abi. Dan itu istrinya Ummi Azizah."
Aku mencium tangan abah Rasyid. Beliau membelai kepalaku. Ketika aku mencium tangan ummi zizah, beliau memelukku.
"Berapa bulan kandungannya nak?"
Ummi zizah bertanya sambil mengelus perutku dan membaca shalawat nabi.
"Sudah tujuh ummi"
"Sehat terus ya sayang"
"Terima kasih ummi".
"Ini menantu ummi. Namanya Mira istrinya Rahim. Itu yang duduk di dekat abah"
Aku mengikuti arah telunjuk ummi dan melihat azka duduk dipangkuan laki laki tadi. Bercanda juga dengan Bang Rahim yang di tunjuk ummi tadi. Kulihat Bang Rahim duduk di dekat Kak Alif. Berarti mereka memang berteman.
Ummi zizah menyadari arah pandanganku
"Itu Rahman, putra kedua ummi adiknya Rahim. Yang ketiga Rahmi. Sekarang ada di malaysia. Jadi, tidak ikut kemari."
Aku tersenyum tipis.
"Ayo kita makan dulu"
Kami pun makan bersama secara lesehan di pendopo pesantren. Dan ya, kedua anakku tidak lepas dari abi baru mereka. Bahkan Azka makan dari suapan tangannya.
Apa ini? Aku merasa dejavu dengan keadaan ini. Kenapa anak anak ku cepat lengket padanya. Dan kenapa keluargaku membiarkan semuanya.
"De, kenapa melamun?"
Kak Ira menyentuh lenganku.
"Itu Bang Rahman." Kak Ira berbisik di telingaku.
"Nanti kakak ceritakan. Sekarang makan dulu. Si dede dalam perut juga lapar tuh."
Aku pun makan dalam diam. Sesekali aku melihat ke arah Azka dan lelaki bernama Rahman itu.
Selesai makan, aku membawa paksa Azka dari tangan Abi baru mereka.
"Ayo mandi dulu".
"Sama abi ya bu?."
"Tidak, sama ibu. Ayo sama sama kakak."
"Abang mau sama abi".
"Abaaanng!"
Aku menaikkan nada suaraku. Bang Rahman hanya diam.
"Abang pintar kan? Nurut sama ibu ya nak"
Dan ajaibnya, Azka menuruti perintah abi barunya. (abi baru?? Seolah olah aku sudah menikah lagi 🙈)
"Abi tunggu abang ya, tak oleh kemana mana."
"Oleh oleh apa yang abang mau?"
Kakaf berdiri di belakangku dan aku sedikit terkejut.
"eits.. Woles de, santai, ojo ngamuk ngamuk."
Aku hanya mendelik tak suka pada Kakaf. Kemudian membawa kedua anakku untuk mandi.
Kakaf mengikuti langkahku.
"Kenapa ikutin kami?"
"Kamu hamil de, takut susah mandikan anak anak. Biar kakak yang mandikan abang. Azwa sudah pintar kok mandi sendiri."
"Ade baik baik aja bang. Biar ade yang mandikan mereka."
__ADS_1
"Jangan keras hati, perut kamu sudah besar. Resikonya lebih besar jika terjadi sesuatu."
Kakaf mengambil alih azka dariku. Membawanya kekamar mandi, dan kemudian terdengar tawa keduanya.
"Kakakmu di sini de?"
Kak Ira masuk ke kamar yang pintunya memang tidak kututup.
"Tuh kak, dengar suara tawa mereka di kamar mandi."
Kak ira mengetuk pelan kamar mandi. Terlihat kepala kakaf muncul di depan pintu.
"Kenapa yang?"
"Ada keluarga yang mau pulang. Kakak di tunggu".
"Okey, bentar ya sayang. Aku selesaikan Azka dulu."
Kak Ira mengangguk. Kemudian beralih menujuku.
"kakak keluar dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi".
"Kakak janji cerita dengan ade kan?"
"Cerita apa?" kak Ira mengerutkan alisnya.
"Tentang orang yang disebut anak anak abi".
"Ooohh bang Rahman? Nanti kak Ira cerita. masih banyak tamu di luar. Kakak keluar dulu ya dek."
Kak Ira mengelus kepalaku.
"Azwa ikut umma ke luar?"
Kak Ira bertanya pada azwa yang duduk di sofa kamar memainkan ponsel kakaf.
"Umma?" aku yang bertanya pada kak Ira.
"Iya, kak Ira minta anak anak memanggil kakak dengan sebutan umma"
Aku tersenyum.
"Kakaf dipanggil apa?"
"Tetaplah om Izal ganteng"
Kakaf yang keluar dari kamar mandi yang menjawab pertanyaanku.
"Huh"
Aku memberi cibiran pada kakaf.
"Abang pakai baju sama ibu ya. Om izal di tunggu kai di luar. Habis pakai baju, om Izal tunggu di luar ya."
"Abang mau sama abi."
"Iya, abinya abang juga ada di luar. Pakai baju dulu sama ibu."
Kakaf kemudian keluar bersama kak Ira.
Aku memakaikan baju anak laki lakiku.
"Cepat ibu, abang mau sama abi."
"Kenapa abang selalu dengan abi?"
"Abang mau punya abi. Abang mau tidur sama abi."
Seketika aku membeku.
Anakku menginginkan sosok seorang ayah. Apakah azka merindukan ayahnya?
Apakah sosok kakak kakakku tidak bisa mengisi posisi itu di mata azka?
Seketika lidahku terasa kelu. Dadaku sesak.
__ADS_1
Ya Alloh, apa yang harus kulakukan?