
Suara pintu terbuka membuat kami berhenti tertawa. Kakaf sudah selesai menjalani pengelupasan kulit yang kedua. Kupikir kakaf tidak akan di perban lagi, ternyata luka lukanya masih di bungkus, tapi kali ini menggunakan kain kasa tidak dibungkus perban lagi.
Agak ngeri melihat kulit yang memerah. Sekarang luka luka bakar itu nampak dengan jelas. Tidak seperti kemarin yang tertutup perban.
"Belum sadar?"
Bapak bertanya pada dua orang perawat pria yang masuk mendorong tempat tidur kakaf.
"Sudah pak, tapi belum sepenuhnya sadar. Tadi di ruangan tunggu OK, sudah membuka matanya sebentar"
"Bagaimana kondisi anak saya?"
"Tanya dokter ya pak, nanti dokter Ari akan menjelaskan pada bapak. Sebentar beliau akan kemari, masih membersihkan diri tadi"
"Iya, terima kasih ya mas"
"Sama sama pak, kami permisi dulu"
Kedua perawat keluar, kami pun serempak berkumpul di samping tempat tidur kakaf.
"Mumpung orangnya belum sadar kak, mau liat si item gak?"
Kak Fian kembali melucu.
"Udah gak lucu lagi Fian, nanti kamu cek sendiri ya, kalo itu si item berubah jadi merah kayak kulit yang ini nih, berarti hari ini si item ikut pengelupasan juga"
"Fian perlu foto gak sebagai barang bukti kak?"
Sebelum kak Andi menjawab, Bapak menjawab lebih dulu.
"Sudah, adik sendiri dijadikan bahan bully. Mau item, mau merah, yang penting masih berfungsi dengan baik. Paling tidak buat kencing"
__ADS_1
Kata kata bapak yang terakhir kembali membuat kami tertawa. Sampai ada suara ketukan pada pintu kamar.
"Selamat siang"
"Selamat siang dokter"
Kami pun semua menyingkir dari pinggir tempat tidur kakaf kecuali bapak.
Dokter Ari masuk bersama seorang dokter wanita. Cantik, memakai hijab. Kulitnya putih bersih.
"Saudara Izal sudah mulai membaik pak, luka lukanya juga tinggal penyembuhan. Tapi karena usia yang tidak muda lagi, maka kulitnya akan sulìt untuk sembuh sempurna. Beda dengan kulit anak anak yang masih bisa ber regenerasi".
Kak Fian berbisik padaku.
"Saudara Izal sudah membaik, emang kapan kita saudara saudara nya Izal ini rusak atau sakit?"
Aku mencubit pinggang kak Fian agar diam dan tidak membuat masalah. Kak Fian terkekeh sambil menghindari cubitanku. Kak Andi melirik pada kami berdua.
"Sakit de" protes Kak Fian padaku.
"Makanya diam kak, dengarin tu apa kata dokter"
"Dokternya cantik, sudah punya suami belum ya. Lumayan buat Izal"
"Kakfi, diam ih.. Dimarahin bapak lho"
Kulihat bapak mulai melihat pada kami yang dari tadi bisik bisik sendiri. Dan Kak Fian pun akhirnya bungkam.
Dokter cantik itu bernama dokter Arisa. Dokter bedah pengganti dokter Ari karena beliau akan melanjutkan pendidikannya. Semua penanganan tentang Kakaf sudah di serahkan pada dokter Arisa.
Karenanya pada hari ini dokter Ari memperkenalkan dokter Arisa pada bapak sebagai penggantinya. Tetapi semua tindakan kedepannya nanti tetap di monitor dan diarahkan oleh dokter Ari. Ngeri juga sih, dokter bedah baru lulus, baru diangkat jadi pegawai dan langsung menangani kakaf. Karenanya dokter Ari menyakinkan kami, bahwa semua masih dalam pengawasannya.
__ADS_1
"Kami permisi dulu pak, aaaahhh suaranya merdu ya pak"
Kak Fian memulai dramanya ketika dokter Ari dan dokter Arisa sudah keluar dari ruangannya kakaf.
Bapak yang sedang memperhatikan luka luka kakaf hanya diam
"Emang enak di cuekin bapak"
Kak Andi menyeletuk sambil beranjak mendekati bapak. Yang diikuti aku dan Kakfi.
"Bisa hilang gak luka luka ini?"
Bapak bertanya pada kami sambil terus memandangi kakaf.
"Sembuh pasti pak, tapi mungkin berbekas. Kan dokter sudah bilang tadi, kulit orang dewasa agak susah untuk kembali normal lagi.
Kak Andi yang menjawab bapak.
"Kasian Izal, mudahan tidak ada wanita yang takut padanya nanti"
"Serahkan semuanya pada Alloh pak, pasti ada hikmah di balik musibah ini"
Kak Fian berkata sambil membelai punggung bapak.
"Tumben bijak kamu Fian. Bapak kira kamu cuma bisa membully".
Kak Fian hanya nyengir sambil menunjukan deretan giginya.
Aku pun ikut memandangi Kakaf seperti bapak.
Benar kata bapak, kasian kakaf. Semoga masih ada wanita yang mau di persunting kakaf menjadi istrinya.
__ADS_1