
Sudah pukul dua belas malam. Tapi bang Handi belum juga pulang. Sehabis mengantar kami kerumah bapak. Bang Handi pamit kerumah temannya dengan meminjam motornya Kakaf.
Sorenya bang Handi telpon untuk memintaku pulang lebih dulu membawa anak anak. Karena jika menunggu bang Handi, takutnya kemalaman. Sedangkan besok anak anak harus sekolah.
"Ada apa de?"
Kakaf langsung mengangkat telponku di dering yang pertama.
"Ayahnya anak anak sudah kembalikan motor Kaf?"
"Belum. Kakak pikir langsung dibawa Handi pulang".
"Bang Handi belum pulang Kaf".
"Sudah jam segini?"
Aku mengangguk walaupun kutahu kakaf tidak melihatnya.
"Mampir ke rumah perempuan mana dia?"
"Kakaaaafff"
Kakaf tertawa.
"Jangan khawatir. Sudah di telpon?"
"Gak aktif. Sudah dari satu jam lalu".
"Wah, bener bener mampir ke istri kedua tu"
"Kakaaaff, ade serius nih. Gak biasanya juga"
"Baterainya mati kali. Ntar kakak coba telpon. Sudah, dibawa berdoa aja".
"Iya kaf, nanti kalo bang Handi kembalikan motor, kasih tau ade ya"
"Iya, sudah tenang aja. Usahakan untuk tidur ya?"
"Terima kasih ya Kaf"
Aku memutus sambungan telpon dengan Kakaf. Terus terang ada sesuatu yang membuatku tidak tenang.
Bang Handi bukan sekali ini saja pulang hampir dini hari. Tapi kali ini aku benar benar gelisah. Kucoba untuk memejamkan mata. Tapi mata ini sulit untuk terpejam.
Akhirnya aku memasuki kamar anak anak. Dan berbaring di tempat tidur Azka sambil memeluknya.
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi ketika handphoneku berdering. Aku terkejut dan sontak duduk. Kutarik nafas sejenak sebelum melihat siapa yang menelponku.
"Halo. iya Kaf?"
"Buka pintu de, Kakak di depan rumahmu"
"Hah?"
"Nanti anak anak bangun kalo kakak bunyikan bel"
Aku pun beranjak menuju pintu depan. Kudengar memang ada suara mobil. Kuintip dulu dikaca jendela sebelum membuka pintu.
Bukan hanya Kakaf yang datang. Tapi ada Kak Mia dan Rei juga dua orang yang tidak ku kenal.
Aku pun langsung membuka pintu.
"Ada apa Kaf?"
Firasatku mengatakan ada sesuatu yang terjadi.
Kakaf merangkulku kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Kaf, ada apa?"
Aku mendorong badan kakaf yang memelukku.
Kakaf menarik nafas lebih dulu sebelum menjawabku.
"Handi kecelakaan, sekarang di rumah sakit"
Kakaf berkata sambil kembali mendekapku erat.
"Kak Mia dan Rei disini menjaga anak anak. Besok pagi dijemput kak Andi. Kasian kalo mereka dibawa malam ini. Ade ikut kakak malam ini ke rumah sakit ya?"
Aku diam tanpa reaksi.
"De?"
Kakaf melepas pelukannya dan mengangkat kepalaku. Air mataku sudah tumpah ruah tanpa suara.
"Ayo, siap siap. Pake jaket"
Kakaf meminta kak Mia menemaniku kekamar.
Setelah aku siap. Aku pun menitipkan anak anak pada Kak Mia.
"Besok pagi tolong kasih tau mertua ade di sebelah ya kak? Titip anak anak kak".
Kak Mia mengangguk sambil memelukku.
Aku pun pergi bersama kakaf di sertai dua orang asing yang belakangan baru kutahu mereka adalah polisi teman sekolah Kakaf dulunya.
"Keadaan Bang Handi gimana Kaf?"
"Kakak belum lihat, tadi sama kak Andi langsung di suruh jemput kamu"
Aku memandangi Kakaf yang dari tadi terus melihat keluar jendela.
Suaraku berubah karena menahan tangis.
Kakaf memandangku. Tampak kegelisahan di mata kakaf. Aku jelas melihat jika kakaf pun berusaha menahan tangis.
Aku langsung memeluk kakaf dan menangis.
"Apa yang terburuknya Kaf?"
"Kakak juga belum tahu. Tunggu di rumah sakit ya, kita lihat bersama".
Aku terus berada dalam dekapan Kakaf sampai kami tiba di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Daerah.
Ketika langkahku sampai. Kulihat Kak Alif, Kak Andi,Kak Fian, Bapak, Kak tertuanya Bang Handi dan juga Kakak nomor duanya. Semua ada di rumah sakit.
Aku terdiam sesaat. Mereka semua sudah tahu kejadian ini. Buktinya kedua kakak iparku sudah berada di sini lebih dulu dari aku.
Bapak langsung memelukku.
"Ikhlas ya nak. Ikhlas"
Aku luruh seketika di kaki bapak. Kakaf langsung memelukku.
"Ade mau lihat Bang Handi Pak?"
Kakaf membantuku berdiri.
Ditemani para polisi, kami masuk ke dalam.
Tidak kulihat bang Handi. Yang kulihat hanya seseorang yang terbaring tertutup kain di seluruh tubuhnya.
Aku kembali terjatuh. Bang Handi kah orang yang di tutup kain di seluruh badannya itu?
__ADS_1
Kali ini Kak Alif yang membantuku berdiri. Kulihat Kakaf menangis disamping tempat tidur orang yang tertutup kain. Hatiku semakin yakin jika itu memang bang Handi.
Tangisku pecah. Sunyinya pagi di ruang gawat darurat menjadi berisik karena tangisan dan teriakanku.
Aku protes pada Tuhan.
Aku berteriak seperti orang gila.
"Istighfar de.. Istighfar sayang"
Bapak membasuh wajahku dengan air.
Aku belum melihat bang Handi. Aku belum membuka kain penutup wajah itu. Siapa tau dia bukan bang Handi.
Kulangkahkan kaki tanpa semangat ke arah tempat tidur rumah sakit.
Bukan bang Handi.. Bukan bang Handi..
Kata kata itu yang kuyakini sambil terus melangkah maju.
Tanganku sudah siap membuka kain penutup ketika Kak Alif menahannya.
"Kamu harus kuat de"
Aku mengangguk sambil terus menatap ke arah tempat tidur. Kak Alif yang membukanya perlahan.
Begitu kainnya terbuka. Tangisku langsung kembali pecah. Aku memeluk tubuh yang terbaring kaku itu. Memintanya untuk bangun kembali.
"Jangan bercanda bang. Ayo bangun. Anak anak masih kecil, anak anak masih butuh abang"
Aku terus menangis.
Kak Fian dan Kak Andi berusaha mengangkatku. Memisahkan ku dari tubuh yang kupeluk.
"Jangan seperti ini de, kasian Handi. Ikhlaskan, biar jalannya Handi mudah".
Aku terus memeluk. Tidak kuhiraukan suara suara membujukku.
Sempat kudengar suara tangisan Kakaf di sisi tempat tidur yang lain.
"Izal, jangan seperti ini. Kasian ade. Kamu harus kuat. Ade butuh kita zal".
Kudengar suara Kak Andi mengingatkan Kakaf.
Sebelum semuanya menjadi gelap tanpa suara.
Bawa aku bang Handi.
###############
Aku berada dalam perawatan para dokter karena sempat tidak sadarkan diri. Bang Handi pun harus menjalani proses otopsi. Tapi aku menolak otopsi bagian dalam. Aku mengijinkan untuk di otopsi bagian luar saja.
Kenapa harus di otopsi?
Ternyata bang Handi tidak mengalami kecelakaan. Tapi Bang Handi adalah korban pembegalan.
Itu yang sempat kudengar dari polisi ketika aku bertanya kenapa harus di otopsi.
Untuk cerita lebih jelasnya, aku pun belum mengetahuinya.
Yang kuketahui saat ini adalah, bahwa aku hamil.
Ketika aku tidak sadarkan diri tadilah. Para dokter memeriksaku dan mengetahui kehamilanku.
Aku kembali histeris ketika mengetahuinya. Aku kembali menangis. Kembali menyalahkan sang pencipta atas kejadian ini. Aku benar benar kehilangan akal sehatku.
Dan akhirnya aku pun kembali tidak sadarkan diri.
__ADS_1
berharap ketika aku sadar nanti, semua ini hanyalah mimpi.