
"Maafkan ade pak!"
Seperti saran Bang Handi, sepertinya aku memang harus berbicara empat mata dengan bapak.
(Tanpa tukul arwana diantara kami)
Bapak membalas pelukanku sambil menciumi kepalaku.
"Bapak juga salah, seharusnya bapak bicara dulu dengan ade. Bapak juga minta maaf ya dek".
Aku mempererat pelukanku pada bapak. Agak sedikit lega setelah aku berbicara dengan bapak.
"Bapak tidak akan pernah memaksa ade buat menerima wanita lain pilihan bapak. Tapi paling tidak, bersikaplah yang baik. Bapak dan almarhum mama tidak pernah mengajarkan untuk tidak sopan dengan yang lebih tua kan?"
"Maafkan ade pak.."
Hanya kalimat itu yang lagi lagi keluar dari mulutku.
Kakan,Kakfi,Kakaf dan Bang Handi hanya diam tanpa komentar melihat adegan yang mereka tonton secara live ini.
Kedua anakku bermain bersama Rei.
Ya, akhirnya aku menyetujui usul Bang Handi untuk berbicara dengan bapak dan meminta maaf. Di pilihlah rumah Kak Andi buat pertemuan kami kali ini.
Jangan di tanya kemana Kak Alif.
Perang dinginnya dengan Kak Andi masih berlangsung. Aku pun sudah berjanji dengan Bang Handi,untuk kemudian menemui Kak Alif dan mendamaikan kembali Kak Alif dan Kak Andi.
"Ade mau kembali ke rumah?"
Aku memandangi Bang Handi sebelum menjawab pertanyaan bapak. Sebelumnya aku dan Bang Handi sudah membicarakan hal ini.
"Maaf pak, ade mau mandiri. Kalo ade terus dengan bapak, kemungkinan konflik akan ada lagi. Biarkan ade tinggal berpisah ya pak?"
"Bapak bisa pindah kalo ade merasa kurang nyaman".
Aku menggeleng
"Jangan pak. Ade biasa dimanja bapak dan kakak kakak, karenanya ade jadi keras kepala. Biarlah ade berpisah rumah, supaya ade bisa belajar".
"Tapi janji untuk sering sering datang".
"Insya Alloh pak, kalo Kakaf jadi mewakafkan mobilnya untuk ade"
Kakaf yang namanya kusentil tertawa kecil.
"Katanya mo mandiri. Beli lah mobil sendiri"
Aku menoleh pada ketiga kakak laki lakiku.
"Okey, ade beli sendiri. Mana uangnya??"
Aku menadahkan tanganku pada mereka.
"Minta sama Kak Alif. Lagi tajir tu. Kasusnya menang. Dijanjikan mobil kan".
Aku mengerutkan dahiku. Bukan masalah info yang kudengar. Tapi masalahnya si pembawa info.
"Kakan tau dari mana?"
Aku pun akhirnya bertanya.
"Ada teman kakak yang kasih info"
Aku membulatkan mulutku tanpa suara.
"Kirain, Kak Andi makan siang bersama sambil ngobrol sama Kak Alif"
Kakaf berkata sambil tertawa dan lari menuju dapur.
__ADS_1
Lebih baik menghindar ya Kaf, dari pada di geplak kepala sama Kak Andi.
"Maaf ya Kak, karena ade Kakan jadi perang dingin sama kakal"
Aku pun mendekati kak Andi dan memeluknya sesaat.
"Kak Alif itu selalu merasa benar. Jadi biar saja. Kakak senang, dia gak telpon kakak lagi suruh ini itu".
Aku tertawa kecil.
"Biar bagaimana pun juga, Alif yang paling tua. Kalian harus minta maaf. Salah atau benar. Kalian harus minta maaf".
Bapak kembali bersuara mengingatkan kami.
"Iya pak, Nanti ade juga mau kerumah Kakal. Ade juga merasa salah. Karena ade, dua kakak jadi perang dingin"
Kakaf kembali ke ruang tengah tempat kami duduk berkumpul.
"Masih mau ngobrol atau makan nih? Kak Mia udah selesai masak tuh. Kalo masih mau ngobrol, lanjutin aja. Tapi Izal duluan makan yaa"
"Eeehhh.. enak aja. Sini kamu"
Kak Andi memanggil Kakaf.
"Ogah, mo menjalankan perintah kak Mia dulu. Manggil anak anak buat makan"
Kakaf berjalan sambil bersiul menuju teras depan dimana anak anakku bermain.
Aku tersenyum dalam diam.
Ya Alloh, hampir saja aku kehilangan semua moment ini.
##########
Aku menunggu Kak Alif yang sedang mandi.
Kak Fani mengelus lenganku lembut. Aku membalas dengan anggukan sambil tersenyum.
Aku berada di rumah kak Alif. Aku masuk lebih dulu. Ketiga kakak laki laki yang lain menunggu di teras. Skenario sudah kami buat. Aku dulu meminta maaf, menyelesaikan lebih dulu masalahku. Baru kemudian permasalahan Kak Alif dan Kak Andi.
Kak Fani menemaniku di ruang keluarga mereka. Tak lama kemudian Kak Alif keluar kamar menggunakan sarung dan baju koko.
Kak Alif memandangiku dengan tatapan lasernya.
"Ade nungguin abah lho dari tadi"
Kak Fani mencairkan suasana diantara aku dan Kak Alif.
Aku melangkah mendekati Kak Alif dan memeluknya. Kak alif diam, tidak mengucapkan satu kata pun dan tidak balas memelukku.
"Ade minta maaf kak"
Aku kembali menangis dipelukan Kak Alif.
"Ade sudah kurang ajar. Ade gak sopan sama yang lebih tua. Ade minta maaf"
Aku berkata dengan suara yang teredam tangis.
Kak Alif menghembuskan nafas dan melepaskan pelukanku.
Kak Alif memandangiku yang masih menangis terisak di depannya.
"Ayo duduk !"
Kak Alif menarikku menuju kursi yang tadi kududuki"
"Kakak iparmu membuat minuman itu untuk di minum".
Aku mengerti maksud kak Alif dan meminum air yang sudah di siapkan Kak Fani.
__ADS_1
"Sudah minta maaf sama bapak?"
Aku hanya mengangguk.
"Sudah sadar kalo ade salah?"
Aku kembali mengangguk.
(daripada urusannya panjang kan?)
"Janji ade jangan begitu lagi?"
Lagi lagi aku mengangguk.
"Ade sudah jadi istri dan ibu. Jangan bersikap kekanakan lagi. Berpikirlah yang dewasa. Positif thinking. Jangan selalu berpikiran negatif"
"Maafkan ade kak"
"Lupakan. Yang penting ade sudah tau kesalahan ade".
Aku pun kembali memeluk kak Alif. Kali ini kak Alif membalas pelukanku dan mencium keningku.
"Kakak sayang sama kamu. Karena itu kakak menegurmu"
"Ade mengerti kak"
Aku menghapus cairan yang keluar dari mata dan hidungku.
"Ade juga minta maaf, karena ade kakak dan Kakan jadi berselisih paham".
(minta maaf edisi kedua nih)
"Lupakan juga. Sesama saudara sudah biasakan berselisih paham".
"Kakan ada di luar kak. Ade panggil dulu ya"
Alif mengangguk dan memandangiku yang keluar rumah memanggil Kak Andi.
Kak Alif berdiri ketika aku dan Kak Andi sudah masuk kembali.
"Andi minta maaf kak"
Kak Andi mencium tangan Kak Alif. Dan kak Alif langsung memeluk Kak Andi.
"Aku juga minta maaf"
Kak Andi dan Kak Alif berpelukan. Aku pun langsung ikut memeluk mereka berdua.
Kak Andi melepas pelukannya pada Kak Alif dan secara tiba tiba kak Alif dan Kak Andi memelukku. Kami berpelukan bertiga dengan aku yang berada di tengah.
"Ade minta maaf"
Lagi lagi kalimat itu yang kuucapkan.
Mereka berdua serempak mencium pipiku dan kami kembali berpelukan.
"Berpelukaaaannnnn"
Tiba tiba Kakaf dan Kak Fian datang dan ikut memeluk. Kami berpelukan berlima.
Aku tertawa didalam pelukan mereka. Tawa bahagia karena aku kembali kedalam pelukan kakak kakakku.
"Ayo liat sini"
Kak Fani memanggil kami. Kami pun serempak menoleh pada Kak Fani.
"Smileeeeee"
Kak Fani pun mengabadikan moment kami kali ini. Aku tersenyum bahagia.
__ADS_1