
KAK FIAN POV
########
Kalian tau bagaimana sakitnya jika kita terjatuh.
Bagaimana perihnya luka terbuka yang harus kita obati pakai salep atau obat bubuk.
Sakitnya itu nyata. Lukanya itu ada terlihat.
Tapi sakit yang kurasakan sekarang ini tidak nyata. Perihnya luka tidak terlihat.
Dadaku sakit ketika melihat adik perempuanku depresi. Hatiku perih melihat bapak menangis melihat keadaan ade.
Keluargaku berubah dalam semalam.
Bapak sering kali menangis dalam diam.
Kak Alif tidak pernah lagi memerintah kami dengan pelototan matanya.
Kak Andi sekarang lebih banyak melamun.
Izal yang biasa mempunyai seribu banyolan sekarang tidak akan bicara jika tidak di tanya.
Jika dulu kami berkumpul di hari minggu, akan ada perdebatan panjang antara aku, Izal ataupun ade.
Yang hanya akan berhenti jika Kak Alif membuka suaranya.
Tapi sekarang, jika kami berkumpul lebih banyak diam dari pada bicaranya.
Azka yang riang pun sekarang lebih cerewet. Mungkin azka kangen pada ibunya. Beruntunglah kak Mia dan Kak Andi bisa menangani Azka.
Kadang kala Azwa kubawa kerumah atau di bawa nenek muda tidur di rumah bapak. Sekedar mengurangi beban kak Mia mengurus dua orang anak. Walaupun aku tahu kak Mia sangat menyayangi mereka berdua.
Setiap pulang kantor, aku selalu menyempatkan diri untuk melihat ade. Dan bukan hanya aku, ketiga saudaraku yang lain pun pasti juga berada disana.
Seperti bapak yang bersyukur memiliki anak anak seperti kami. Aku pun bersyukur memiliki saudara seperti mereka. Kami saling bahu membahu untuk saudara yang satu dengan saudara lainnya.
"Gimana ade kak?"
Aku duduk disamping Kak Andi. Giliran Izal dan Kak Alif yang berada di dalam ruangan rawat inap ade karena aku terlambat datang.
"Sudah mulai ada kemajuan. Sudah mau tersenyum tadi".
"Alhamdulillah. Sudah sebulan kak".
Kak Andi menarik nafas panjang.
"Aku takut Fian"
"Takut?"
Aku memandangi kak Andi yang terus menatap ke depan. Entah apa yang dipandanginya.
"Aku juga bingung apa yang kutakutkan. Tapi kejadian ini merubah total keluarga kita".
Aku juga menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Fian juga merasakannya kak".
"Usaha apa lagi untuk membuat ade sembuh? Nyatanya ade sudah hampir satu bulan disini".
Kak Alif tiba tiba keluar ruangan.
Aku pun menggantikan Kak Alif untuk masuk.
Hanya boleh dua orang yang masuk kedalam ruangan pasien.
Kulihat ade duduk dikursi dekat jendela kamarnya. Memandang jauh keluar jendela.
"De, liat siapa lagi yang datang".
Izal yang duduk di samping ade sambil memegang buah apel memberitahukan kedatanganku.
Ade menoleh melihatku. Dan senyumnya membuatku langsung melangkah cepat mendekatinya.
__ADS_1
"Kakfiiiii"
Ade memeluk perutku karena aku berdiri disampingnya. Kukecup berkali kali pucuk kepala adik perempuan kesayangan kami ni.
Air mata mulai mengembun di kedua ujung mataku.
"Alhamdulillah"
Hanya itu yang bisa kuucapkan.
Ade mengangkat kepalanya dan menatapku dengan puppy eyes nya. Mata yang selalu membuat kami menuruti apa pun maunya.
"Kakak sehat?"
Ade bertanya padaku yang kujawab dengan anggukan karena aku tidak bisa berkata kata lagi.
"Ade kangen kakak"
"Kakak juga"
Ade kembali mengeratkan pelukannya padaku.
"Ayo de, dimakan lagi buahnya"
Ade melepas pelukannya padaku dan menatap Izal.
"Katanya ade mau pulang? Ayo dimakan lagi, biar cepat sembuh. Habis ini istirahat kan?"
Ade mengangguk dengan patuh dan menerima suapan dari Izal. Aku mengelus kepalanya lembut sambil memandang Izal yang juga memandangku. Ada kode sendiri yang kami ungkapkan lewat tatapan mata kami.
Kak Alif membuka pintu dan memunculkan kepalanya.
"Gantian Zal,.Fian. Bapak mau masuk".
"Bapak datang?"
Ade tersenyum kembali mendengar bapak datang mengunjunginya.
Aku pun kembali memeluk ade dan kembali mencium kepalanya.
Ade mengangguk sambil melepas pelukannya padaku kemudian gantian memeluk Izal.
"Ikuti apa kata dokter ya de"
Ade kembali mengangguk.
Aku dan Izal akhirnya keluar dan bergantian dengan bapak dan nenek muda yang baru saja sampai.
"Cepet banget pak datangnya"
Izal melayangkan protes pada bapak.
"Kata Andi kamu sudah tiga shift. Dari Alif, Andi, Fian. Kamu gak ada keluar".
Bapak pun masuk kedalam tanpa peduli lagi protesannya Izal.
"Ada yang perlu kita bahas"
Kak Alif memintaku dan Izal untuk mendekat.
"Menurut kalian, apa ade sudah bisa keluar dari rumah sakit?"
"Tadi ade terlihat baik baik saja kak"
Izal yang menjawab.
"Tadi dokter memanggil kakak. Mereka meminta kita membawa ade pulang."
"Kenapa? Apa mereka menyerah?"
Kak Andi mulai menaikkan suaranya satu oktaf.
"Bukan seperti itu ndi, dengarlah dulu!".
Kak Andi pun bungkam setelah mendengar nada suara kak Alif yang juga naik satu oktaf.
__ADS_1
"Dokter bilang, lebih baik ade bersama keluarganya secara penuh. Kehisterisannya sudah tidak tampak lagi. Ade hanya perlu orang orang yang perduli dan sayang padanya. Kalo di rumah sakit, terbatas waktu yang kita miliki untuk bersama ade. Di rumah, ade bisa bersama kita dua puluh empat jam".
"Jika tiba tiba ade kembali histeris kak?"
Pertanyaan bodoh yang kulontarkan pada kak Alif membuat kak Alif kembali melototkan matanya padaku.
"Jangan berdoa seperti itu. Berdoa lah biar ade tidak kembali histeris"
"Maaf" Aku bersuara dengan pelan.
"Jika kalian setuju ade pulang ke rumah bapak. Kakak akan bicara dengan bapak setelah ini"
"Andi setuju kak. Jika di rumah, pelan pelan kita bisa mengajak Azwa dan Azka bertemu ibunya. Kasian mereka, seperti anak yatim piatu saja"
"Merek bukan yatim piatu. Masih ada kita kan? Kita juga orang tua mereka"
"Fian juga setuju kak"
Aku cepat memutus ucapan kak Alif, sebelum kak Alif mengeluarkan seluruh pasal pasal yang dipelajarinya.
"Izal?"
Izal pun mengangguk sebelum berkata setuju.
"Baiklah, kakak akan bicara dengan bapak dulu sebelum bicara dengan dokter lagi"
Aku, Izal dan Kak Andi kembali terdiam.
Bapak pun keluar dan duduk bersama kami.
"Alhamdulillah, ade sudah ceria. Sudah mau bercerita"
"Izal masuk lagi ya"
Izal pun berdiri dan bersiap untuk melangkah.
"Duduk zal, ada yang harus dibicarakan. Mumpung kita berkumpul disini".
Izal pun kembali duduk.
"Sebelum nya apa kata dokter Lif?"
Bapak bertanya pada kak Alif. Dan kak Alif menjelaskan seperti yang di bicarakannya pada kami tadi.
"Bapak setuju. Lebih tenang jika ade di rumah. Bapak juga lebih tenang jika ade ada di dekat kita".
"Tapi kita tetap harus mencari perawat perempuan yang merawat ade pak. Yang membawanya ke kamar mandi. Tidak mungkin kami yang para lelaki ini kan?"
Aku tahu pertanyaan kak Alif pada bapak hanya untuk memancing reaksi bapak.
"Untuk apa perawat. Di rumah kan ada aku?"
Nenek muda yang sejak tadi berdiri di depan pintu langsung menjawab pertanyaan kak Alif.
Kak Alif tersenyum. Yang artinya, umpan terpatuk.
"Akan merepotkan nek"
Kak Alif kembali menimpali.
"Tidak akan repot. Yang bersih bersih rumah kan sudah ada orangnya. Kerjaan ku cuman masak buat Bapak. Izal juga jarang di rumah. Biar aku yang mengurus ade".
"Benar nenek tidak akan kerepotan?"
"Tidak, tenanglah. Bapak di cari ade"
Nenek muda memanggil bapak.
"Bapak masuk sebentar. Habis ini kita bicara lagi masalah Izal. Jangan lari kamu!"
Bapak menepuk pundak Izal sambil berlalu masuk ke dalam ruangan ade.
Aku, kak Andi dan Kak Alif menatap Izal serempak.
Ada masalah apa dengan Izal???
__ADS_1