Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
Tak Tahu terbakar atau apa..


__ADS_3

Semakin hari kondisi Kakaf semakin membaik. Kami bergiliran menjaga di rumah sakit. Bahkan di malam pertama di rumah sakit, bapak pun ikut menginap di sana menjaga Kakaf.


Kakaf sudah menjalani operasi pengelupasan sewaktu di rumah sakit pertama dulu kakaf di rawat, dan hari ini Kakaf kembali akan melakukan operasi pengelupasan kulit yang kedua.


"Fian.." Kak Andi sepertinya bersiap untuk memulai debat kami hari ini.


"Kenape my bro?"


Kak Andi dan Kak Fian memang begini bila berinteraksi. Lebih santai, sama seperti Kakaf, tidak seperti Kak Alif yang selalu serius.


Kata Kak Andi sih, "makin banyak kerutan dan uban Kak Alif karena terlalu serius".


Tentu saja kata kata itu hanya terucap pada kami, tidak pada Kak Alif.


"Kamu kan yang paling sering menjaga Izal?"


"Iya, kenapa kak?"


"Izal kalo pipis pake apa?"


"Pispot laaahhh, emang Fian bawa ke kamar mandi?"


"itunya masih okey gak?"


"itu apa sih kak?"


Aku juga penasaran dan mendekat ke Kak Andi.


"Hus, ni anak kecil" Kak Andi mengusirku menjauh.


"Ade tu anak kecil yang sudah bisa bikin anak kecil kak, maksud kak Andi tu juniornya Izal?"


Kak Fian mempertegas. Dan dianggukin kak Andi.


"Okey, msh keras aja kalo mau pipis".

__ADS_1


"Terbakar gak?"


"Item sih kak, gak tau itu terbakar atau apa".


Aku tertawa, Kak Andi melempar Kak Fian pake bantal. Dan kemudian kami tertawa bersama.


Bapak datang bersama putra Kak Andi.


"Ketawa kalian terdengar sampai ujung"


"Fian tu pak".


"Eh, kak Andi lah"


"Sudah, damai sehari coba".


Bapak duduk disampingku dan membelai rambutku yang tertutup hijab.


"Duh, si anak cewek atu atunya aja yg dibelai"


"Kamu mau bapak belai? Sini!".


"Gak ah, gak mau ambil jatah Izal. Nanti Izal ngambek lagi kalo ga di belai"


Aku dan Kak Andi yang mengerti maksud Kak Fian kembali tertawa.


"Apa sih kalian ini? Kerasukan penunggu kamar ini?"


"Kata Fian penunggunya item pak, gak tau itu karena terbakar atau apa".


Kak Andi kembali terkekeh.


"Gak usah macam macam, bapak tau maksud kalian itu lain"


"Itu paaakkk.." aku mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Kakan nanya kakfi, juniornya kakaf masih okey gak? Terbakar apa gak? Kan kakfi yang membersihkan tubuh kakaf"


"Baru kakfi bilang, item sih tapi gak tahu itu terbakar atau tidak"


Bapak dan anak kak Andi ikut tertawa.


"Eh, ada anak kecil beneran ini"


Kak andi baru sadar kalo ada anaknya bersama kami.


"Udah mo tujuh belas tahun Pah, sudah paham Rai". Anaknya kak Andi membela diri.


"Tetap aja bagi papah kamu masih kecil"


"Makanya Rai, jangan jadi anak tunggal.. Ga enak kan? Minta ade sama papahmu?"


"Ade dari Papah Fian aja.. Rai sudah tenang jadi anak tunggal. Enak punya ade sepupu aja. Bosan main, di pulangkan lah kerumah orang tuanya".


"Amiiinnnnn.. Doakan papah Fian ya nak"


"Doa Rai itu selalu ada buat semua Papahnya Rai".


"Apalagi kalo habis dapat selipan di tangan pas salim kan Rai?"


Aku menimpali.


"Benar bu, itu doa Rai berkali lipat dah"


Kami semua kembali tertawa.


Sejak aku mempunyai anak, keponakanku semua ikut memanggilku ibu. Bukan lagi tante.


Dan panggilan pun banyak yang berubah.


Kak Alif minta dipanggil abah dengan semua keponakannya. Kak Andi tetap minta dipanggil Uwa. Kak Fian dipanggil papah dan kak Izal tetap dengan om izal ganteng.

__ADS_1


Kata Azwa sih.. "O ijal anteng"


Iyaaaa.. Om Izalmu memang anteng, apalagi sekarang disaat semua tubuhnya terbalut perban. Anteng tidak bergerak sama sekali.


__ADS_2