Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#34


__ADS_3

"Rahman itu duda. Bercerai dari istrinya setelah delapan tahun menikah"


Kak Ira bercerita padaku pagi ini saat kami berjalan kaki dari pasar. Aku sering berjalan pagi dengan kak Ira. Katanya Ummi biar anak didalam perutku sehat dan kuat.


"Kakak sebenar malas bercerita. Tapi karena kamu penasaran, ya terpaksa kakak cerita".


Aku mencubit lengan kak Ira.


"Penasaran apanya? Anak anak suka bermain dengannya. Ade kan harus tahu siapa dia. Takutnya anak anak di culik".


Kak Ira tertawa kecil.


"Ada ada saja kamu de. Ŕahman itu penyayang anak-anak. Setiap anak yang dekat dia pasti betah".


"Anaknya sendiri kan ada? Apa sama mantan istrinya?"


"Mereka tidak di karuniai anak. Karena itu mereka bercerai".


"Yang gak bisa punya anak siapa?"


"Entahlah de, kak Ira juga tidak tahu. Mantan istrinya sekarang sudah menikah lagi. Dan sudah hamil".


"Mungkin mereka kurang sabar saja kak. Padahal kalo mereka menunggu dengan sabar. Eh, tapi qadarallah ya kak. Semua kan Alloh yang menentukan".


"Pintar sekarang adenya kak Ira. Sudah tahu kan, semua yang terjadi itu atas ijin Alloh. Misalkan juga nanti ade menikah lagi. Itu juga atas ijin Alloh. Walaupun di dalam hati ade menolak untuk menikah lagi".


Aku tersenyum.


Benar kata kak Ira. Walaupun aku menolak, jika Alloh sudah berkehendak, semua pasti akan terjadi. Eh, apa aku ingin menikah? Siapa yang mau dengan wanita punya anak tiga?


Kami sampai di halaman pesantren. Dan pemandangan yang kulihat pertama kali adalah kakak Azwa yang bermain sepeda dengan abi barunya. Sedangkan Azka duduk manis bersama kakaf menjadi penonton mereka. Di teras depan tampak Kak Alif dan bang Rahim bersama istri mereka masing masing.


"Assalamualaikum"


Kak Ira memberi salam. Yang langsung dijawab oleh mereka semua. Kak Ira langsung menghampiri kakaf dan mencium tangan Kakaf. Sedangkan Kakaf, mengambil alih belanjaan di tangan kak Ira.


"Pengantin baru langsung kepasar"


Kak Mira yang lebih dulu menegur kami. Aku duduk di tempat kakaf tadi duduk sambil menemani Azka anakku.


"Sudah biasa kak, sekalian menemani yanti jalan pagi. Kata ummi, biar melahirkannya mudah".

__ADS_1


"Ibu, kakak bisa naik sepeda"


Suara Azwa memecah pembicaraan kami. Semua bertepuk tangan memberikan applaus buat Azwa.


"Ayo, semua sarapan dulu."


Kak Mia keluar memanggil kami semua. Aku berdiri dibantu kak Mia.


"Ayo, bang, sama mamah uwa"


"Abang mau sama abi"


"Waduh, mamah Uwa sudah tersingkir ini"


Aku hanya diam memandangi putraku menggandeng tangan pria yang disebutnya abi.


"Kamu tahukan kenapa azka seperti itu?"


Kak Alif berdiri disampingku sambil meraih bahuku.


"Ade pikir, kehadiran julak julaknya dapat mengisi ketidak hadiran ayahnya kak"


Aku hanya menarik nafas panjang kemudian mengikuti langkah kak Alif untuk masuk.


##########


Siang ini seluruh keluarga besarku akan kembali pulang. Hanya Kakaf yang untuk sementara masih akan berada di pesantren sebelum nantinya memboyong kak Ira juga kerumah kami.


Aku mengepang rambut putri tertua ku sambil menahan air mata. Bagaimana pun juga, aku akan kembali berpisah dengan mereka. Rasa sesak di dada kembali kurasakan setiap kali mereka pamitan padaku.


"Kakak nurut sama mamah uwa ya nak. Jangan nakal. Jangan suka berantem sama ade".


"Iya bu. Kakak tau. Kakak kan sudah besar".


Aku mendekap putriku. Usianya yang masih kecil mengharuskannya untuk berpisah dengan ayah dan juga dengan ibunya. Azka yang dari tadi selalu berada di sisi bang Rahman yang dipanggilnya abi. Menangis histeris ketika kak Andi mengambilnya dari tangan bang Rahman.


Bujuk rayu kak Andi tidak mempan di telinga Azka. Dia terus menangis. Sampai kemudian bang Rahman kembali menggendongnya barulah tangis itu reda. Entah kemana sekarang putra ke duaku itu. Mungkin bang Rahman sedang membujuknya.


Dan benar saja. Ketika Azka kembali muncul di depan kami semua dengan senyuman manisnya bersama dua mainan yang di dekapnya di dada dan satu plastik hitam yang di tenteng oleh bang Rahman berisi makanan kesukaan anakku itu.


"Kakak, ini mainan buat kakak. Abi yang belikan".

__ADS_1


Azka menghampiri kakaknya yang masih berada disampingku.


Aku memandang tajam laki laki yang dipanggil anakku abi. Dan dia pun memandangku dengan sedikit senyuman di bibirnya.


Kami tidak saling bertukar sapa atau berbicara sejak kami bertemu kemarin. Tapi tatapanku padanya setiap kali dia melihatku sudah menjelaskan bahwa aku tidak menyukai apa yang dilakukannya terhadap anak anakku.


Tapi pandangan matanya padaku selalu teduh, bahkan selalu diiringi sebuah senyuman walaupun tipis.


"Jangan marah de, maksudnya kan baik. Buat membujuk si abang"


Kakaf mengelus pundakku. Kakak ku ini paling mengerti akan situasi hatiku. Aku pun menarik nafas panjang untuk menetralkan emosiku sebelum aku menarik rambut laki laki itu karena emosi.


Bapak dan seluruh keluargaku berpamitan pada Abi Abdi sekeluarga dan juga keluarga abah Rasyid yang katanya baru akan pulang esok hari.


Dan aku kembali menangis di dalam pelukan bapak serta kakak kakakku.


"Pulanglah nanti bersama Izal ya de"


Aku hanya mengangguk tanpa suara.


"Ira akan bawa ade nanti pulang pak"


Kak Ira yang berkata pada bapak ketika mencium tangan beliau.


"Terima kasih sudah menjaga ade selama ini"


"Itu sudah tugas Ira, Pak. Saat Ira dan Kak Izal nanti pulang. Kami akan membawa ade".


Bapak juga berterima kasih pada Abi Abdi.


"Yanti juga putriku. Jangan berterima kasih berlebihan. Kita sekarang sudah menjadi keluarga".


Abi Abdi memeluk bapak.


"Kami akan mengundang kalian semua nanti di pernikahan Rahman. Insya Alloh di bulan depan".


Abah Rasyid memberitahu bapak ketika bapak berpamitan pada beliau. Bapak hanya mengangguk sambil tersenyum.


Dan bagiku, pemberitahuan dari abah Rasyid sebagai pengingat untuk diriku bahwa laki laki yang dipanggil anak anakku abi itu sudah akan menjadi milik orang lain.


Eh, memang selama ini kami ada hubungan? 😁

__ADS_1


__ADS_2