Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#31


__ADS_3

YANTI POV


Hari ini genap tujuh bulan kandunganku. Aku keluar rumah sakit khusus kejiwaan di saat kandunganku berumur tiga bulan. Sejak itu aku di rawat oleh istri baru bapak. Kesehatan mentalku yang sering turun naik menjadikan nenek muda objek dari kemarahanku.


Lemparan, makian, sering kali kulontarkan padanya. Tapi dengan sabarnya nenek muda tetap merawatku.


Liatlah Yanti, apa pantas kamu membencinya?


Kedua buah hatiku di rawat kak Mia. Kasian mereka, harus berpisah dengan ibu mereka yang menjadi pasien ODGJ. Kehilangan bang Handi membuatku hancur. Untunglah aku memiliki keluarga yang perduli padaku. Keluarga yang kutinggal pergi karena keegoisanku.


Suatu malam aku bermimpi. Bang Handi datang padaku. Mengelus perut buncitku. Yang membuatku takut dan gemetar didalam tidurku adalah kehadiran sosok lain disamping bang Handi. Entah apa maksud dari semua mimpi itu. Aku yang mempercayai mimpi adalah bunga tidur tidak lagi menjadi pengikutnya. Berhari hari aku memikirkan mimpi itu.


Sampai kami kedatangan tamu dari luar kota. Salah seorang sahabat bapak di waktu muda. Beliau datang bersama keluarga beliau. Istri, seorang putri beliau dan dua orang cucu. Bapak menceritakan pada beliau tentang keadaanku.


Masih kuingat tatapan sayang istri beliau padaku sambil mengelus lembut kepalaku.


"Waktu kecil, Yanti itu sering main kerumah ummi. Yanti ingat? Dulu kan suka diajak sama bapak sebelum Abi dan Ummi pindah ke Kairo."


Aku hanya menggeleng lemah.


"Lupa?"


Aku mengangguk


"Yanti mau tinggal sama Ummi di pesantren? Ada banyak teman nanti disana."


"Saya hamil ummi" Akhirnya aku membuka mulutku.


"Ummi tau, kan ada ummi juga kakak kakak di pesantren yang akan menjaga Yanti. Nanti Yanti bisa mengaji, bercerita apapun pada Ustadzah disana. Kakak Humaira juga ustadzah di pondok".


Ummi menunjuk putri beliau yang menutup wajahnya dengan cadar. Karena ada Bapak, kakak Humaira tidak membuka cadarnya. Kakak Humaira mendekatiku. Mengelus tanganku.


"Ayo tinggal bersama kakak. Ade perlu suasana baru. Di pondok nanti, ade bisa membantu kakak mengajar. Banyak santri santri disana."


"Ade malu kak"


"Apa yang ade malukan?


"Ade hamil. Apa kata mereka nanti."


"Apa ade hamil di luar nikah? Tidak kan? Anak ini punya ayah. Walaupun ayahnya sudah mendahului kita semua. Tapi tetap ada ayahnya kan?"


Aku kembali hanya mengangguk.


"Ade tidak perlu memikirkan apa kata orang lain. Alloh SWT tau mana yang terbaik buat ade. Sekarang ade hanya perlu belajar ikhlas. Untuk itu ade perlu seseorang yang membimbing ade. Ikutlah bersama kakak. Insya Alloh, Alloh akan membimbing kita semua".


Aku memandang Bapak, Nenek muda dan Kakaf yang duduk tidak jauh dariku, ummi dan kak Humaira.


"Bapak?" Aku bertanya pada bapak.


"Bapak terserah ade. Jika ade merasa lebih tenang ikut ummi. Bapak mendukung".

__ADS_1


"Anak anak?"


"Jangan pikirkan anak anak, mereka juga anak anak kami. Mereka akan aman bersama kami. Yang penting, ade sehat lebih dulu." Kali ini Kakaf yang menjawab pertanyaanku


"Pesantren juga tidak jauh kan? Bisa di tempuh tiga jam perjalanan darat. Anak anak bisa datang berkunjung nanti dengan bapak dan yang lainnya."


Bapak menguatkanku lagi.


Dan disinilah aku sekarang. Di Pesantren milik keluarga Ustad Abdi yang kupanggil Abi. Empat bulan sudah aku berada di pesantren ini. Dua minggu sekali bapak, nenek muda dan anak anakku serta kakak kakak laki laki ku datang mengunjungi.


Kesehatanku semakin membaik. Banyak pelajaran yang kudapat disini. Abi Abdi pun menyiapkan seorang psikiater untukku yang merupakan keponakan beliau. Aku di tempa dengan pelajaran agama untuk mempertebal imanku. Semua kujalani dengan kesabaran karena kata ummi kesabaran itulah yang utama.


Dan kesabaran Kakaf menduda selama tujuh tahun pun hari ini menuaikan hasil manis. Satu bulan yang lalu bapak melamar kak Humaira untuk Kakaf.


Sedikit agak curang memang, aku memberitahu kakaf bagaimana wajah kak Humaira di balik cadarnya. Aku yang setiap malam tidur bersama kak Humaira pun menjadi comblang untuk Kakaf. Dan hari ini Ijab kabul pun akan dilaksanakan.


"Bagaimana kabarmu de?"


Kak Andi memelukku yang diikuti oleh kak Alif, dan Kak Fian serta kakak kakak iparku.


"Anak anak mana kak?" Aku melihat kebelakang kakak kakakku.


"Masih pada tidur di mobil. Biar saja dulu mereka tidur, sekalian menemani Izal di mobil".


"Kakaf belum turun?"


"Gugup dia".


Kak Andi dan Kak Fian tertawa bersama.


Kak Fani mengelus lembut perutku.


"Semakin susah tidur kak"


"Rajin check up kan de?"


"Iya kak, calon kakak iparku yang baru rajin membawaku ke dokter".


"Alhamdulillah. Kita semua ikut senang, Izal mempersunting Humaira. Dia baik dan penyayang".


"Semoga Izal kali ini bahagia".


"Kita semua yang berbahagia bukan cuman Izal". Kak Alif memelukku.


"Kamu juga harus bahagia de. Doa kami selalu menyertaimu".


"Amiiinnn"


Semua serentak menjawab doa Kak Alif.


"Hei, kenapa menangis?"

__ADS_1


Kak Alif mengusap air mata yang tiba tiba saja jatuh dari kedua mataku.


"Terima kasih, kalian selalu ada buat ade. Maafkan ade"


"Keluarga itu harus selalu ada untuk satu sama lain. Jangan menangis".


Disaat aku tersedu di pelukan kak Alif. Terdengar teriakan dua bocah cilik.


"Ibuuuuuuuuu"


Aku melepas pelukan kak Alif dan berjongkok,merentangkan kedua tangan untuk menyambut kedua buah hatiku.


"Pelan pelan sayang, nanti jatuh"


Kudengar suara nenek muda yang berjalan di belakang mereka.


Aku memeluk kedua belah hatiku. Melepaskan semua kerinduanku pada mereka berdua. Air mataku kembali menetes.


"Hati hati sama perutmu de"


Bapak yang berjalan beriringan dengan Kakaf mengurai pelukan kami dan mengangkatku untuk berdiri.


Bapak mencium keningku dan hanya memeluk kepalaku karena kedua buah hatiku masih memeluk perut buncitku.


"Sehat de?"


Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan bapak. Pandanganku teralih pada Kakaf. Bapak mengambil alih kedua anakku.


"Ade kakak yang sudah jadi solehah kok nangis? Gak bahagia liat kakaknya mau nikah?"


"Kakaf kok hari ini gantengan yaa?"


" Emang kemaren kakak gak ganteng?"


"Enggak?" Aku menggeleng di dalam pelukan kakaf.


" Gimana nih anak cantik, sehat kan?"


Kakaf mengelus perutku yang hasil usg kmren memperlihatkan jenis kelamin perempuan.


"Jangan begini kaf, nanti dikira ini anak kakaf lagi."


" Biar saja, ade menangis di pelukan kakaf juga di kira orang menangis karena suaminya menikah lagi hari ini."


"Kakaf ih!"


Aku melepas pelukanku pada kakaf.


"Ayo, kita ke mesjid sekarang".


Bapak mengajak kami semua menuju mesjid tempat akad nikah kakaf dan kak Humaira akan dilaksanakan.

__ADS_1


Aku berjalan sambil menggandeng kedua buah hatiku di kiri dan kananku. Sepanjang perjalanan mereka asyik bercerita. Bahkan ketika di dalam mesjid pun mereka masih saja bercerita. Aku menikmati momen ini. Momen ketika aku kembali bisa memeluk mereka.


Bang Handi, bisakah kau melihat kami sekarang? Aku berjanji akan bahagia bang.


__ADS_2