
Menjelang Ashar baru Kakaf di pindahkan ke ruangan rawat inap. Kami masih setia menunggu kakaf. Hanya bang Handi yang memilih pulang lebih dulu karena memikirkan anak-anak.
Bang Handi tidak membuat pilihan padaku. Dia langsung mengajukan diri untuk pulang lebih dulu menjaga anak-anak. Karena percuma, aku tetap memilih tidak akan pulang sebelum bertemu kakaf.
Kakak kakak iparku pun memutuskan untuk pulang lebih dulu selepas zuhur,karena anak-anak mereka yang pulang sekolah.
untunglah semua kakak iparku mandiri, tidak bergantung pada suami, walaupun suami mereka tidak berada di tempat.
Memangnya aku, yang selalu bergantung pada Bang Handi, bapak dan keempat kakak laki lakiku.
Dan sekarang disinilah kami semua.
Aku duduk di sisi kanan kakaf, memberi kakaf bubur yang cair benar benar cair. Karena kakaf makan harus menggunakan sedotan.
Bapak, Kak Alif, Kak Andi duduk di sofa. Kak Fian memilih tidur menggunakan kasur lipat yang tadi dibawa kak Alif.
"Fian ngantuk, semalaman gak tidur. Fian tidur dulu ya pak".
"Memangnya kamu pikir aku gak ngantuk?" Kak Andi menimpali.
"Situ kan tidur di jok belakang. Nah saya, yang nyupir melek terus. Pulang pergi lagi trayeknya gak ganti supir"
"Emang Kakfi mau di supirin Kakal or kakan?".
"Enggak sih, mending aku tinggal kalo mereka yang nyupir" Kakfi menutup wajahnya dengan bantal karena tau bakal dilempar kak andi menggunakan snack yang kubeli tadi.
"Eh, makanan, jangan dilempar lempar"
Bapak menegur Kak andi.
"Iya tu pak, kebiasaan. Marahin pak!".
Kak Fian kembali membuat api.
"Kalo mau tidur ya tidur fian, mulutmu jangan berisik".
Kak Alif yang dari tadi asyik dengan tab nya menyeletuk. Dan Kak Fian pun langsung terdiam diiringi tawaku dan Kak Andi.
Kami semua memang segan dengan Kak Alif. Sekali Kak Alif berbicara atau menegur kesalahan kami, maka saat itu pula heninglah suasana. Kak Andi yang hanya terpaut dua tahun dengan Kak Alif pun tidak berani membantah apalagi aku yang berada jauuuhhhh di bawah Kak Alif.
"Izal tidur de?"
Kak Andi bertanya padaku karena berada di samping Kakaf langsung.
"Gak kak, ini lagi menyimak pembicaraan kita".
"Bisa ga dia sudah cerita apa yang terjadi?"
Aku mengarahkan wajahku pada kakaf seolah olah bertanya karena kakaf juga mendengar langsung pertanyaan kak Andi.
"Nanti saja"
Hanya itu yang diucapkan kakaf dengan pelan dan lirih. Dan langsung kusampaikan pada semuanya.
"Waktu sampai di tempat kerja Izal, keadaannya gimana?"
"Kami sampe kan sore ya pak. Kami di oper sama satpamnya ke bapak ini ke bapak itu. Terus Fian tiba tiba maju menghantam si satpam. Sambil bilang gini pak.. "Kami cuma ingin tahu tentang adik kami, kalo kalian mempersulit, pasti ada yang kalian sembunyikan. Kami akan lapor polisi sekarang juga."
Kak Andi bercerita sambil menirukan gayanya Kakfi.
"Teman temannya satpam itu dua orang pak, sudah mau maju juga. Trus kak Alif bilang "kita sama nih, ayo kita keluar satu lawan satu. Kami bermaksud baik mempertanyanyakan adik kami, tapi kami dari tadi hanya di oper dari satu bapak ke bapak yang lain. Siapa pimpinan di sini?"
Lagi lagi Kak Andi menirukan gaya. Tapi kali ini gaya Kak Alif.
"Terus keluar laki laki agak botak, gendut, buncit. Gak naksir deh kamu de"
__ADS_1
"Kok ade?" aku mengajukan protes ditengah cerita
"Yang cewek kan cuman kamu, gak mungkin kakak bilang fian yang naksir"
"Udah, lanjutin. Bapak mau dengar"
"Ternyata si laki laki yang katanya Fian tu bogebun adalah pimpinan sementara di sana pak. Kak Alif langsung to the point, nanya dimana Izal, tadi nelpon ke perusahaan katanya kecelakaan kerja"
"bogebun apa?" bapak mengikuti jejak ku, interupsi di tengah cerita.
"botak gendut buncit lah paaaak". Kak fian yang menjawab.
"Katanya mo tidur" kak Alif menggerutu.
"Kak Andi ribut, ceritanya terlalu menggebu"
"Biar seru fian, kalo gak gini gak seru. Nanti kalo Izal dah bisa bicara lancar pasti dia juga akan bercerita sepertiku. Penuh semangat"
Bapak hanya tersenyum.
"Ayo lanjutkan"
"Si bogebun bilang gini pak, bukan kecelakaan kerja, ini cuma salah paham"
"Kak Alif langsung bilang, kami akan mengerti ini kesalahpahaman atau tidak jika kami sudah bertemu dengan adik kami. Sekarang katakan dimana adik kami Fahrizal, atau kami harus kembali lagi kemari bersama polisi"
"bogebun keringat dingin. Makin yakinlah ada yang gak beres."
"Kak Alif langsung bilang, Ayo, kita kekantor polisi sekarang. Izal sudah tidak ada kabarnya seminggu ini, jadi kita sudah bisa melapor"
"Kak Alif langsung berdiri diikuti andi dan fian kan pak. Si bogebun langsung kasih kode ke satpam."
"Tiga satpam itu siaga pak, fian langsung berdiri bilang gini. "Saya rekam semua pembicaraan tadi, dan saya juga sudah kirim ke bapak, adik dan teman saya yang polisi. Jika terjadi sesuatu pada kami bertiga, mereka akan tahu mencari kami dimana"
"ciut langsung tu three musketer gadungan"
Bapak kembali bertanya.
"Prosesnya panjang pak.. Kami keluar tanpa hasil. Kak Alif sudah mengeluarkan semua sumpah serapahnya. Kekantor polisi lah kami. Menceritakan semuanya dan membuat laporan. Polisi bilang akan menindak lanjuti besok. Terus kata kak Alif, "kalo adik saya ada apa apa terus besok di temukan hanya mayatnya saja. Kantor polisi ini akan saya tuntut"
"mendengar keributan di luar, keluar lah kasat kriminalnya. Eeehh, ternyata teman Andi pak. Di sinilah kemudian semuanya menjadi mudah".
"Jadi, kamu heronya?" Kak Alif nyeletuk sambil tetap memainkan tab nya. Aku tahu ada yang dikerjakan Kak Alif saat ini.
"Bukan gitu kak, tapi semua jadi mudahkan?"
"heeeemmmm" hanya itu balasan kak Alif.
"lanjutkan" bapak memberi perintah.
"Kayak upacara aja pak.. Lanjutkan" kak Fian kali ini yang menyeletuk.
"kamu mau gantian cerita fian? Kak andi menawarkan.
"Ogah, cerita kakak lebih seru. Penuh drama, Fian gak bisa begitu"
"Ayolah kak dilanjutkan, ade penasaran"
aku yang memang penasaran akhirnya buka suara.
"Setelah membuat laporan, dua orang polisi ditugaskan ke kantornya si bogebun kan. Kami diajak tapi kak Alif bilang, bikin emosi kembali kesana. Kita ke rumah sakit saja. Kita cari dimana Izal. Berjelajah lah kami di temani kasat teman Andi tadi pak."
"Rumah sakit di sana kan cuman tiga. Jadi tidak begitu lama. Di rumah sakit yang kedua, kami melihat kendaraan operasional milik perusahaanya Izal, yakinlah kami klo distu korban kecelakaan itu di rawat".
"Nah, disini peran Fian pak". Kak Fian bangun dari tidurnya dan duduk di atas kasur lipat.
__ADS_1
"Peran apa kak?" aku yang bertanya.
"Alaaaaahhhh kebetulan aja bertemu mantan".
"Kak Andi juga, kebetulan aja ketemu teman yang kasat mata di kantor polisi".
"Sudah, sudah.. Ayo lanjutkan ceritanya"
"Fian kan ketemu mantannya pak, dokter dia disana. Nyesal tu Fian ga nikah sama dia" Kak Andi tertawa sebentar kemudian langsung terdiam begitu terdengar suara Kak Alif
"Jodoh itu urusan Alloh, apa yang harus disesali"
Kak Fian menjulurkan lidahnya mengejek Kak Andi karena di bela oleh kak Alif.
Urusan julur menjulur lidah, Kak Andi tidak akan marah, coba berani julurkan lidah pada Kak Alif. Maka kita akan di disiplinkannya saat itu juga.
"Dokter mantan itu yang mencari tahu dimana Izal, dokter mantan itu bilang gini... "aku sempat menangani mereka di UGD, pantas aku merasa kenal, ternyata itu Izal."
"Cieeeee, ingat tu dokter mantan sama mantan adik ipar" Kak Andi lagi lagi meledek kak Fian.
"Ketemulah ruangan Izal pak. Begitu melihat Izal bapak tahu apa yang terjadi?"
"Kalo bapak tahu, bapak tidak akan mendengarkan ceritamu kan ndi".
Aku, Kak Fian dan Kak Alif tertawa mendengar perkataan bapak. Bahkan kakaf pun agak terkekeh kecil.
Kak Andi masa bodoh dengan tawa kami dan kembali melanjutkan bercerita.
"Kak Alif langsung menghantam tembok pak, sakit tu tangan nya pasti. Fian langsung nangis memeluk Izal padahal izal meringis kesakitan di peluk Fian".
"Dan kamu?"
" Gengsi dia pak karena ada si kasat mata. Diam aja di ujung tempat tidur Izal, padahal matanya sudah mengembun"
Kak Alif kali ini yang menjawab
"Hehehehehe, Andi kan terkenal preman pak, masa preman nangis. Kalo Fian sih wajar, kan Fian playboy".
"Gak pa pa playboy, yang penting sudah mematahkan hidung tu satpam"
Kak Fian membela dirinya.
"Beneran kamu rekam semua kejadian itu Fian?"
"Iya pak, Kak Alif sudah memberikan intruksi kepada kami untuk kemungkinan terburuknya. Bapak ingatkan Kak Alif punya kamera baju seperti bolpoint. Kak Andi memakai itu dan Fian tetap merekam pake hape Fian".
"Anak-anak bapak memang hebat"
"Siapa dulu bapaknya"
"Siapa dulu perancang idenya?"
"Siapa dulu heronya?"
"Siapa dulu yang punya mantan dokter?"
"Siapa dulu adenya?" lhoooo???
"Izal?" tanya bapak, karena mendengar kami semua membanggakan diri. Kami pun serempak menjawab..
"Siapa dulu korbannya?"
Hahahahahhahaha..
Jangan lupa like dan vote nya yaa..
__ADS_1
Eh komen juga yaa..
Love you 😘😘