Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#30


__ADS_3

KAK IZAL POV


############


Ketiga kakakku serempak melihatku begitu bapak selesai menepuk pundakku.


"Ada masalah kamu Zal?"


Aku hanya mengangkat bahu dan memberikan cengiran manis.


"Apa yang kamu sembunyikan dari kami zal?"


Bapak duduk kembali di sampingku.


"Yang bapak tau apa?"


"IZAL!"


Kak Alif menegurku. Aku pun hanya bungkam.


" Ada apa pak?"


Kak Andi yang bertanya.


"Izal membatalkan pernikahannya"


"Bukan membatalkan. Izal menundanya"


Aku membela diri.


"Tidak seperti itu yang bapak dengar".


" Ada apa Zal?"


Kak Fian merangkul bahuku.


"Apa Izal bisa menikah di saat ade seperti sekarang ini?"


"Apa ade akan bahagia jika tahu kamu membatalkan pernikahan karena dia?"


"Izal ingin di pernikahan Izal keluarga kita ceria, bahagia. Tidak seperti sekarang ini pak".


Aku mengusap wajahku. Dan memandang bapak.


"Izal ingin ade sembuh lebih dulu untuk menyaksikan pernikahan Izal. Apa keinginan Izal salah?"


"Apa yang kamu katakan pada keluarga Sabina?"


"Izal bilang, jika Sabina ingin menunggu silahkan. Tapi Izal tidak bisa menentukan kapan pastinya pernikahan itu. Izal ingin kesembuhan ade lebih dulu. Dan jika ada orang lain yang meminang Sabina lebih dulu, maka Izal akan melepaskannya"


"Gila kamu Zal. Jika Sabina benar benar melepaskanmu?"


"Bukan jodoh Izal. Tidak menikah pun Izal tidak apa apa. Izal akan merawat ade sampai sembuh".


"Jangan seperti itu Zal. Sabina itu perempuan. Seolah olah kamu mempermainkannya".


"Izal sudah jelaskan ke Sabina. Bahwa ade segalanya buat Izal.


"Dan apa arti Sabina buat kamu?"


Kali ini aku terdiam cukup lama.


"Entahlah pak. Izal tidak merasa Bina adalah penyempurna kehidupan Izal. Tapi satu hal yang Izal tahu. istri bisa menjadi mantan. Tidak dengan saudara. Ada mantan istri, tidak ada mantan saudara".


"Kamu masih trauma Zal?"

__ADS_1


Kak Fian kembali menepuk bahuku.


"Tidak kak, Izal sudah bisa melupakan pengkhianatan mantan Izal".


"Pasti ada hal lain yang membuat kamu berubah pikiran kan Zal?"


Kak Alif bertanya sambil menatapku.


"Sabina terlalu ikut campur"


"Ikut campur?"


"Iya kak. Bina marah ketika tahu Izal yang membayar uang sekolah Azwa. Bina marah ketika tahu Izal menjual motor. Katanya bisa di berikan ke adik laki lakinya motor itu kalo takut ade melihatnya lagi. Gila kan kak? Emang kami patungan beli motor itu? Suka suka Izal lah mau jual apa gak".


Aku menjelaskan semuanya dengan sedikit emosi.


"Bina juga marah kalo Izal sering sering menjenguk ade. Katanya tidak ada waktu buat dia. Izal cuman sore menjenguk ade. Sedang dia dari buka cafe sampai tutup berada disana. Waktu mana yang kurang buat dia?"


"Kak Alif setuju. Batalkan saja pernikahannya. Belum jadi istri sudah seperti itu. Nanti kakak yang menemui orang tuanya"


"Aliiifff"


Bapak mengingatkan kak Alif.


"Serius pak, wanita seperti itu tidak akan bisa masuk di keluarga kita. Kita perlu perempuan penyayang. Yang saling perduli. Bukan cuman menyayangi suaminya tapi juga saudara suaminya".


Bapak menarik nafas panjang.


"Bapak ikut saja apa yang menurut Izal baik. Yang menjalani kan nanti Izal. Tapi tolong, di bicarakan baik baik ya nak"


"Izal sudah bicara pak. Tapi Sabina memutar balikkan fakta kepada keluarganya".


"Apa yang dia katakan pada keluarganya?"


"Pernikahan dibatalkan karena uangnya habis buat biaya pengobatan ade".


Kak Andi mengumpat.


"ANDI!"


"Ayo kita kesana Zal, biar kak Andi pelintir itu kumis bapaknya Sabina".


"ANDI"


Bapak lagi lagi menegur kak Andi.


"Kesal Andi pak".


"Izal juga kesal kak. Karenanya Izal langsung bilang. Okey anggap saja apa yang kalian katakan itu benar. Uang untuk persiapan pernikahan sudah habis. Jadi sekarang pernikahan nya saya batalkan".


"Apa pendapat mereka setelah itu?"


"Izal langsung pergi kak. Izal kesal, dari pada Izal memaki maki mereka lebih baik Izal pulang".


"Kenapa kamu tidak bawa kami kesana?"


"Keluarga kita sudah banyak bersedih. Izal bisa menyelesaikannya sendiri".


"Nyatanya tidak selesai kan? Ibunya Sabina menelpon nenek sambil menangis menceritakan kesedihan Sabina karena kamu membatalkan pernikahan"


"Keluarga mereka memang penuh drama pak. Sabina juga tidak rugi apa apa. Izal tidak pernah melakukan sesuatu yang diluar batas. Izal pun hanya mencium Sabina di pipi".


"Kita harus selesaikan semuanya. Kita akan ke rumah orang tua Sabina. Atur itu dengan kakakmu Alif".


Bapak menatap kak Alif yang dibalas kak Alif dengan anggukan. Kemudian bapak berdiri dan kembali masuk ke kamar rawat ade.

__ADS_1


"Kapan kita bisa ke sana kak?"


Kak Andi bertanya pada Kak Alif.


"Besok atau lusa. Yakin tidak ada lagi yang kamu sembunyikan Zal?"


Aku menggeleng.


"Kakak mau pamitan sama ade. Ada janji malam ini"


Kak Alif berdiri, mengetuk pintu kamar ade. Dan masuk kedalam. Tak lama kak Alif keluar kembali. Aku, kak Fian dan Kak Andi mencium tangan Kak Alif sebelum kak Alif pergi meninggalkan kami.


"Yakin cuman cium pipi?"


Kak Fian menggodaku.


"Aku masih waras kak. Sadar mana zina dan dosa"


"Gak tertarik sama Sabina?"


"Bina yang duluan menyatakan suka. Bina yang selalu agresif lebih dulu. Izal menerima Bina karena Izal ingin mencoba membuka hati"


"Jadi selama ini Bina yang selalu bertindak lebih dulu?"


"Iya, waktu lamaran pun Bina memberitahukan keluarganya lebih dulu. Padahal belum ada pembicaraan antara kami. Takut keluarga malu, Izal mengiyakan kemauan Bina untuk melakukan lamaran".


"Apa segitu cintanya Bina sama kamu?"


"Posesif itu kak"


Kak Fian menjawab pertanyaan kak Andi.


"Kalian mau tahu satu hal lagi?"


"APA?"


Kak Andi dan Kak Fian serempak bersuara.


"Bina pernah menumpang kekamar mandi di ruangan Izal di Cafe."


"Terus?"


Aku tersenyum melihat wajah penasaran kedua kakak ku ini.


"Dia pura pura terjatuh di kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk"


"Lalu Zal?"


"Izal tidak bodoh. Di saat Sabina minta tolong Izal karena kakinya sakit. Izal panggil empat orang pegawai wanita. Izal bilang tolong angkat Sabina di dalam kamar mandi dan urus dia. Izal keluar dari ruangan dan membiarkan para wanita itu di dalam"


"Wah, kamu normal Zal?"


"Entahlah kak. Walaupun Sabina berpakaian seksi dan menggoda di dalam ruangan kerja Izal di cafe. Tapi Izal gak minat. Menurut Izal seperti ******".


"Hus, jangan mengatakan wanita lain seperti itu"


"Coba kakak pikir, Sabina berhijab kan? Izal belum jadi muhrimnya dia. Tapi setiap dia ke ruangan Izal. Dia membuka jilbabnya bahkan memakai pakaian seksi. Apa wanita baik baik seperti itu. Jadi setiap dia datang, Izal akan memilih keluar ruangan. Karenanya Izal suka berada di ruangan belakang dekat dapur jika ada Sabina. Jika memang Izal harus di dalam ruangan Izal. Izal pasti mengajak salah satu karyawan untuk masuk".


"Ngeri juga ya. Ada wanita seperti itu? Kakak kira cuman ada di cerpen Noveltoon saja".


"Adalah kak, itu buktinya si Sabina"


Aku dan Kak Fian tertawa bersama.


Tak lama suara azan berkumandang. Kami pun ikut sholat di musholla rumah sakit. Dan kalian tahu? Kami sholat bersama pasien pasien rumah sakit ini.

__ADS_1


Ada yang tersenyum melihat kami. Ada yang hanya diam. Bahkan ada yang tiba tiba memeluk. Pihak rumah sakit sudah mengenal kami karena seringnya kami mengunjungi ade.


Dari pasien pasien inilah kami menyadari satu hal. Mereka butuh perhatian dan kasih sayang bukan hinaan atau cemoohan. Mereka ingin di rangkul dan dipeluk bukan di buang dan dibiarkan dijalanan.


__ADS_2