Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#6 MAMA


__ADS_3

Setelah sholat Isya aku ikut berbaring di samping Azwa yang sudah terlelap dari sehabis maghrib tadi. Mataku hampir terpejam ketika Bang Handi masuk ke dalam kamar.


"Bikinkan mie kuah dong yang, pengen makan mie. Bosan makan yang berat berat"


"Abang ni gak bisa lihat orang lagi santai"


"Mie buatan kamu soalnya enak, kata kakaf juga gitu kan?"


"Ah, itu sih gombalannya Kakaf aja. abang pake ikut ikutan"


Tapi aku tetap beranjak dari tempat tidur menuju dapur. Kulihat Kakaf duduk di ujung tangga sambil memainkan ponselnya. Kamar Kakaf memang tepat di ujung tangga.


"Kok duduk di situ Kaf?"


"Sinyal Wifinya bagus disini"


"Ah, perasaan sama aja"


Kulihat mama turun dari atas sambil memeluk selimut dengan erat di dada.


"Kenapa Ma?"


"Dada mama sakit. Pijitin dong belikat Mama"


Seketika aku melupakan pesanan mie kuah bang Handi. Mama duduk dilantai, aku pun mulai memijit belakang mama.


"Ade pijit di kamar ya ma."


"Disini saja" Mama menjawab dengan pelan.


"Mama sudah minum obat?" Kakaf akhirnya ikut duduk di depan mama. Bang Handi keluar dari kamar dan menatap heran aktifitas kami.


"Mama dipijitin Kakaf sebentar ya? ade lupa tadi Bang Handi minta mie kuah"


Mama hanya mengangguk. Aku beranjak ke arah kompor. Kulihat Bang Handi ikut memijit kaki mama.


Belum selesai mie kuah yang kumasak, aku baru merebus air ketika kakaf berteriak.


"De.. "


"Iya Kaf.."


"DEEEEE MAMAA INI KENAPA?"


Seketika aku mematikan kompor. Kulihat Kakaf memegang kepala mama sambil membacakan sesuatu.


"Bang, panggil bapak. Habis tu siapkan mobil" Aku setengah berteriak sambil mendekat pada Mama.


Bang Handi berlari ke atas memanggil bapak. Tak lama turun kembali lebih dulu dari bapak dan langsung mempersiapkan mobil.


"Ayo bawa mama ke rumah sakit zal."

__ADS_1


Kulihat bapak langsung keluar menuju pintu supir. Kakaf dan Bang Handi menggotong mama ke mobil. Aku mengambil Handphone dan langsung menggendong azwa. Kuselimuti tubuh Azwa dengan selimut tebal.


Bapak yang lebih dulu membawa mama kerumah sakit bersama kakaf. Kulihat Bang Handi mempersiapkan mobil kakaf. Aku kembali ke dapur memeriksa kompor sambil terisak menelpon kak Andi agar segera ke rumah sakit. Kebetulan kak Andi di jalan jadi akan langsung menunggu di IGD. Ku telpon Kak Alif dan juga Kak Fian.


Aku langsung keluar sambil menggendong azwa. Bang Handi mengunci pintu rumah dan pagar sebelum akhirnya kami pun bertiga meluncur ke rumah sakit. Pikiranku tidak tenang, kembali teringat perangai dan sikap mama dalam beberapa waktu belakangan ini.


Aku terisak di dalam mobil sambil memeluk azwa.


Sampai di parkiran IGD, aku melihat Kak Mia menangis di pelukan Kak Andi.


"Bang, Mamaaaa"


Aku langsung menyerahkan Azwa pada Bang Handi yang belum mematikan mesin mobil. Aku langsung keluar mobil dan berlari sambil terisak melewati Kak Andi yang memeluk Kak Mia, melewati Kak Alif dan Kak Fian yang terduduk di depan pintu IGD.


Aku memasuki pintu putih itu. Kulihat Kakaf menangis sambil memeluk Mama yang sudah terbujur kaku. Bapak berdiri diam di samping tubuh Mama.


"Maaaaaa..." aku menangis terisak memeluk mama seperti kakaf. Kurasakan separuh duniaku hilang dengan kepergian mama.


Bang Handi meraih tubuhku dan langsung memelukku. Kulihat Azwa sudah berada dalam gendongan Kak Mia.


"Kalian pulang dulu persiapkan rumah bersama Mia. Kami akan menunggu ambulance di sini. Handi, jangan lupa beri kabar pada pak RT"


Kak Alif memberi perintah pada Bang Handi. Aku tahu Kak Alif juga bersedih. Tapi sebagai anak tertua, Kak Alif terlihat lebih tegar.


Aku pun kembali kerumah bersama Kak Mia dan Bang Handi. Sampai di rumah, kulihat Kak Fani istri Kak Alif bersama anak anaknya dan Kak Nisa istri Kak Fian sudah berada di rumah. Mereka sedang merapikan kursi dan meja serta menggelar ambal. Aku memang meninggalkan kunci rumah di tempat biasa, dimana kami semua mengetahui tempat kunci tersebut.


Kak Fani memelukku. Aku pun kembali terisak.


"Ke rumah Pak RT kak" Kak Mia yang menjawab sambil duduk lemas di lantai.


"Seperti mimpi, kemaren mama masih tertawa bersama kita" Kak mia kembali terisak.


Aku tahu bagaimana kedekatan kak Mia dan Mama. Jadi aku tahu kalo Kak Mia juga sangat kehilangan sepertiku.


"Namanya rezeki, jodoh dan maut semua sudah ada yang mengatur. Kita mana bisa menolaknya"


Kak Fani kembali bicara sambil juga meneteskan air mata.


Setelah itu Pak RT datang bersama bu RT. Kami mengikuti intruksi Bu RT untuk mempersiapkan kasur kecil, sarung panjang dan lain lain. Maklum, ini adalah duka pertama kami. Waktu Kak Didi dulu meninggal, Mama yang mempersiapkan semua.


Ketika suara Ambulance datang memasuki rumah. Aku kembali terisak di dalam kamar sambil memeluk azwa. Aku belum siap di tinggal Mama, tapi bagaimana pun aku harus ikhlas.


Kudengar pengurus mesjid mengumumkan tentang meninggalnya Mama. Para tetangga dekat mulai berdatangan ke rumah kami walaupun sekarang sudah pukul sepuluh malam.


Aku tahu bagaimana mama selama ini bersikap terhadap para tetangga. Jadi tidak heran, ketika Mama pergi banyak yang menangis kehilangan Mama, bukan cuma kami suami dan anak anak mama.


Sebagai anak perempuan satu satunya, aku lah yang membuka seluruh pakaian mama dibantu ipar ipar perempuanku. Aku menggunting kalung dan gelang yang di pakai mama. Melepas anting anting mama. Aku sedikit lebih tegar setelah puas menangis di dalam kamar.


Kakaf terus berada di samping jenazah mama sambil melantunkan ayat ayat qur'an. Kakaf hanya beranjak ketika ke kamar kecil atau mengambil minum. Setelahnya Kakaf kembali duduk dan kembali membaca qur'an.


Pandanganku mengedar ke seluruh rumah. Aku mencari Bapak. Dimana Bapak?

__ADS_1


Aku pun beranjak naik kekamar Bapak dan Mama. Kulihat Bapak berbaring di atas sofa. Sebelah tangan menutupi mata.


"Pak.." Aku mendekati bapak. Bapak melihatku. Aku melihat adanya kekosongan di mata Bapak. Bapak tidak menangis, tapi kehilangan itu dapat kulihat dari mata Bapak.


Bapak bangun dan memelukku. Aku kembali terisak. Bapak mengelus kepala dan punggungku dengan lembut.


"Harus ikhlas ya nak. Mamamu sudah tenang sekarang. Mamamu pergi mendahului Bapak"


"Ade akan merawat bapak" Aku mempererat pelukanku pada Bapak.


"Kasian Azwa, sana turun lihat anakmu. Bapak baik baik saja"


"Bapak istirahat ya. Ade akan ambilkan bapak minum"


"Itu minum bapak sudah ada diambilkan mam.."


Bapak langsung terdiam. Bapak sadar kalo itu adalah minuman terakhir yang di siapkan Mama untuk Bapak.


"Ade turun ya pak. Bapak tidur. Nanti ade naik lagi liat Bapak"


Bapak hanya mengangguk. Aku mencium kedua tangan bapak. Kemudian beranjak keluar kamar.


Aku tahu Bapak kehilangan Mama. Karenanya aku memberi bapak kesempatan untuk menyendiri. Untuk meluapkan kesedihan bapak.


Kututup pintu kamar dengan perlahan. Kak Andi kulihat juga naik ke atas bersama Kak Alif.


"Bapak tidur de?" Kak Andi yang bertanya padaku.


Aku hanya menggeleng.


"Mau tanya Bapak, mama mau di kuburkan di mana?"


"Masuklah. Jika bisa salah satu dari kalian tolong temani Bapak malam ini di kamar"


"Kamu turun ke bawah de, panggil Fian. Bapak paling dekat dengan Fian. Biar Fian yang menemani Bapak. Kak Alif dan Kak Andi masih banyak yang di urus"


Aku hanya mengangguk kemudian melangkah untuk turun. Kak Alif dan Kak Andi masuk ke dalam kamar Bapak.


Sampai di bawah kulihat sudah banyak keluarga yang datang. Aku keluar mencari Kak Fian sesuai perintah Kak Alif. Kak Fian pun langsung beranjak naik ke atas. Aku bertegur sapa sebentar dengan keluarga dan kerabat yang datang melayat sebelum akhirnya aku pamit untuk melihat Azwa di kamar. Anak Kak Andi lah yang dari tadi kutitipi untuk menjaga Azwa di kamar. Dan ketika aku masuk kamar, kulihat Anak Kak Andi juga ikut tertidur manis bersama Azwa.


Aku juga ikut merebahkan diriku di samping Azwa. Melepaskan lelahku sebentar. Mulai besok tugasku sebagai anak di mulai. Ada Bapak yang harus kurawat. Ada rumah yang harus ku urus. Tanpa aku harus melupakan tugasku untuk merawat Azwa dan Bang Handi.


Aku melepaskan nafasku.


Ya Alloh, berilah aku ketegaran dan keikhlasan hati untuk menerima takdir baik dan takdir buruk dari Mu.


 


Jangan lupa like, vote dan komennya yaa


LOVE YOU 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2