
Di pernikahan Humaira aku terus mencari dimana Ariyanti. Tanpa kusadari bahwa calon suami Humaira adalah kakaknya perempuan yang kucari.
Saat sholat zuhur dimesjid, mataku kembali mencari cari. Sampai aku melihat bocah gembul lucu yang bermain di samping mesjid.
Bocah itu tersenyum padaku. Aku terpana, aku seperti terhipnotis oleh mata itu. Aku pun mendekat. Kulihat ummi berjalan mendekat bersama seorang anak kecil lainnya.
"Titip ya man. Ummi mau sholat dulu"
" Iya ummi"
" Hai, siapa namanya?"
"Kata nenek assalamualaikum, bukan hai"
gadis kecil itu yang menjawab.
"Assalamualaikum anak cantik dan ganteng?"
"Kata ibu itu anak soleh dan sholehah"
Kembali si gadis kecil yang bersuara.
Aku kembali tersenyum dan reflek mengelus kepalanya.
"ABI?"
Aku reflek melihat pada bocah laki laki.
"Abang boleh panggil abi?"
Aku kembali terkejut.
"Jangan de, nanti ibu marah"
"Abang mau punya abi, kakak"
Rupanya mereka kakak beradik.
"Kenapa mau memanggil abi?"
Aku spontan menanyakan itu.
"Abang mau punya abi"
Aku kembali tertekun dan kembali terhipnotis dengan mata yang memandangku penuh harap.
Aku pun dengan spontan memeluknya.
"Boleh. Kalian boleh panggil abi, papah, daddy ataupun om"
"No no no "
Si bocah laki laki menggeleng
"Kenapa?"
"Abang sudah punya papah. Sudah punya om. Abang belum punya abi"
Aku kembali tersenyum. Entah apa maksud mereka. Aku pun kembali ingin bertanya ketika kudengar seseorang memanggil kedua bocah yang masing masing sudah memegang tanganku di kiri dan kanan.
Aku terpana. Perempuan ini yang dari tadi kucari. Apakah ini adalah anak anaknya?
Suara Ummi pun kembali kudengar dan mengajak bocah perempuan untuk pergi.
Si Bocah laki laki tidak mau berpisah denganku walaupun perempuan yang mereka panggil ibu itu memaksa.
Sepanjang perjalanan dari mesjid menuju rumah abi aku tertekun. Jika memang mereka adalah anak anaknya Ariyanti. Mungkinkah Alloh memang sengaja mempertemukan ku dengan anak anaknya untuk mempermudah urusanku.
__ADS_1
Azka. Bocah laki laki yang selalu lengket denganku itu bernama Azka. Biasa di panggil abang karena sebentar lagi akan memiliki adik. Umurnya dua tahun. Dan si bocah perempuan bernama Azwa. Mereka semua memanggil azwa dengan panggilan kakak. Azwa berumur tujuh tahun.
Ketika Ariyanti bersalaman dengan ummi dan ummi mengelus perut Yanti, hatiku bergejolak. Aku seperti merasa bahwa yang di elus ummi itu adalah anakku. Azka pun terus duduk dipangkuanku sepanjang acara makan siang. Bahkan memintaku untuk menyuapinya makan.
"Jadi, ibu anak ini adikmu Lif?"
Satu lagi keberuntunganku. Bang Rahim berteman baik dengan kakak tertuanya Ariyanti, Kak Alif.
Semesta memang selalu berpihak padaku.
Eh apa maksudnya nih? Emang udah pedekate lue man?
Aku mendengarkan dengan baik perbincangan bang Rahim dan Kak Alif. Sekalian mencari info tentang perempuan yang sudah mengusik hidupku.
"Iya, yanti adik terakhirku. Perempuan satu satunya. Dialah sumber kebahagiaan kami. Kecelakaan suaminya beberapa bulan lalu membuat semua seketika menjadi gelap. Ibarat lampu di dalam rumah. Lampu itu langsung padam tanpa adanya redup lebih dulu. Semuanya berubah seketika".
Kak Alif menarik nafasnya sebelum kembali bercerita.
"Depresinya Yanti membuat kehidupan kami pun berubah drastis. Bapak menangis setiap malam. Tidak ada lagi candaan antara Fian dan Izal. Padahal aku tau, mereka berdua bila bertemu seperi tom dan jerry yang saling mengganggu. Semuanya menjadi suram. Aku pun merasa gagal menjadi seorang anak tertua untuk menjaga adik adikku"
"Abi Abdi datang kerumah. Ketika bapak bercerita tentang yanti. Abi meminta bapak untuk mengizinkan yanti ikut bersama beliau dipesantren. Kedua anak yanti di rawat kami bersama. Tapi sering kali bersama Andi, adik keduaku"
"Itulah kenapa yanti sekarang berada di pesantren ini. Kulihat keluarga abi, terutama Ira merawat dan memperhatikan yanti dengan baik"
"Kami pun dapat kembali melihat senyuman yanti. Walaupun matanya belum bersinar paling tidak dia sudah dapat tersenyum. Senyuman yanti itu menular. Menular pada bapak dan semua kakak laki lakinya".
Kak Alif tampak menyeka ujung matanya.
"Aku berharap, suatu saat yanti kembali mendapatkan jodohnya. Yang sayang pada yanti dan juga ketiga anaknya".
"AMIN. Jalan hidup seseorang kita tidak tahu ya Lif. Kita pun begitu. Entah apa yang terjadi pada kita lima menit kedepan"
"Karena itu Him, aku berusaha untuk memberikan yang terbaik buat keempat adikku. Aku berharap jika nanti aku meninggalkan mereka. Mereka sudah bisa mapan dan mandiri".
Aku yang menjadi pendengar pun hanya bisa diam. Sambil berdoa dalam hati, semoga yanti mendapatkan kebahagiaannya kembali walaupun bukan bersamaku.
########
Ketika aku kembali bersama Azka dengan membawa beberapa mainan dan makanan kecil. Yanti menatapku dengan tajam. Aku tau dia marah padaku. Dia tidak suka melihat kedekatanku dengan anak anaknya. Atau apapun yang kulakukan bersama kedua anaknya, yanti tidak menyukainya.
Tapi kemarahan yanti menurutku lucu. Aku malah senang melihat matanya yang menatapku tajam. Dengan menatapku tajam, menepis segala kesedihan yang dulu terlihat di matanya.
Aku pun selalu membalas tatapan matanya dengan senyuman hangat. Semoga yanti mengerti, bahwa hatiku sudah terisi oleh dirinya dan anak anaknya.
#######
"Jika Rahman belum melamar Sarah, abah mau Rahman menikahi Yanti"
Langkahku terhenti ketika mendengar suara abah.
"Rahim juga bah. Kasian anak-anaknya. Apalagi Azka. Lengket dengan Rahman karena merindukan ayahnya".
"Tapi semua sudah terjadi. Tidak mungkin kita menarik kembali lamaran itu".
"Rahman ada cerita ke Rahim. Kalo dia ragu dengan Sarah. Awalnya Rahim pikir karena dia masih takut menikah lagi. Tapi Rahman merasa ada yang disembunyikan Sarah darinya".
"Rahman sudah mencari tahu?"
"Entahlah, Rahim belum menanyakannya lagi".
Aku pun mengendap kembali kekamarku. Dan melangkah kembali ke arah abah dan rahim dengan bersenandung agar mereka tahu jika aku datang.
"Man,kemari!"
"Iya bah"
"Bagaimana persiapan pernikahanmu. Tinggal berapa minggu lagi kan?"
__ADS_1
"Rahman laki laki, abah. Rahman tinggal bawa badan"
"Jadi kita melaksanakan resepsi lagi?"
"Kalo misalkan pernikahan ini batal. Apa abah akan kecewa dengan Rahman?"
"Berikan abah alasan yang jelas. Insya Alloh abah akan mengerti"
"Kamu sudah menyelidiki Sarah man?"
Bang Rahim bertanya padaku.
Aku pun mengangguk.
"Awalnya Rahman tidak perduli kalo Sarah memanfaatkan Rahman. Tapi sejak bertemu seseorang. Hati Rahman jadi ragu"
"Seseorang?"
Abah bertanya sambil menatapku.
"Rahman jatuh cinta pada yanti, abah"
"Yanti yang di pesantren abi abdi?"
Bang Rahim mempertegas penjelasanku. Dan aku kembali mengangguk.
"Pertama kali Rahman melihat Yanti sewaktu abah menyuruh Rahman mengantar barang ke pesantren. Sejak itu, Rahman terus memikirkan yanti. Bahkan selalu hadir di mimpi Rahman"
"Karenanya kamu semangat waktu abah bawa ke pernikahannya Humaira?"
Aku kembali mengangguk.
"Rahman ingin melihatnya lagi. Walaupun Rahman tau yanti belum bisa Rahman pinang"
"Dan ajaibnya Rahman malah dipertemukan dengan anak anaknya. Rahman jatuh cinta pada mata polosnya Azka dan senyum manisnya Azwa. Rahman ingin terus memeluk mereka berdua. Rahman ingin melindungi mereka".
"Lalu cerita Sarah?"
"Sarah terlilit hutang di rentenir. Rumahnya di gadaikan. Berjanji pada mereka untuk membayar ketika Sarah sudah menjadi istri Rahman dan sudah menguasai ATM Rahman"
"Kamu sudah menanyakannya pada Sarah?"
"Belum, tapi Rahman sudah mempunyai bukti buktinya."
"Apa rencanamu selanjutnya?"
"Rahman akan tebuskan rumah mereka pada Rentenir itu. Anggaplah sebagai imbalan atas pembatalan Rahman atas pernikahan ini"
"Kamu serius?"
"Uang bisa di cari, abah. Tapi kenyamanan hidup berumah tangga tidak akan Rahman dapatkan jika kami terus melanjutkan pernikahan"
"Abah akan dukung apapun keputusanmu"
"Terima kasih abah. Doakan Rahman, semoga yanti mau menerima Rahman setelah anaknya lahir nanti"
"Amin. Abah selalu berdoa yang terbaik buat anak anak abah"
##########
Seminggu kemudian semua niatku terlaksana. Aku mendatangi kediaman Sarah. Menunjukan semua bukti bukti yang punya. Menyerahkan sertifikat rumahnya dan mengakhiri semua rencana pernikahan kami.
Aku tidak meminta kembali uang jujuran yang sudah kuberi padanya. Dengan satu syarat, Sarah tidak lagi mengusik kehidupanku.
Awalnya Sarah tidak terima. Tapi setelah aku kembali memberikan bukti hubungan gelapnya dengan seorang anggota dewan. Sarah bungkam. Aku pun meninggalkan rumah Sarah dengan perasaan lega. Tidak perduli, apa yang akan orang tua Sarah lakukan pada anak mereka.
Keinginanku sekarang hanya satu. Meminta pada Alloh, agar membuka hatinya Yanti untukku.
__ADS_1