Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#9


__ADS_3

Malam ini begitu sulit mataku terpejam. Berita yang kudapat dari Kak Fian dua jam yang lalu membuatku kembali meneteskan air mata.


Sambil memyusui si kecil, air mataku terus mengalir.


"Bapak gimana bang?"


Bang Handi yang baru masuk ke kamar sehabis berbincang dengan bapak langsung masuk ke kamar mandi.


"Sebentar, abang kebelet"


Aku hanya menggeleng, pantas saja masuk seperti orang di kejar hantu. Ternyata sakit perut toh.


"Ah, legaaaa"


Bang Handi keluar kamar mandi dan langsung mendekatiku.


"Jangan terlalu banyak nangis, kasian anak-anak"


Bang Handi mengelus lembut rambutku.


"Bapak gimana bang?"


"Lebih tegar dari kamu. Beliau juga gak emosi seperti Kak Alif. Bapak tenang"


"Gak tau kalo di kamar sendiri bang".


"Makanya abang minta si Rai buat temanin bapak diatas. Kalo ada yang temanin bapak, kita bisa tenang. Rai kan sudah besar, sudah paham."


"Kejadiannya seperti apa kata kak Fian tadi?"


" Anjungan di tengah laut meledak, semua loncat ke air termasuk Kak Izal."


"Seharusnya Kakaf kan pulang minggu kemaren".


"Kak Izal menggantikan temannya yang cuti karena menikah".


"Seharusnya kakaf gak ada disitu."


Aku kembali menangis.


"Namanya musibah bu, siapa yang tahu."


"Kenapa perusahaan gak memberitahu keluarga, teman teman kakaf yang off kan juga bisa memberitahu kita."


"Itulah yang dimarahkan Kak Alif. Yang penting sekarang kita sudah tau kakaf dimana dan keadaannya bagaimana"


"Berapa persen luka bakarnya Kakaf?"


"Kak Fian bilang lumayan."


"Gak ganteng lagi dong kakaf."


"Kamu ini yang.. Yang penting itu kak Izal selamat. Sekarang tugasmu bertambah buat mengurus lagi kak Izal."


"Sama abang jugalah. mana bisa ibu membawa kakaf ke kamar mandi."

__ADS_1


Bang Handi tertawa kecil.


"Yang penting sekarang kak Izal pulang dulu dari rumah sakit. Baru kemudian kita berunding gimana gimananya."


Aku mengangguk sambil mengambil posisi untuk berbaring. Sejak kami berempat, Bang Handi tidur berdua Azwa di kasur bawah, aku bersama si kecil tidur diatas tempat tidur. Tapi bang Handi suka ikutan naik jika Azwa sudah tidur. Bukan cuma naik ke atas tempat tidur tapi juga naik... Ya itulah, tau sendiri kan??


Tapi kali ini bang Handi benar benar tidur di kasur bawah bersama Azwa. Bahkan tak lama kemudian kudengar suara dengkurannya. Sedangkan aku tetap sulit untuk memejamkan mata. Membayangkan kakaf yang sendirian tanpa istri dan saudara yang menemani. Hanya doa doa yang keluar dari mulutku sambil kucoba untuk memejamkan mata.


########


Subuh yang gerimis. Segerimis hati bapak yang memandang keluar jendela. Tadinya bapak mau ke mesjid, tapi aku melarang karena gerimis sehabis hujan deras semalam. Akhirnya kami sholat subuh berjamaah saja di rumah.


Kak Andi baru menelpon, mengabarkan jika pagi ini akan membawa kakaf untuk rujuk ke rumah sakit di sini, biar dekat dengan keluarga.


Bapak menyetujui dan meminta kak Andi untuk cepat mengatur semuanya.


"Disana hujan ndi?"


"Gak pak, cerah aja"


"Disini hujan, hati hati bawa mobilnya."


"Andi di ambulance pak, di mobil Fian dan Kak Alif"


"Iya, kalian bertiga hati hati ya. Kabari terus kami."


"Iya pak, bapak dan ade tenang saja. Izal kondisinya sadar. Sempat nangis liat kami datang, sempat nanya bapak juga."


"Iya nak, bilang Izal bapak baik baik saja. Suruh Izal untuk fokus pada kesembuhannya dulu. Mana Alif?"


"Iya pak?"


"Masih emosi?"


"Kalo bapak di sini juga emosi seperti Alif"


"Masa? Bukannya yang emosian cuman kamu."


Kudengar suara kedua kakakku yang lain menimpali.


"Bapak gak tau aja, satpam kantor hidungnya berdarah di pukul Fian".


"Fian juga? Ya sudah, kalian bawa dulu ade kalian pulang, bapak tunggu disini. Pastikan dulu keadaan Izal aman untuk dibawa ke rumah sakit sini."


"Aman pak, malah dokter sini menyarankan untuk di rujuk ke kota. Alif juga sudah minta rekan alif untuk melayangkan surat peringatan dan tuntutan ke perusahaan."


"Di atur saja nanti ya nak. Yang penting Izal di sini dulu. Kalian bertiga hati hati. Kasian si ade jaga bapak sendirian kalo tidak ada kalian."


"Iya pak, sebentar lagi kami berangkat, masih tunggu beberapa prosedur lagi. Tutup dulu ya pak, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam"


Bapak mengakhiri telepon dari ketiga kakakku sambil menghapus sedikit genangan air di sudut mata beliau. Aku memeluk bapak, mendekap beliau erat.


"Kakaf pasti baik baik saja pak."

__ADS_1


Bapak mengangguk sambil mencium pucuk kepalaku. Aku terus berdoa dalam hati agar keempat kakak laki lakiku selamat dan berkumpul kembali bersama kami.


###########


Tangisku kembali pecah.


Pukul 10 pagi tadi rombongan kakak kakak ku telah sampai di rumah sakit umum daerah milik pemerintah di kotaku.


Aku, bapak dan Bang Handi lebih dulu menunggu di depan ruang IGD sebelum ambulance yang membawa kakaf datang. Aku menitipkan anak anak pada asisten rumah tangga yang membantuku dirumah. Tak lama kemudian, kak Mia, Kak Fani dan kak Nisa, para kakak iparku pun datang ke rumah sakit.


Ketika ambulance datang dan mulai di buka, pecahlah sudah tangisku dan kak Mia.


Kakaf membuka matanya. Berusaha tersenyum di balik perban perban yang menutupi sekujur tubuhnya.


"Aku belum mati de, kamu sudah menangis seperti itu"


Kakaf sempat berkelakar lirih sewaktu aku menyempatkan untuk mengelus kepalanya sebelum di bawa masuk ke dalam IGD.


Hanya bapak dan kak Andi yang masuk ke dalam. Kami menunggu di luar. Kak Alif kembali cepat bersama kak Fani karena sudah ada janji dengan orang lain. Jadilah aku, bang Handi, kak Mia, dan Kak Fian yang tertidur di pelataran Rumah sakit beralaskan paha istrinya.


Kak Andi keluar, mencari Kak Fian.


"Fian, Izal perlu darah. Bapak minta kita semua yang donor"


Kak Fian bangun dan langsung bangkit berdiri.


"Stok di PMI gak ada Kak?" Bang Handi bertanya pada Kak Andi.


"Bapak ga mau, kata bapak darah saudara kandungnya sendiri saja"


"Ade juga kak?"


Aku menawarkan diriku.


"Buat tubuhmu sendiri aja gak cukup. Sok mo donor buat Izal. Mo di rawat juga kamu?"


"Eh, tapi ade kan beda sendiri kak. Ade ikut mama. Kakak kakak semua kan ikut bapak. Klo ade perlu darah ga da yang donor buat ade".


"Kamu kan bukan anak bapak, makanya beda" Kak Fian mengelus kepalaku sambil berlalu masuk ke dalam mengikuti Kak Andi.


Aku hanya bisa cemberut.


Sejak dulu hal ini selalu menjadi bullyan buatku. Semua kakak laki laki bergolongan darah yang sama dengan bapak. Dan aku bergolongan darah yang sama dengan mama. Cuma aku sendiri, makanya kakak kakakku suka mengejekku bukan anak bapak. Aku diambil dan di pungut bapak di tempat sampah.


Awalnya aku percaya, bahkan menangis minta dicarikan orang tua kandungku. Kemudian bapak menjelaskan bahwa golongan darah itu bisa dari ibu,ayah,kakek atau neneknya.


Akhirnya aku bisa paham, bahkan keempat kakak laki lakiku di marahin habis habisan oleh bapak.


Aku tersenyum sendiri mengingat masa masa itu. Masa aku belum mengenal dunia dan masih merasakan kemanjaan pada ke empat kakak laki lakiku.


Eh, memang sekarang udah gak dimanja lagi?


Masih laaaahhh...


Kata kak Alif, Kak Andi, Kak Fian dan Kak Izal, "walaupun adikku ini sudah keriput dan susah berjalan, tetap kumanja. Apalagi cuma berbuntut dua, tetaplah masih paling disayang".

__ADS_1


beruntunglah kita yang dilahirkan sebagai anak bungsu hehehehe..


Yang anak bontot likenya doong 😘😘


__ADS_2