Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#20


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Hubunganku dengan bapak semakin membaik. Tapi aku tetap tidak ingin bertemu dengan istri bapak. Dan sepertinya wanita itu pun mengerti. Setiap ada acara, wanita itu selalu memilih untuk pulang kampung.


Tapi tidak dengan lebaran Idul Fitri tahun ini. Hatiku meradang begitu tahu keberadaan. Entah kenapa, waktu yang sudah berlalu setahun, membuatku tetap tidak bisa menerima kehadirannya.


Aku enggan turun dari mobil. Bertahan di dalam mobil walaupun kedua anakku sudah berlari riang kedalam rumah kainya.


"Kalo abang matikan mesin mobilnya, ibu pulang pake taksi online"


Aku mengancam bang Handi yang akan mematikan mesin mobil.


"Sampai kapan bu?"


"Terserah ibu sampai kapan"


"Dia baik merawat bapak".


"Berarti ibu ga baik, gak merawat bapak?"


"Bukan seperti itu. Konteksnya berbeda"


"Kalo abang mau turun, silahkan. Ibu pulang, abang bisa minta antarkan Kakaf".


"Ini Idul fitri bu, hari bermaafan"


"Silahkan abang bermaafan ke dalam"


Bang Handi menarik nafas. Menyandarkan punggung dan kepalanya di kursi.


"Baik, ayo kita tunggu di mobil. Biarkan anak anak puas dulu bermain. Baru abang akan ajak mereka pulang"


Bang Handi bertahan dengan posisinya. Aku pun diam memainkan handphoneku. Tak ada suara dan perbincangan lagi diantara kami.


Tak lama ada yang membuka pintu belakang. Aku diam, tak bergerak untuk menoleh dan tak ingin tau siapa pun itu. Ada yang mengelus kepalaku dari belakang.


"Kakak kangen ade kakak. Tapi sayang, ade yang di kangeni gak mau bertemu kakaknya".


Kudengar suara Kak Andi sambil terus mengelus kepalaku.


"Ade perempuan lucu, yang suka minta duit, suka minta ini itu ke kakak kakaknya. Sekarang sudah semakin jauh, sudah bisa hidup sendiri tanpa kakak kakaknya"


Aku tetap diam, tanpa kusadari, ujung mataku sudah berembun. Saat kejadian aku pindah rumah. Aku memang hanya bertemu kak Andi di saat ada acara keluarga saja. Atau di saat moment lebaran seperti ini.


Suasana hangat keluarga kami hilang, ketika bapak memutuskan untuk menikah lagi. Jadi salah siapa itu? Salah aku kah?


"Anggap saja ade tidak melihatnya. Anggap saja ade datang hanya untuk bapak. Ade bisa kan seperti itu?"


Aku tetap tidak bersuara. Hanya suara tarikan hidungku yang terdengar. Air mataku mulai merembes keluar.


"Kasian bapak de. Bapak juga kangen sama ade".


Aku semakin terisak.


"Anak anakmu senang berkumpul dengan sepupu sepupunya. Senang bertemu kainya. Kasian mereka. Tidak paham apa yang terjadi"


Aku mengambil tisu untuk membersihkan cairan yang keluar dari hidungku. Disaat itulah ada yang mengetuk pintu kaca mobil di bagian supir. Bang Handi membuka kaca.


"Kalo gak mau masuk, pulang saja"


Ku dengar suara Kak Alif. Aku ingin menjawabnya, tapi Kak Andi memegang tanganku.


"Sebentar kak, kakak masuk saja"


Kak Andi yang menjawab kak Alif.


"Keras kepala"


Kak Alif berkata sambil berbalik masuk kedalam rumah.


"Diktator"


Aku berteriak dan Bang Handi dengan cepat menutup pintu kaca sambil memandangku.

__ADS_1


"Ibuuuu "


Kak Andi menghembuskan nafas kasar. Kak Alif memandangiku tajam dan aku membalasnya. Entah kenapa sejak kejadian itu aku tidak suka dengan kediktatorannya kak Alif.


Kak Alif berbalik bermaksud mendatangiku kembali. Tapi tangan kak Fani mencegahnya. Bapak pun keluar rumah dan meminta kak Alif untuk masuk.


Sebelum bapak ikut juga masuk kedalam rumah, bapak sempat menoleh ke mobil kami dan menatap kami dengan pandangan sedih.


Bang Handi langsung keluar mobil dan memanggil bapak.


Bang Handi mencium tangan bapak, mereka berbicara sebentar. Tak lama kakaf juga keluar dan berbicara dengan Bang Handi.


"Kamu gak kasian dengan suamimu? Serba salah dia de menghadapi situasi ini"


Kak Andi yang masih duduk di kursi belakang mobil kami kembali bersuara.


Aku tetap diam tidak menjawab semua perkataan Kak Andi. Bang Handi kembali ke mobil dan kembali duduk seperti sebelumnya.


"Sudah satu tahun. Kakak pikir istrimu sudah berubah. Ternyata masih sama ndi. Masih di formalin hatinya. Jadi masih saja membeku. Kakak turun ya ndi".


"Iya kak" Hanya itu jawaban bang Handi.


Pintu belakang mobil terbuka dan tertutup kembali.


"Abang malas berdebat, walaupun kak Alif dan saudaramu yang lain menganggap abang tidak bisa membimbingmu. Tidak bisa mengubah keras kepalamu. Padahal seharusnya mereka sadar, dari mana keras kepalamu ini kalo bukan dari sikap mereka yang terus memanjakanmu".


"Anak anak nanti di antar Kak Izal. Mau pulang atau kemana ini?"


"Pulang, ibu mau tidur"


"Okey".


Tak ada pembicaraan selama perjalanan pulang. Bang Handi menyalakan radio sambil bersenandung kecil. Beberapa kali juga tangannya mengelus kepalaku yang menatap keluar jendela.


Suasana idul fitri di luar jendela sangat terasa. Senyum kebahagiaan terpancar dari semua wajah yang kulihat.


Air mataku menetes. Tidak ada yang memahami diriku. Di saat idul fitri inilah kenangan terakhirku bersama almarhum mama. Di saat idul fitri inilah dadaku selalu merasa sesak. Aku ingin idul fitri terakhirku bersama mama tetap terasa di rumah kami tanpa di tutupi oleh kenangan yang baru termasuk istri barunya bapak.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke handphoneku. Dari kak Mia, istrinya Kak Andi.


"Assalamualaikum adik ipar yang comel"


Aku tersenyum dan membalasnya.


"Waalaikumsalam kakak ipar yang baik hati. Mohon maaf lahir bathin ya kak, maafkan ade".


"Hmmm.. Lebaran yang berkesan de hahahahah"


"Maaf kak 🙏"


Aku memberi sebuah icon tangan tertangkup dua pada pesan yang kukirim.


"Kakak juga menuju pulang. Kak Andi beradu mulut dengan kak Alif begitu kamu pulang. Izal mengajak anak anak semua ke kamarnya. Kakak minta, kamu telpon bapak. Kasian bapak".


Air mataku kembali menetes.


"Sampaikan maaf ade ke kakan ya Kak".


"Kata kakakmu, bilang sendiri. Gak punya mulut apa, diam terus kayak orang sariawan".


"Iya, nanti ade telpon kakan"


Tak lama handphoneku berdering. Kak Mia menelponku.


"Assalamualakum kak"


"Ade di jalan, aku menoleh pada bang Handi. Putar balik bang !"


"Baik kak, waalaikumsalam".


"Kak Andi minta kerumahnya bang"

__ADS_1


Bang Handi mengangguk.


"Untung belum jauh. Kak Andi sudah pulang?"


"Iya, kata kak Mia, ribut sama Kak Alif"


Bang Handi menghembuskan nafas. Dan terus mengemudikan mobil menuju rumah Kak Andi.


######


Begitu aku keluar mobil, putra Kak Andi langsung memelukku.


"Ibuuu, kangen"


"Betul, kangen sama ibu?"


"Iyalah, kangen liat ibu ngambek sama papah"


"Bisa aja kamu tu"


Kami pun bergandengan tangan masuk ke dalam rumah. Kak Mia memyambutku dengan senyuman lebar dan langsung memelukku. Kak Andi duduk di sofa ruang televisi.


Aku mendekati kak Andi. Duduk disamping kanan Kak andi dan menyandarkan kepalaku dibahunya sambil memeluknya dengan tangan kananku.


"Maaf, maafkan ade kak"


Aku menyembunyikan wajahku di bahu kak andi.


Kak Andi menggerakkan bahunya. Membuatku bergeser. Menggerakkan tangan kanannya dan menarik wajahku ke dada. Langsung memelukku erat.


"Maaf, maafkan ade kak"


Aku terisak. Kak Andi mencium kepalaku berkali kali.


"Sudah ya de, jangan seperti tadi. Kakak gak bisa melihatmu seperti tadi".


"Maaf"


Hanya itu yang bisa kuucapkan.


"Wah, ada drama korea ya ndi".


Kak Mia duduk di sampingku dan mengusap bahuku.


"Sudah Ray dokumentasikan tadi mah. Tinggal kirim ke om Izal"


Aku mengangkat wajahku dan memandangi Ray, putra kak Andi.


"Kualat kamu sama ibu"


"Ray, gak videoin ibu. Tapi papah. Kata om Izal, videoin! papah mu nangis apa gak"


Aku memandangi wajah kak Andi. Ada tetesan air di sudut mata kak Andi. Aku mengusapnya dan mencium pipi kak Andi.


Kak Andi pun mencium keningku berulang kali.


"Boleh gak kak Mia sama Handi cemburu liat adegan ini?"


"Ih, kakaaaakkk"


Aku pun beralih memeluk kak Mia dan mencium pipinya juga.


"Itu ada martabak, Handi sudah makan tuh. Lapar katanya menghadapi istrinya".


Aku mengangguk dan beranjak menuju meja makan. Kak Andi pun berdiri mengikuti ku dan Kak Mia. Kami makan bersama. Tanpa membahas apa yang terjadi hari ini.


Setengah jam kemudian kak Fian dan Kak Nisa datang. Adegan peluk memeluk dan tangis menangis pun kembali terjadi. Dan Ray kembali mendokumentasikannya walaupun sudah di sentil jidat oleh papahnya.


Kedatangan Kak Fian di susul oleh Kakaf berserta anak anakku. Ray yang sudah siap dengan kameranya kecewa, karena tidak ada adegan seru bersama Kakaf. Malah tangisan azka yang langsung terdengar begitu melihatku.


Kami berkumpul di rumah kak Andi. Tidak ada yang membahas apa yang baru saja terjadi. Baik padaku atau pertengkaran Kak Andi dan Kak Alif.

__ADS_1


Lebaran Idul fitri ku kali ini memang membuat kenangan yang baru. Bukan di rumah bapak, tapi di rumah kak Andi.


__ADS_2