
Undangan pernikahan Humaira sudah di beritahukan abah pada kami semua. Entah kenapa, aku begitu bersemangat dan langsung menyetujui permintaan abah untuk datang ke pesantren.
Keinginanku hanya satu. Melihat perempuan yang selama tiga bulan terakhir ini mengganggu pikiranku dan selalu hadir di mimpiku. Bahkan pernikahanku yang sudah di rencanakan tidak begitu aku perdulikan. Ku biarkan saja Sarah, perempuan yang berapa bulan ini dekat denganku sehingga abah melamarnya untuk menyiapkan semuanya.
Sebenarnya aku belum mau menikahi Sarah. Tapi abah tidak ingin aku berzina. Abah tau kehidupanku di luar rumah yang penuh dengan wanita wanita setelah perceraianku.
Delapan tahun aku menikah dengan perempuan pilihanku sendiri. Lita namanya. Sudah menjadi pacarku sejak aku Sekolah Menengah. Kami menikah setelah aku menyelesaikan kuliahku. Pernikahan yang menurutku bahagia walaupun kami tidak memiliki anak. Namun berbeda dengan Lita. Dia ingin memiliki anak.
Ya, diriku lah yang tidak bisa memiliki anak. Aku bukannya mandul. Tapi kualitas spermaku yang kurang bagus sehingga tidak bisa membuahi dengan baik. Lita pernah hamil satu bulan setelah pernikahan kami. Tapi kemudian keguguran. Sejak itu Lita tidak pernah mengandung lagi.
Tapi ternyata semua kebahagiaan itu adalah kebohongan. Aku menemukan foto foto peselingkuhan Lita dengan Panji teman sekolah kami dulu. Ternyata selama ini Panji dan Lita saling mencintai. Lita mengakui semuanya dihadapanku bagaimana dia mencintai Panji sejak dulu walaupun dia sudah menikah denganku. Bahkan anak yang dikandung Lita sewaktu menikah denganku dulu adalah anaknya Panji.
Aku hampir masuk penjara karena ingin membunuh Panji. Tapi lagi lagi Lita memohon untuk melepaskannya bersama Panji karena Lita pun saat itu sudah hamil lagi anak Panji.
Aku melepaskan Lita tanpa harta gono gini. Hatiku sakit. Bagaimana aku memperlakukan Lita sebagai Ratu di hati dan di rumahku.
Sejak itu, kehidupan malam adalah tempatku. Aku melampiaskan semua pada wanita wanita penghibur yang menemaniku. Mereka sering kali kuminta untuk mengisap "milikku" jika mereka menemaniku. Tidak perduli dimana pun itu. Di kursi club hiburan malam ataupun di mobil. Tapi aku tidak pernah mau memuaskan mereka. Aku membayar.mereka, bagiku tugas mereka untuk memuaskanku. Tidak ada kewajiban untukku memuaskan mereka. Bagaimana pun caranya mereka merayuku. Aku tidak akan membuka celanaku untuk bercinta dengan mereka.
Pernah suatu saat aku berada di luar kota. Seorang mahasiswi kupu kupu malam menemaniku. Kami bercumbu di mobil. Pengakuannya yang masih perawan membuatku tertarik. Aku membawanya ke hotel tempatku menginap. Kami sudah saling bercumbu bahkan sudah sama sama tanpa busana. Suasana dikamar hotel pun sudah sangat panas. Aku sudah siap untuk melancarkan torpedoku ketika handphoneku terus berdering. Nada khusus yang kuberi untuk keluarga dekatku.
"Dimana Man?"
__ADS_1
Suara bang Rahim kakak tertuaku langsung terdengar. Belum aku menjawab. Bang Rahim langsung lanjut bicara.
"Abah kena serangan jantung. Abang langsung kebandara. Kamu cepat susul abang"
Bang Rahim langsung mematikan handphonenya. Aku pun langsung memakai kembali pakaianku.
"Maaf, kita tidak bisa lanjut. Ini uang untukmu. Tetap lah disini jika tidak ingin pulang. Kamu bisa check out besok pagi".
Tanpa mendengar jawaban darinya aku langsung mengangkat tasku dan keluar.
Di dalam taksi yang kutumpangi menuju bandara aku termenung. Aku melakukan zina. Alloh langsung membalas perbuatanku dengan sakitnya abah. Tanpa sadar aku mengeluarkan air mata.
Maafkan Rahman abah. Rahman berjanji, tidak akan lagi berzina.
Dan beberapa bulan setelah kejadian itu. Aku bertemu Sarah. Yang juga teman sekolahku. Sarah yang tau aku sudah bercerai dari Lita pun terus menempel dengan agresif. Bahkan pernah menyodorkan tubuhnya padaku. Tentu saja aku menolak. Aku tidak ingin lagi berzina.
Karena itu abah memutuskan agar kami segera menikah. Aku menyetujui keinginan abah.
Tapi sejak melihat Ariyanti di pesantren abi Abdi, hatiku menjadi tidak stabil. Aku mulai merasa tidak nyaman berada di samping Sarah yang selalu agresif dan selalu mencoba merayu dengan alasan "toh sebentar lagi kita akan menikah"
Entahlah, aku merasa Sarah juga menyembunyikan sesuatu dariku. Karenanya aku terus berdoa agar Alloh memberikanku ketenangan. Jika memang Sarah adalah jodohku berikutnya, maka berikan lah kemudahan bagi kami. Jika tidak, maka tunjukkanlah semuanya padaku sebelum pernikahan itu terjadi.
__ADS_1
Lamunanku terhenti ketika bang Rahim menepuk pundakku.
"Kenapa man? Abang liat kamu melamun dari tadi?"
"Rahman masih ragu dengan pernikahan ini bang"
"Sarah?"
Aku mengangguk.
"Kamu harus bisa move on, tidak semua wanita seperti Lita".
"Tapi Rahman rasa, ada yang disembunyikan Sarah dari Rahman bang"
"Kamu selidiki dulu. Masih ada waktu sebelum pernikahan di bulan depan"
Aku hanya mengangguk.
Semoga saja semua firasatku benar. Sehingga aku gagal menikah dengan Sarah dan bisa meminang Ariyanti.
Eh, kok seperti itu man niatnya? 🙈😀
__ADS_1
"