Dua Tulang Rusuk

Dua Tulang Rusuk
#13


__ADS_3

Hari-hariku kembali berwarna ketika Kakaf sudah mulai membaik. Setelah satu bulan di rumah sakit dan melalui dua kali operasi pengelupasan, akhirnya kakaf bisa kembali pulang. Walaupun belum bisa beraktifitas normal seperti biasanya, tapi kakaf tetap berusaha untuk mengerjakan sesuatunya sendiri.


"Ibuuuuuu..."


Kudengar suara azwa memanggilku.


"Kenapa nak?"


Aku yang baru selesai memandikan adiknya langsung menoleh ketika kulihat azwa memasuki kamar.


"Om Izal jadi ocong, awa akut ibuuuu"


Azwa bersembunyi dibalik selimut yang sudah kulipat rapi dan kembali di bukanya.


"Om Izal kenapa nak?"


Aku kembali bertanya.


"Om Izal jadi pocoooonnngggg"


Kulihat Kakaf masuk kekamarku dengan sarung yang mengikat sampai leher dan melompat lompat. Aku tahu, jika kakaf memakai sarung sampai batas leher, berarti luka lukanya baru di beri salap. Tunggu beberapa menit, baru kakaf bisa memakai baju kembali. Tapi sepertinya hari ini kakaf memakai sarung lebih lama untuk mengganggu azwa.


"Ibuuuuuuu, akuuutttt.."


Azwa langsung memelukku. Dan hampir saja menerjang adiknya. Melihat itu, kakaf hanya tertawa keras.


"Kakaf ih, hampir kena si ade kan. Gak pa pa kak, Om Izal cuma bohong"


"api om izal oncat oncat bu"


"Kalo om izal loncat loncat lagi, kakak pukul pake sapu ya"


"Kok sapu sih de?"


Kakaf yang berdiri disamping tempat tidur langsung protes.


"Habisnya, kakaf suka betul gangguin azwa. Sudah tau ade pagi gini repot, kakaf lagi usil."


"Tapi ga pa pa de, pukul aja. Kan bisa ketemu dokter Raisa"


Kakaf tersenyum manis.


Untung saja wajah tampannya kakaf tidak terdapat luka luka yang serius, sehingga dengan sedikit bantuan cream dari dokter kulit. Kulit wajah kakaf kembali membaik.


"eh, emang dokter Raisa mau ketemu kakaf? Udah punya calon suami dia kaf, dokter juga. Gak kayak kakaf, yang sekarang pengangguran."


"Siapa bilang kakaf pengangguran, gaji masih jalan kok"


"Setelah di gugat kak Alif, emang masih mau tu perusahaan kasih kakaf pekerjaan?"


"Yang jelas, sebelum ada kata phk dan pemutusan kontrak, masih lah status kakak karyawan disana".


"Yang meninggal kemarin gimana kaf?"


"Katanya di kasih santunan dari perusahaan juga dari asuransi kan. Keluarganya dapat gaji selama satu tahun."


"Kalo kemarin kakaf meninggal, ade dong yang dapat duitnya."


"Kamu doakan kakaf meninggal de?"

__ADS_1


"Enggak kaf, kan ade bilang seandainya."


Aku tertawa kecil melihat wajah cemberut kakaf.


"Liat kakaf kemaren aja kamu sudah nangis nangis, gimana kalo kemaren kakaf meninggal? Nangis tujuh hari tujuh malam tuh."


"Hahahahahahha, enggak lah kaf. Ade cuman nangis satu hari aja. Kan habis itu ade tahu bakalan dapat duit."


"Ade durjana lue.. Lebih sayang duit dari kakaknya"


"Hahahaha, gak kok kaf, ade sayang kakaf."


Aku beranjak hendak memeluk kakaf tapi di cegah kakaf.


"Eeehhh, jangan peluk peluk. Gak pake dalaman ini."


Kakaf menghindar dari pelukanku.


"Peluk aaahhhh"


Aku terus mendekati kakaf sambil merentangkan tanganku. Dan kakaf pun tertatih tatih menghindar dariku sambil keluar dari kamar yang kuiringi dengan derai tawa.


Azwa pun hanya terdiam melihat tingkahku dan kakaf sambil kembali bersembunyi di dalam selimut.


"Sudah kak, om izal sudah ibu usir. Besok kalo om Izal ganggu kakak lagi, kakak peluk aja kayak ibu mo peluk om Izal tadi ya".


"Awa gak mau peluk om Izal."


"Kenapa?"


"Om Izal au obat"


Aku tertawa kecil menanggapi kata kata azwa sambil mengelus kepalanya pelan.


Aku ingat, sore itu ketika Kakaf sudah diijinkan untuk pulang. Bapak memanggil imam mesjid buat membacakan doa untuk kesembuhan dan kepulangan kakaf ke rumah.


Dan Kakaf yang masih terlihat merah merah di wajahnya pun memanggil azwa karena selama di rumah sakit, aku tidak diperbolehkan bapak dan kakak kakakku membawa azwa membezuk om nya.


"Papaaahhhh... " Azwa langsung memeluk Kak Fian dan bersembunyi di balik badan kak fian.


"Kakak kenapa? Kok sembunyi sama papah?"


"ada ummy pah.."


"Hah? Ummi? Apaan kak?"


Azwa hanya diam sambil menunjuk Kakaf. Sebenarnya Kakfi sudah mengerti maksud azwa. Tapi bukan kakfi namanya kalo tidak membuat drama.


Dan Kakaf hanya diam sambil duduk di kursi ruang tengah. Pupus sudah harapan Kakaf untuk melepas rindu dengan keponakan perempuan kesayangannya.


"Azwa gak lihat siapa itu? itukan om izal, bukan mummy"


Azwa menggeleng.


"Om Izal itu anteng pah. Itu ukan om Izal"


"Itu om Izal duduk anteng di kursi. Coba azwa dekatin om Izalnya".


"Awa akut pah"

__ADS_1


Azwa kembali bersembunyi di badan Kak Fian.


"Azwa aja takut, gimana perempuan perempuan itu ya. Gagal dah Izal dapat istri lagi.. Aduh!"


Tiba tiba sebuah sendal jepit rumah melayang ke kepala kak Fian. Siapa pelakunya?


"Gak usah ngomong yang enggak enggak. Azwa ikut sama abah, gak usah takut. Abah temanin. Ayo."


Kak Alif mengendong azwa dan mendekati Kakaf, azwa kembali bersembunyi di badan Kak Alif. Sedangkan Kak Fian mengelus sakit kepalanya yang dilempar sendal rumah kak Alif.


Kami semua yang ada di sana hanya bisa tersenyum. Takut berkomentar. Takut sendal Kak Alif kembali melayang.


Kak Alif duduk disamping Kakaf.


"Bersuara zal, jangan cuma diam"


Kakaf memandangi Azwa.


"Hai, cantiknya om Izal."


Azwa sedikit menoleh.


"Gak sayang lagi sama om Izal? Om Izal nangis nih ya"


"Ini om Izal?"


Azwa duduk di atas pangkuan kak Alif sambil memandangi kakaf.


"Azwa lihat kan, kalo ini om Izal. Ayo pegang tangan om Izal."


Kak Alif mengambil tangan azwa yang masih takut takut dan mengulurkan pada Kakaf.


"Om Izal kecelakaan. Tangan, kaki, mukanya om Izal sakit. Azwa sayangkan sama Om Izal?"


Azwa mengangguk dan kembali memandangi kakaf.


"Atit om?"


Kakaf mengangguk.


"Awa iup ya om?"


Azwa berpindah duduk di tengah antara kak Alif dan Kakaf sambil meniup luka yang sisa memerah di tangan kakaf.


Kak Alif memandangi Kak Fian dan kami semua.


"Anak itu dikasih pengertian. Diajarkan. Di beritahukan yang betul. Mereka pasti paham. Jangan di ajarkan,di perdengarkan dan diperlihatkan sesuatu yang tidak tidak"


Kak Fian hanya diam. Jika tidak ada Istri Kak Fian, pasti kak Alif akan berkata.


"Makanya Alloh belum kasih kamu kepercayaan anak, kamu belum serius mendidik anak"


Dulu itu pernah terucap, dan hasilnya istri kak Fian merajuk. Tidak mau hadir di setiap acara keluarga karena takut disindir tentang anak. Tapi setelah Kak Alif datang kerumah mereka dan minta maaf, semuanya menjadi normal kembali.


Itulah Kak Alif, walaupun tegas, keras dan tidak bisa dibantah. Tapi apabila salah, maka dia akan mengakuinya dan langsung meminta maaf.


Itu juga yang diajarkannya pada anak anaknya. Makanya anak anak kak Alif terkenal disiplin dan bertanggung jawab.


Terbanding terbalik dengan Rai anak tunggal kak Andi. Tapi dengan adanya Rai di tengah ketiga anak kak Alif dan kedua anakku. Katanya Kakaf sih.. kehadiran Rai membawa keseimbangan semesta di keluarga kami.

__ADS_1


Hahahahhahaa.. Udah kaf, duduk aja yang anteng.


LOVE YOU 😘


__ADS_2