
Hari terus berlanjut berganti bulan dan tahun.. kehidupan keluarga kami pun berlanjut. Kakaf sembuh total setelah empat bulan yang penuh drama. Kakaf berhenti berkerja, mendapatkan pesangon yang akhirnya di gunakan kakaf untuk membuka sebuah mini cafe. Kenapa mini? karena memang tempat yang di sewa kakaf sangat kecil, sehingga bapak menyebutnya cafe mini.
Aku tetap membantu bapak sambil mengurus rumah dengan dua putri kecilku. Kami tetap tinggal di rumah bapak bersama dengan Kakaf. Kak Alif semakin bersinar dan terkenal dengan karirnya. Kak Andi pun sekarang ikut membantu bapak. Menangani pekerjaan yang berada diluar kota. Menemani dan menjadi supir bapak kemana pun beliau pergi. Satu hal yang membahagiakan bagi kami tahun ini adalah kehamilan istri Kak Fian. Ya, setelah sekian tahun menikah, akhirnya mereka akan memiliki momongan. Andai mama masih ada. Pasti beliau yang paling bahagia.
"Mukanya mirip azka ya kak"
Kak Nisa yang sedang menyusui bayinya yang belum genap dua puluh empat jam itu tertawa..
"Gimana gak mirip azka, si papah tiap hari gangguin azwa terus, bikin nangis si azka. Azwa ma azka kan beda di rambut aja. Satu keriting satunya lurus"
Aku tertawa menanggapi ucapan Kak Nisa. Ya, kedua anakku, selain jenis kelamin yang berbeda, mereka memiliki wajah yang sama, hanya saja rambut azwa yang keriting seperti aku dan almarhum neneknya dan azka memiliki rambut lurus seperti ayahnya. Wajah mereka berdua pun lebih banyak ke keluarga besarku. Bahkan azwa memiliki hidung seperti almarhum neneknya. Azka pun lama kelamaan lebih mirip ke kakaf di bandingkan ke ayahnya. Bahkan kakaf sering kali mengatakan jika azka adalah anaknya jika bocah itu berada di cafe miliknya.
"Jelaslah mirip kaka, kan adenya kaka" Kak Fian yang baru saja keluar kamar mandi langsung mengambil azka dari pangkuan ayahnya dan langsung menciumi bocah satu tahun lebih itu.
Azka langsung tertawa geli di dalam dekapan papahnya. Azka, di keluarga besarku lebih sering di panggil kaka.
"Assalamualaikum"
Suara salam di sertai pintu rawat inap kak Nisa yang terbuka. Kami serentak menjawab salam dan melihat ke arah pintu. Kak Alif, Kak Andi berserta istri dan diikuti anak anak mereka semua tampak masuk beriringan. Penuh sudah ruang rawat inap ini.
Azka langsung loncat dari gendongan Kak Fian dan berlari mendekati Rai anaknya Kak Andi. Rai dan Azka memang memiliki kedekatan yang lebih dibanding sepupu sepupu lainnya.
"Wah, ini sih tetap azwa yang jadi primadonanya" Kak Andi menatap bayi yang sekarang sedang digendong kak Mia istrinya.
"Tapi kasian juga nanti kalo dah besar, bodyguardnya banyak. Susah nanti cari teman laki laki" Aku mengomentari Kak Andi.
"Apa bedanya sama kamu"
Kak Alif menatapku tajam seakan mengingatkanku bahwa dulu aku pun sebagai anak perempuan satu satunya dijaga mereka dengan ketat. Tapi tetap saja mereka kecolongan.
Aku hanya tersenyum membalas ucapan kak Alif tanpa berniat untuk membahasnya lebih lanjut lagi.
"Bapak ga kesini dek?"
__ADS_1
Kak Fani yang sekarang mengambil alih bayi yang belum kami ketahui namanya.
"Sama Kakaf kak, soalnya tadi kami dari rumah neneknya anak anak langsung kesini. Kakaf bilang, nanti kakaf yang bawa bapak".
"Fian, coba tanya Izal, sudah jalan apa belum". Kak Alif kembali memberi intruksi. Dan kak Fian pun segera langsung melaksanakannya.
"Kata Izal masih di jalan dari cafe kak, belum jemput bapak lagi"
"Arkan, Rai ajak ade ade main di taman luar. Ada tempat bermain kan?"
Kak Alif memerintah anak pertamanya dan Rai untuk mengajak semua bocil bermain diluar. Kami semua hanya diam. Rai dan Arkan pun mengikuti titah abahnya.
"Arkan, kalo nanti ada kai datang sama om Izal, kasih tau ke abah ya"
"Iya bah, siap!"
Arkan dan Rai pun langsung menggiring seluruh bocil untuk bermain ditaman luar yang memang di siapkan oleh pihak rumah sakit.
"Ada yang mau kakak bicarakan"
"Andi, bicara sekarang"
Kak Alif memandang Kak Andi di ikuti oleh tatapan kami semua.
"Ada yang merasa perubahan bapak gak? Ade, kan satu rumah tu sama bapak".
Aku berpikir sesaat sambil mencerna arti perubahan yang di maksud kak Andi. Aku kemudian menggeleng.
"Bapak sekarang memang lebih banyak di kamar sih kak. Ade pikir bapak capek jadi harus istirahat. Tapi gak ada perubahan sikap. Ke anak anak juga masih sama"
"Kakak sudah tanya Izal, kata Izal bapak sekarang suka telponan. Kalo malam kedengaran suaranya sampai ke kamar Izal".
"Serius kak?" Aku malah bertanya pada kak Andi.
__ADS_1
"Kami berdua sudah membahasnya. Kata Andi, bapak juga sekarang suka tidak mau di temani kalo kemana mana. Apalagi kalo sudah di luar kota. Kesimpulan kami, ada wanita yang di sukai bapak, dan wanita itu berada di kota tempat proyek bapak sekarang ini".
"Masa sih kak?" aku memandang Kak Alif tidak percaya.
"Bapak belum berani jujur ke kita. Tapi jika suatu saat bapak jujur, apa sikap kita, terutama kamu dek. Mau gak bapak menikah lagi?"
Aku menggeleng dengan cepat.
Kak Fani mendekatiku dan mengelus lenganku.
"Kadang kala, di saat kita semua sudah merasa cukup memperhatikan bapak dan kita merasa bahwa perhatian dari kita saja sudah cukup, ternyata itu tidak bagi bapak de".Kak Fani terus mengusap lenganku.
"Tidak hanya *** yang dibutuhkan oleh orang yang sudah menduda seperti bapak atau Izal. Tapi juga teman cerita. Apalagi sudah berumur seperti bapak. Maunya ada teman cerita sebelum tidur, dipijit sebelum tidur. Mau minta pijit sama kamu, kamu sendiri harus mengurus anak anakmu kan dek"
Kak Fani kembali berucap seraya memberikan penjelasan padaku.
"Pendapatmu Fian?" Kak Alif bertanya pada Kak Fian.
Kak Fian menarik nafas sejenak. Aku yakin, Kak Fian pun sama terkejut sepertiku.
"Terserah bapak aja lah kak. Asal jangan lebih muda dari adek. Nanti anak Fian ada Om yang seumuran lagi".
Kak Andi dan Kak Alif tertawa kecil. Hanya aku yang terdiam, mencerna semua pembicaraan ini.
Serius bapak mau menikah lagi?
Bapak sudah melupakan mama?
Apa aku kurang memperhatikan bapak?
Apa perempuan yang di sukai bapak itu baik?
Apa lidahku bisa memanggil perempuan itu mama juga?
__ADS_1
Semua itu berkecamuk di dalam otakku. Bahkan ketika bapak datang bersama Kakaf, dan kami menghentikan pembicaraan kami, aku lebih banyak diam. Beberapa kali bang Handi memegang tanganku sekedar membawaku kembali ke dunia nyata dari pikiran pikiranku.
Ah, sepertinya kehidupan di keluarga kami akan kembali berwarna.