
Sasa masih menunggu jawaban Saka, gadis itu terlihat sangat angkuh, ia melipat kedua tangannya diatas dada.
'' Jawab dong Saka! jangan diam saja.'' ucap nya lagi saat melihat pria tersebut hanya diam.
'' Saya hanya khawatir saja dengan nona, karna sejak tadi siang tidak keluar kamar.'' jawabnya
'' Kau mengkhawatirkan aku? tumben-tumbenan, biasanya juga gk perduli.'' sarkasnya
'' Nona jangan seperti itu, bukankah saya sudah minta maaf? saya hanya ingin nona tidak marah lagi pada saya.'' ucapnya
'' Aku tidak akan marah kalau kamu menuruti semua ucapanku Saka, dan kalau kamu mau itu terjadi, mulai besok kamu jangan nunggu dikantin kampus, cukup nunggu didalam mobil saja, aku gk mau sampai kamu bicara dengan Diva lagi, mengerti kamu?!
'' Iya nona, saya mengerti, dan saya juga ingin nona menuruti saya, agar tidak lagi berhubungan dengan Alex.'' sambungnya, dan tentu saja itu hanya ia ucapkan didalam hati, mana berani Saka mengatakan itu didepan Sasa langsung.
Sedangkan dikamar yang berbeda terlihat Bella sedang menerima panggilan telpon dari Bu Rami, ibu dari Bella
'' Bu, mana ada aku uang sebanyak itu? bukankah ibu dan bapak baru di transfer sama mas Aby lima juta minggu lalu? masa iya sudah habis?''
'' Kau tanyakan saja pada ayahmu itu, dia selalu meminta uang pada ibumu ini, asal kamu tau, ayahmu itu setiap malam kerjanya hanya bermain judi dan mabuk-mabukan saja, hutangnya juga sudah mulai menggunung pada rentenir, jadi menurutmu ibu harus bagai mana lagi Bella? pada siapa lagi ibu meminta uang, kalau bukan sama kamu? ibu itu sengaja mencarikan kamu suami yang kaya, agar ibu dan bapak tidak kekurangan uang, jadi jika ibu dan bapakmu membutuhkan uang, kamu harus memberikannya pada kami!" ucapnya panjang lebar
'' Tapi benar buk, aku gk ada uang.''
'' Ya kamu minta dong sama suami kamu, pokoknya ibu gk mau tau, besok pagi uangnya harus sudah ada direkening ibu, kalau gk, para penagih hutang itu akan ibu suruh datang kerumah Oma Dona.' ancam Bu Rami
'' Bu, kok ibu tega sih sama aku? memang nya ibu gk kasihan apa sama aku? aku malu bu, kalau harus meminta terus sama mas Aby, nanti dikiranya aku memanfaatkan dia lagi, aku gk bisa Bu maaf.''
klik
__ADS_1
Bella langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak
Sedangkan di sebrang telpon Bu Rami terus memaki putri nya habis-habisan.'' Dasar anak tidak tau diuntung, kalau bukan karna aku, mana bisa dia dapat suami seperti suaminya yang sekarang ini, bukannya bersyukur dan membantu ibunya yang sedang kesusahan, ini malah mematikan ponselnya,'' omelnya pada ponsel yang dipegangnya, Bu Rami menganggap jika saat ini ia sedang memarahi Bella
................
Saat ini terlihat semua sedang berkumpul dimeja makan, kecuali Bella yang masih berada dikamarnya, wanita itu masih memikirkan ucapan ibunya yang mungkin akan menyuruh para rentenir itu untuk datang kerumahnya, untuk menagih hutang.'' Duh, bagai mana kalau ibu serius dengan ucapannya? haaiss,, bagai mana ini?'' gumamnya sambil menggaruk dengan kuat rambutnya, untuk meluapkan emosi dihatinya, hingga terlihat berantakan
'' Bella apa yang kamu lakukan dengan rambutmu itu? kenapa membuatnya sampai berantakan seperti itu?'' tanya Aby yang tiba-tiba masuk kedalam kamar
'' Mas Aby? ada apa mas?''
'' Ada apa? bukankah tadi kamu bilang ingin segera turun? semua nya sudah menunggumu loh sejak tadi, lalu kenapa kamu masih berada dikamar?'' tanya Aby pada istrinya tersebut.
'' Maaf mas, yasudah yuk kita keluar sekarang.'' ajaknya yang hendak melangkah menuju pintu kamar.
'' Tidak mas, tidak ada.'' ucapnya sambil menundukkan pandangannya
'' Sebaiknya kamu jujur pada saya, karna saya tidak suka jika dirumah ini menyembunyikan suatu masalah.'' ucapnya dengan nada datar.
Bella menghela nafas kasar, ia tau saat ini, pasti suami itu sedang marah padanya.'' Sebenarnya ibu minta aku mengirim sejumlah uang padanya.'' ucap Bella yang akhirnya jujur
'' Apa pak Joko berjudi lagi?''
'' Iya mas, bapak masih belum bisa menghilangkan kebiasaan buruknya, bahkan ibu bilang bapak berhutang pada rentenir.'' sambungnya lagi
'' Berapa hutangnya?'' tanya Aby membuat Bella langsung menaikan pandangannya
__ADS_1
'' Berapa hutang bapak kamu pada rentenir itu?'' ulangnya
'' Sepuluh juta mas.'' jawab nya
'' Baiklah, mas akan segera mengirimnya sekarang.''nucapnya yang langsung dicegah Bella
' Jangan mas! aku gk mau kalau sampai merepotkan kamu terus, lagi pula jika terus dikirimi uang, bapak akan semangkin meraja rela, jadi sebaiknya tidak usah.'' ucap Bella pelan diakhir kalimat
'' Kamu pikir saya bisa melihat istri saya tertekan seperti ini? jika pun saya harus mengeluarkan banyak uang saya untuk mereka, saya rela.
'' Iya mas aku tau, tapi aku juga gk mau kalau bapak terus bergantung sama kamu, aku ingin mereka berubah, aku gk mau punya bapak penjudi dan juga pemabuk.'' ucapnya terlihat sedih
'' Saya mengerti, nanti kita cari jalan keluar, bagai mana agar bapak berhenti dari kebiasaan buruknya itu, kalau gitu sekarang lebih baik kita kebawah, saya sudah sangat lapar, memangnya kamu tidak dengar cacing diperut saya meronta minta makan hem?'' ucapnya sambil tersenyum
'' Mas Aby bisa aja.'' ucap Bella sambil tersenyum kala mendengar ucapan suaminya tersebut.
***
Jam baru menunjukkan pukul delapan malam, terlihat Sasa baru saja keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga, Saka yang merasa penasaran langsung mengikuti langkah nonanya tersebut.
'' Terburu sekali dia, memang nya ada apa ya?'' gumamnya sambil melangkah dengan cepat mengikuti gadis itu.
Hingga akhirnya langkahnya terhenti saat pandangannya tertuju pada dua orang muda mudi yang saling berpelukan didepan matanya, tangannya langsung mengepal saat melihat nonanya tersebut memeluk pria itu dengan sangat eratnya, bahkan sambil tersenyum, membuat hatinya terasa nyeri dan sesak.
'' Apakah ini yang dirasakan Sasa tadi siang, saat aku bersam Diva??''
Next
__ADS_1