
Rey masih saja terus menangis, Duka yang amat mendalam dialami Rey yang baru saja ditinggalkan sang Ayah untuk selamanya.
Disisi lain dia baru saja menikah dengan jodoh yang dipilih langsung oleh Ayahnya sebagai permintaan terakhir.
Para staff mulai mempersiapkan Ambulance dan segala keperluan lainnya untuk mengantar Jenazah Pak Atmaja ke kediamannya.
Rey bahkan belum bangkit dan masij terpelungkup di Jenazah Ayahnya.
"Sudah Rey, cukup Nak" Ucap Om Yahya.
"Ayo Rey, petugasnya udah mau nganter jenazah pulang" Tambah Desi.
Rey pun mulai bangun dengan wajah merah dan berlumuran air mata.
Para petugas pun mengankut Jenazah Pak Atmaja, membawa nya lewat lorong dan menaikkan ke Ambulance.
"Ayo Rey kita pulang" Ajak Desi.
Rey hanya bisa mengangguk kecil, dan masih tak dapat berkata.
Lalu Rey berucap ingin naik Ambulance bersama Jenazah Ayahnya.
Dan Rey duduk dalam Ambulance sambil memandang jasad Ayahnya.
"Kok Ayah tega tinggalin Rey secepat ini" Ucap Rey sambil meneteskan air mata.
Mereka pun pulang beriringan dengan Ambulance, dan beberapa saat kemudian mereka telah tiba di rumah Rey.
Di Komplek dengan rumah mewah seperti ini memang tidak terlalu banyak orang yang menghadiri, apalagi tetangga, hanya beberapa. Hanya para Karyawan dari kantor serta kolega Ayah nya saja dan beberapa keluarga dekatnya. Dan tampak beberapa teman Rey pun hadir, termasuk Bayu dan Vera.
Jenazah Ayah Rey pun di mandikan, di kafankan, dan di sholatkan.
Setelah itu Jenazah ayahnya di gotong menggunakan keranda, dan dibawa ke TPU terdekat untuk di makamkan, Rey pun ikut menggotong keranda Ayahnya.
Sesampai di TPU bahkan Rey ikut masuk ke dalam liang kubur untuk menggotong Ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir nya.
Rey pun mengadzan kan Ayahnya untuk yang terakhir. Kayu pembatas di tutup, dan tanah mulai di masukkan menutupi lubang.
Rey tak kuasa menahan air matanya, matanya merah dan bengkak.
Desi di sampingnya mengelus punggung Rey dan mencoba menenangkan Rey.
"Kamu yang sabar Sayang, kita sekarang tugasnya mengirim do'a kepada Almarhum Ayah" Ucap Desi.
Setelah pemakaman selesai satu persatu pelayat mulai kembali ke rumah Rey. Tersisa Rey, Desi, Ayah Desi, Bayu dan Vera. Tapi Rey belum mau beranjak, dia menatap pusara dan nisan Ayahnya.
__ADS_1
"Rey, ayo kita pulang, orang - orang sudah nunggu kita dirumah, banyak yang ingin bertemu." Ucap Desi.
Rey pun beranjak dari kuburan Ayah nya dan mulai melangkah pulang.
"Ayah yang tenang, Rey akan selalu kirim do'a buat Ayah" Ucap Rey.
Sementara di sisi lain, Vera yang belum tahu apa apa tampak mengerutkan dahi dan penasaran, mengapa Rey dan Desi tampak begitu dekat, dia sangat ingin menanyakan langsung pada Rey, namun kondisi Rey sedang berduka dan Vera menunda nya untuk moment yang tepat.
Vera pun bertanya kepada Bayu...
"Kak Rey sama Mbak Desi kok deket banget ya" Tanya Desi.
"Iya kan Mbak Desi sekretaris Ayah Rey, dan Mbak Desi juga yang nemenin waktu Pak Atmaja di rawat" Elak Bayu.
Bahkan Bayu pun belum mengetahui kalau Rey sudah menikah.
"Oh gitu" Jawab Vera belum puas dengan jawaban Bayu.
Mereka pun ikut Rey dan yang lainnya kembali ke Rumah Rey.
Ternyata di sana sudah menunggu para Karyawan dan Kolega almarhum Ayah Rey.
Serta Pak Robi yang sebelumnya telah bertemu dengan Rey di rumah sakit. Pak Robi langsung menghampiri Rey dan memeluknya.
"Pak Rey yang sabar ya, semua sudah diatur sama yang diatas" Ucap Pak Robi.
"Mereka hadir disini turut berbela sungkawa atas kepergian Pak Atmaja, dan juga 1 hal penting yang harus diumumkan" Tambah Pak Robi.
"Iya silahkan Pak" Jawab Rey.
"Mohon perhatian nya untuk semua, Ini adalah Reynand Farhadian, Anak semata wayang dari Pak Atmaja Farhadian dan saya sebagai kuasa Hukum yang telah di percaya oleh Atmaja mengumumkan bahwa Pak Reynand Farhadian akan menjadi penerus perusahaan sebagai CEO" Jelas Pak Robi.
"Dan satu hal lagi, Ibu Desi yang dahulunya sebagai Sekretaris Pak Atmaja telah sah menjadi Istri dari Pak Rey" Tambah Pak Robi.
Sontak saja Vera yang juga ikut mendengar pengumuman itu sangat terkejut, mendengar bahwa Rey sudah menikah.
Vera tak bisa menahan diri dan berlari keluar, dalam hati Vera berkecamuk, hatinya hancur.
Rey bahkan tak melihat Vera berlari keluar.
Pak Robi pun mengakhiri pengumuman yang di sampaikan serentak semua yang hadir memberikan selamat.
"Selamat Ya Pak Rey, dan turut berduka juga" Ucap mereka satu persatu sambil berjabat dengan Rey.
Tetapi masih ada masalah dengan terpilihnya Rey sebagai penerus kepemimpinan perusahaan. Beberapa Dewan Direksi Perusahaan menghampiri Pak Robi dan ingin berbicara langsung dengan Rey.
__ADS_1
"Pak Robi mohon tunggu sebentar" Ucap salah satu Dewan Direksi uanh bernama Pak Andi.
"Iya Pak" Jawab Pak Robi.
"Apa kita perlu mengevaluasi dulu mengingat Rey masih sangat Muda dan baru saja Lulus SMA, bukan hal mudah untuk memimpin sebuah perusahaan sebesar ini" Ucap Pak Andi.
"Baiklah saya akan panggilkan Rey sebentar" Ucap Pak Robi.
Pak Robi langsung memanggil Rey dan diajak menuju ruang kerja Pak Atmaja.
"Gimana Pak??" Tanya Rey.
"Tunggu sebentar" Pak Robi kemudian keluar dan masuk bersama Dewan Direksi Perusahaan.
"Saya Pak Andi dari Dewan Direksi , Apa Rey sudah benar benar siap untuk memimpin Perusahaan" Tanya Pak Andi.
"Saya mau jujur Pak, saya sepenuhnya belum siap, meskipun ini permintaan langsung dari Ayah" Jawab Rey.
"Jadi begini Rey, mengingat kamu juga yang baru lulus SMA, sangat saya anjurkan untuk kamu melanjutkan ke jenjang berikutnya, seperti S1, S2 bahkan S3. agar ku sangat matang nantinya untuk memimpin perusahaan" Jelas Pak Andi.
"Keinginan saya memang seperti itu awalnya Pak, saya ingin kuliah dan melanjutkan pendidikan, tapi ini perusahaan Ayah gimana??" Jelas Rey.
"Saya menyarankan agar Rey menempuh kuliah, minimal di Sarjana dulu, dan Rey bisa memimpin Perusahaan dengan baik" Jelas Pak Andi lagi.
"Perusahaannya gimana Pak?" Tanya Rey.
"Rey tenang saja, Rey tetap menjadi pimpinan Perusahaan, dan kami sebagai Dewan Direksi dan para jajaran Manager serta karyawan tetap akan bekerja seperti biasa, Pak Atmaja sudah sangat baik kepada kami semua, Jasa nya tak akan pernah bisa kami balas, ini hanya sebagian kecil dari balasan kami" Ucap Pak Andi.
"Baiklah kalau begitu Pak, saya akan melanjutkan Kuliah dan Perusahaan saya percayakan ke Bapak sampai tiba saat saya layak menjadi seorang pemimpin, Tapi saya juga ingin istri saya Desi juga masuk ke Dewan Direksi sebagai pengawas". Ucap Rey.
"Tentu saja, sesuai keinginan Mas Rey, Baik Pak Robi, silahkan berkasnya" Ucap Pak Andi.
"Rey tolong tanda tangani, dan baca dahulu berkas ini" Ucap Pak Robi.
Berkas tersebut berisi tentang pelimpahan kepemimpinan Perusahaan kepada segenap Dewan Direksi sampai waktu dimana Rey selesai menempuh Pendidikan Degree 1, juga Desi sebagai Pengawas Dewan Direksi.
Rey pun menandatangi nya dan Pak Robi sebagai saksi dan Pak Andi sebagai penerima.
Pengalihan kepemimpinan sementara telah usai, Rey pun keluar ruangan dan langsung menuju ke tempat Desi.
Rey pun menceritakan perihal tersebut, Desi setuju saja karena semua keputusan ada di tangan Rey.
Desi pun tak terlalu khawatir karena sebagai pengawas Dewan Direksi sama juga dengan Desi berpangkat di atas mereka.
Hari demi hari pun berlalu semenjak kepergian Pak Atmaja.
__ADS_1
Rey pun mulai mengurus kembali ke kehidupan normal nya...-