
Sepanjang jalan mereka hanya ngobrol ringan, dan tak terasa sampai lah Rey di kampung Windi.
"Ini kita udah sampai ya Win" Tanya Rey.
"Iya Kak, kita udah sampai nih" Jawab Windi.
"Rumahnya Windi di sebelah mana" Tanya Rey lagi.
"Itu Kak, jalan lurus, gang kedua belok kiri" Jelas Windi.
"Lewat sini, terus sinii, terus kemana Win??" Tanya Rey.
"Itu kak Dekat Masjid, yang rumah masih belum di plaster, yang masih kelihatan batanya" Jawab Windi.
"Nih kita udah sampai ya" Ucap Rey.
"Iya kak, Ayok turun Kak" Ajak Windi.
Rey pun memarkinkan mobilnya tepat di depan rumah Windi, terlihat rumah Windi yang sederhana, dan suasana kampung yang begitu asri, dan hawa yang cukup dingin.
"Ayoo Kak kita masuk" Ajak Windi.
"Iyaa Win" Jawab Rey.
Windi dan Rey pun kemudian masuk ke rumah Windi, terlihat disana 2 orang tengah duduk, 1 orang tua yang berumur kisaran 45 tahun, dan 1 remaja yang kira kira berumur 16 tahun. Yang rupanya itu adalah Ayah dan Adik Windi.
"Assalamuallaikum Pak" Ucap Windi.
"Wa'alaikum salam, Windi kamu kok pulang Nak" Tanya Ayah Windi.
"Kenalin Pak ini temen Windi Kak Rey, Kak Rey ini Bapaknya Windi" Ucap Windi.
"Assalamuallaikum Pak, Saya Rey" Ucap Rey.
"Wa'alaikum salam, silahkan duduk Nak" Tawar Bapak Windi.
"Rey ini adik ku, Nama nya Febri" Ucap Windi.
"Halo Febri, Aku Rey" Ucap Rey.
"Iya Kak, silahkan" Jawab Febri ramah.
Rey yang agak canggung pun duduk bersama Bapak dan Adiknya Windi. Sedangkan Windi masuk ke dapur untuk membuat teh untuk di hidangkan.
"Kalian berangkatnya kapan??" Tanya Ayah Windi.
"Tadi sore Om" Jawab Rey.
"Ngomong ngomong Om, saya ke sini sama Windi kan niat nya mau bawa Ibu ke Rumah Sakit" Tambah Rey.
Kemudian Windi pun keluar dengan membawa Teh buatannya.
"Iya Pak, Windi mau bawa Ibu ke Rumah Sakit, Ibu dimana??" Tanya Windi menyambung ucapan Rey.
"Aduuh Nak, kita mau bawa Ibu kamu biayanya darimana Nak, Febri adik kamu juga bentar lagi kan ulangan, Uang semesternya pun belum dibayar" Jelas Ayah Windi.
"So'al biaya Ayah gak perlu khawatirin, sekarang yang penting kita bawa Ibu ke Rumah Sakit" Ucap Windi.
Rey yang ikut mendengerkan obrolan mereka merasa prihatin melihat ekonomi keluarga Windi.
"Windi mau liat Ibu bentar Pak, Kak Rey tunggu ya" Ucap Windi sambil menuju tempat Ibunya.
Terlihat Ibu Windi sangat lemas dan hanya berbaring di tempat tidur.
"Bu, Windi pulang Bu, keadaan Ibu gimana, besok kita pergi ke rumah sakit ya" Ucap Windi.
Ibu Windi hanya menoleh ke arah Windi dan tak menjawabnya.
Sementara itu Rey di ruang tamu...
"Ibu nya Windi gak mau di bawa ke rumah sakit Nak Rey" Ucap Bapak Windi.
"Emangnya kenapa Pak?" Tanya Rey.
__ADS_1
"Katanya, dia pengen meninggal di rumah aja, Bapak jadi gak kuat dengernya" Jelas Bapak Windi.
"Bagaimana pun Pak kita harus tetap bawa ke Rumah Sakit, kalau perkataan Ibu di turuti seperti itu Pak, gak akan merubah apapun, yang ada terjadi hal hal yang gak di inginkan" Ucap Rey.
"Yaudah Nak, Feb kamu panggil Kakak kamu bentar" Ucap Bapak Windi.
Febri pun memanggil Windi, dan beberapa saat kemudian Windi keluar dari kamar Ibu nya dan menemui Bapaknya.
"Ada apa Pak?" Tanya Windi.
"Kamu bener punya biaya buat bawa Ibu kamu?" Tanya Bapaknya meyakinkan.
"Iya Pak, besok pagi kita bawa dulu ke puskesmas kecamatan, kita ambil rujukan juga disana kan ada Ambulance dan bisa di bawa langsung ke kota" Jelas Windi.
"Iya Nak, Bapak ngikut kata kamu aja" Ucap Bapak Windi.
"Kak Rey maaf ya kita gak punya kamar tidur buat tamu" Ucap Windi.
"Aku tidur di sini aja Win" Jawab Rey.
"Iya Kak, nanti Windi keluarin kasur sama bantal nya buat Kak Rey" Ucap Windi.
"Feb, nanti kamu temenin Kak Rey tidur di sini ya" Ucap Windi ke Adiknya.
"Iya Kak" Jawab Febri.
"Win aku mau duduk di luar bentar, mau ngerasain suasana segar kayak gini, sekalian mau ngerokok" Ucap Rey.
"Iya Kak, di depan ada kursi juga kok" Jawab Windi.
"Pak, Rey duduk di luar bentar" Ucap Rey.
"Iya nak" Jawab Ayah Windi.
Rey pun keluar ke depan rumah Windi dan menyaksikan keadaan yang tenang dan udara yang sejuk sambil menyulut rokoknya.
"Tenang banget ya disini, udara nya juga seger" Gumam Rey.
"Hei Kak Rey" Ucap Febri.
"Iya Feb kenapa" Jawab Rey.
"Kak Rey pacarnya Kak Windi ya??" Tanya Febri.
"Nggak kok, kita cuma temanan aja" Jawab Rey mengelak.
"Tapi Kak Windi sebelumnya gak pernah bawa cowok ke rumah Kak" Ucap Febri.
"Masa sih Feb" Ucap Rey.
"Iyaa kak, jadi aku yakin Kak Rey pasti pacarnya Kak Windi" Kata Febri.
Rey hanya tersenyum ke arah Febri dan tidak menjawab perkataan Febri tersebut.
"Tapii Kakak kamu hebat ya" Ucap Rey tiba tiba.
"Hebat kenapa Kak??" Tanya Febri.
"Pokoknya dia hebat" Jelas Rey.
"Kak Rey gak jelas, tapi Kak aku boleh minta rokoknya 1 gak??" Ucap Febri.
"Kamu ngerokok??" Tanya Rey.
"Dikit doang Kak" Jawab Febri.
"Kamu kan masih sekolah" Ucap Rey.
"Kakak palingan waktu sekolah ngerokok juga" Ucap Rey.
"Yaudah nih ambil, tapi aku gak tanggung jawab ya kamu di marahin" Ucap Rey.
"Iyaaa Kak" Jawab Febri sambil menyulut batang rokoknya.
__ADS_1
Saat sedang asyik bercanda dengan Febri tanpa di sadari Windi keluar dan memergoki Febri yang sedang merokok.
"Febriii, kamu ngerokok yaa!!" Ucap Windi.
Febri dengan refleka membuang rokoknya, dan berusaha mengelak.
"Gak Kak, nggak, itu rokoknya Kak Rey, cuma bantuin megang" Elak Febri.
"Gak mungkin Rokok Kak Rey, tuh liat Kak Rey juga lagi ngerokok, kamu alesan ya, aku kasih tau bapak nih" Ancam Windi.
"Jangan lah Kak, iya itu rokok Febri, tapi jangan kasih tau bapak ya" Febri memelas.
"Udahlah Win, namanya juga anak muda" Ucap Rey.
"Kak Rey juga, pasti Kak Rey yang ngasih rokok ke Febri" Ucap Windi.
"Waduh kita berdua dimarahin nih Feb" Ucap Rey.
"Kak Windi memang ganas Kak" Ucap Febri.
"Udah Win, duduk sini lah sama kita, lagi asik asik nya ngobrol loh" Ucap Rey.
Windi yang kemudian menyadari kalau Rey telah akrab dengan Febri perlahan mereda, dan ikut bergabung menikmati suasana kampungnya.
"Nah gini kan asik Win" Ucap Rey.
"Iya Kak, tapi kamu Feb, awas aja, jangan kamu ngerokok lagi" Ucap Windi.
"Itu Kak Rey juga ngerokok" Ucap Febri.
"Kak Rey itu udah cukup umur, udah bisa nyari sendiri, jadi bebas dong, nah kamu ini masih sekolah juga" Jelas Windi.
"Yeee sekarang malam, mana ada yang sekolah" Jawab Febri sambil bercanda.
"Kamu ya Feb, beneran nih kakak kasih tau Bapak" Ucap Windi.
"Uuuuu kakak Cepu" Ucap Febri.
"Udah Win" Ucap Rey meredakan.
"Ngomong ngomong Puskesmasnya disini jauh ya??" Tanya Rey.
"Gak Kak, itu dekat SMA yang kita lewati tadi" Jawab Windi.
"Yang di kampung sebelah ya??" Tanya Rey.
"Iya Kak, kalau di kampung cuma ada Pustu, Puskesmasnya khusus kecamatan" Terang Windi.
"Besok kita bawa ibu kamu ke puskesmas ya" Ucap Rey.
"Iya Kak" Balas Windi.
"Feb kamu kan besok sekolah, gak tidur??" Ucap Windi.
"Masih belum ngantuk Kak" Jawab Febri.
"Yaudah kamu temenin Kak Rey ya, Kakak mau tidur sama Ibu, kakak juga udah ngantuk, kakak sekalian mau siapin tempat tidur buat Kak Rey" Ucap Windi.
"Iya Kak, kakak masuk aja" Ucap Febri.
"Iya Win kamu istirahat aja" Tambah Rey.
Windi pun masuk dan meninggalkan Rey dan Febri di teras rumah.
"Kamu mau lanjut ngerokok gak??" Tanya Rey.
"Boleh Kak, asal jangan di aduin ya" Ucap Febri.
"Siiiap rahasia laki laki akan selalu aman" Jelas Rey.
"Cocok nih jadi Kakak Ipar" Rayu Febri.
Mereka berdua menikmati malam yang tenang di temani rokok dan teh, tak berselang lama Rey pun merasa lelah karena perjalanan ke kampung Windi pun mengantuk dan mengajak Febri untuk masuk tidur. Keduanya pun masuk, dan terlihat sudah tersedia kasur, bantal dan selimut untuk Rey. Rey pun memutuskan untuk tidur dan menghadapi hari esok.
__ADS_1