Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Dua Dekade Kemudian


__ADS_3

Kehidupan manusia itu terus berjalan, layaknya jarum jam yang berputar, berganti setiap detik, menit, hingga jam. Menunjukkan perbedaan siang dan malam. Tendean, sang duda yang ketika berusia 25 tahun, dan kini sudah berusia 50 tahun. Itu artinya sudah seperempat abad lamanya. Secara usia, Tendean sudah berusia seperempat abad lamanya.


Di dalam hidupnya, suka dan duka pun silih berganti. Beberapa kehilangan pun sudah Tendean dalam hidupnya, mulai dari berpulangnya kedua orang tuanya ketika Anaya berusia 15 tahun, hingga juga kehilangan cucu pertamanya yang tak lain adalah bayi kecil Anaya, yang lahir karena kekurangan berat badan.


Lebih dari itu, pria yang sekarang akrab dipanggil Opa Tendean itu memang sudah memiliki cucu, itu juga karena putrinya, Anaya sudah menikah, dan mendapatkan suami yang semula juga adalah seorang duda. Seorang pria yang di mata Anaya memiliki kepribadian bahkan kisah menyerupai Ayahnya. Hanya saja perbedaannya, Ayahnya masih betah menduda.


"Ayah, sekarang Aya sudah berkeluarga. Aya juga sudah memiliki suami yang sangat baik. Apakah Ayah tidak ingin memberikan kesempatan kepada diri Ayah sendiri untuk bahagia? Kembali membina rumah tangga?"


Ya, Anaya pun untuk pertama kalinya setelah waktu 25 tahun berlalu, akhirnya bertanya kepada Ayahnya apakah Ayahnya itu tidak ingin kembali membina rumah tangga. Lagipula, tidak ada salahnya, jika sang Ayah memilih untuk berumahtangga.


Ayah Tendean tampak menghela nafas panjang. Sejujurnya, sebagai seorang Ayah dia juga merasa bingung karena sebelumnya tidak pernah menanyakan perihal menikah lagi. Dalam waktu 25 tahun, baru kali ini putrinya menikah hal ini.


"Kenapa, Aya? Tumben kamu menanyai Ayah. Biasanya kan tidak pernah menanyakan tentang pernikahan kepada Ayah," balas Ayah Tendean.


"Bukan begitu, Ayah ... hanya saja, sekarang Aya sudah besar, sudah dewasa, bahkan Aya sudah berkeluarga. Jika, Ayah ingin bahagia tidak ada salahnya."


"Ayah sudah tua, Ay ... sudah 50 tahun usianya, Ayah. Itu artinya sudah seperempat abad lamanya, Ayah menduda. Jadi, Ayah merasa semakin skeptis untuk memulai kehidupan berumahtangga lagi. Seperempat abad berlalu begitu saja, dan juga sudah seperempat lamanya Ayah Tendean menjadi duda."

__ADS_1


Rasanya sangat tidak mudah untuk memulai kehidupan yang baru. Rasanya jatuh cinta lagi, nyaris tidak dirasakan Tendean lagi. Dia mencurahkan hidunya hanya untuk bekerja, membesarkan Anaya, dan juga melayani masyarakat melalui profesinya sebagai seorang Dokter.


"Ayah, usia itu hanya angka. Faktanya Ayah masih muda, rambut pun masih hitam legam dan belum beruban. Ayah masih kelihatan muda. Tidak ada salahnya, Ayah. Yang penting jangan mendapatkan istri seusia Anaya saja. Masak iya, Ayah mendapatkan sugar baby," balas Anaya.


Di sana Tendean hanya tersenyum. Memang begitulah putrinya, ketika menyatakan keinginannya, maka akan disertai dengan opsi yang sebaiknya ditepati oleh Ayahnya. Sama seperti sekarang, Ayahnya boleh menikah lagi, tapi tidak boleh mendapatkan wanita seusia dirinya.


"Sejak memiliki kamu dalam hidup Ayah, Ayah tidak menginginkan punya istri, Ay ... apalagi Ayah sudah bahagia di akhir pekan bisa menghabiskan waktu dengan ketiga cucu Ayah. Citra, Charel, dan Charla. Bukankah hidup Ayah sudah berwarna," balasnya.


Ya, Anaya memang sudah menikah dengan seorang duda yang bernama Tama. Dengan Tama, Anaya memiliki anak sambung yang bernama Citra. Sementara, anak kandungnya sendiri adalah kembar fraternal yaitu Anaya memiliki anak laki-laki dan perempuan sekaligus yang diberinya nama Charel dan Charla.


"Aya serius Ayah ... yang penting begitu sudah menemukan orang yang tepat, kenalkan pada Aya dulu ya, Yah," balasnya.


Tendean pun geleng-geleng kepalanya. Selama ini memang ada beberapa tawaran untuk menikah lagi. Termasuk dari mendiang Ibunya yang semasa hidupnya beberapa kali mengenalkan Tendean dengan beberapa kenalannya, ada dari kalangan gadis biasa, perawat, hingga bidan. Akan tetapi, Tendean selalu berkata bahwa dia tidak siap untuk menikah. Menurut Tendean, dia hanya ingin membesarkan Anaya. Walau sendirian, Tendean akan membuktikan bahwa Anaya akan mendapatkan kasih sayang yang besar dari dirinya.


"Dulu saja Oma dan Opa kamu menyuruh Ayah untuk menikah lagi saja, Ayah tidak mau loh, Ay ... sekarang ketika Ayah sudah tua, sudah lima puluh tahun, justru kamu menyuruh Ayah untuk menikah lagi," balasnya.


Obrolan seru Ayah Tendean dan Anaya, akhirnya terdengar juga oleh Tama, menantunya yang baru saja turun dari kamarnya karena dia usai menidurkan Citra.

__ADS_1


"Seru banget, Sayang," ucap Tama dengan mengambil tempat duduk di samping Anaya.


"Iya Mas ... ini loh, aku menyuruh Ayah untuk menikah lagi," jawab Anaya.


Ayah Tendean menganggukkan kepalanya. "Lihat sendiri, Tam ... Ayah sudah setua ini dan tiba-tiba putri Ayah meminta Ayah untuk menikah. Padahal Ayah sudah berusia setengah abad, Ayah menduda sudah seperempat abad. Apakah pantas, Opa-opa dengan tiga cucu seperti Ayah menikah lagi?"


Tama mencoba mendengarkan cerita dari kedua belah pihak kemudian barulah Tama memberikan tanggapannya. "Tidak apa-apa, Yah ... dulu, Tama sendiri juga seorang duda. Namun, Tama memilih memulai membina rumah tangga lagi. Awalnya, Tama juga takut Ayah. Ayah juga melihat sendiri bagaimana takutnya Tama ketika Anaya bersalin. Pikiran buruk tiba-tiba menghantui. Namun, semua bukankah tergantung dari takdir Tuhan. Kami bisa melihat trauma di masa lalu dan rasa sakit yang tertinggal," balas Tama.


Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya. "Walau sebenarnya Ayah sudah skeptis. Karir Ayah sebagai Dokter juga tinggal beberapa tahun lagi. Usai itu, Ayah ingin mengasuh cucu saja di rumah," balasnya.


"Kalau Ayah menikah lagi kan ada yang membangunkan Ayah di pagi hari. Ada yang berbaring di sisi Ayah. Menikmati hari tua bersama juga terasa menyenangkan, Yah."


Anaya masih terus berbicara dan meyakinkan Ayahnya yang terlihat enggan menikah lagi itu. Sampai akhirnya Ayah Tendean pun menganggukkan kepalanya.


"Baiklah ... baiklah. Jika nanti Tuhan mempertemukan Ayah dengan jodoh yang tepat. Pasti nanti Ayah akan mengenalkannya kepadamu. Namun, jika tidak ... ya, Ayah akan menduda selamanya."


Tidak ingin berdebat dan juga tidak ingin Anaya terus mendesaknya. Tendean lebih memilih untuk mempercayakan semua kepada yang Yang Kuasa. Toh, Tendean berpikir bahwa usianya sudah tua. 50 tahun, waktunya menduda pun begitu lama 25 tahun, seperempat abad. Sehingga bagaimana membina rumah tangga, memahami perempuan, Tendean juga tidak punya banyak pengalaman. Jika membesarkan Anaya, dia bisa. Namun, memahami seorang istri lebih kompleks dari hanya sekadar membesarkan buah hati.

__ADS_1


__ADS_2