
Setelah beberapa kali bertemu dengan Dianti, agaknya Tendean mulai yakin dengan dirinya. Dia teringat dengan apa yang dulunya sempat diucapkan oleh Tama bahwa sekarang ada hasrat untuk dirinya ingin berumah tangga. Sangat aneh, hasrat untuk berumah tangga itu justru muncul ketika dia sudah memasuki kepala lima. Untuk itu, Tendean mengatakan kepada Anaya dan menyampaikan niatnya. Bagaimana pun yang dia miliki hanya Anaya, sehingga memang untuk berdiskusi, dia harus berdiskusi dengan Anaya dan Tama.
"Anaya, boleh Ayah berbicara kepadamu?" tanya sang Ayah.
"Boleh, Yah," balas Anaya.
"Begini Anaya ... kamu tahu kan, kalau di dunia ini yang Ayah miliki hanya kamu. Jadi, Ayah ingin berdiskusi denganmu. Semisal, Ayah ingin menikah lagi, apakah boleh?" tanya Ayah Tendean sekarang.
Anaya pun menganggukkan kepalanya. Dia justru sangat senang, ketika Ayahnya mengajaknya berdiskusi terlebih dahulu. Sebab, yang Anaya miliki dalam hidupnya juga adalah Ayahnya.
"Tentu saja boleh, Ayah ... kalau Ayah ingin menikah lagi, tidak apa-apa," balas Anaya.
Tidak mengira bahwa Anaya akan semudah itu memberikannya izin untuk menikah. Jika masih muda, orang yang akan dimintai izin untuk menikah tentu adalah orang tuanya. Akan tetapi, ketika Tendean sudah tidak lagi muda dan sudah bertahun-tahun menduda, sehingga yang dia mintai izin adalah putri tunggalnya.
"Dengan Bunda Dianti, Yah?" tanya Anaya kemudian.
__ADS_1
"Iya, sebenarnya ... Ayah sudah lama mengenal Dianti, Aya. Lebih tepatnya, dulu kami sama-sama kuliah di Bandung," balasnya.
Akhirnya, baru kali ini Tendean mengatakan dengan jujur bahwa dirinya sudah lama mengenal Dianti. Sehingga, memang dia merasa yakin dengan perasaannya. Bahkan, hasrat untuk berumah tangga itu juga muncul dengan sendirinya. Usia yang tidak lagi muda, tapi justru sekarang Tendean ingin kembali berumah tangga.
"Dampingilah Ayah ketika Ayah menikah nanti yah?"
"Tentu, Ayah ... jika bukan Aya, siapa lagi yang akan mendampingi Ayah? Sebagai satu-satunya keluarga Ayah, pasti Aya akan mendampingi Ayah," balasnya.
Sungguh, begitu leganya Tendean karena memang lampu hijau dari Anaya sudah dia dapatkan. Sekarang, Tendean agaknya harus bergerak cepat untuk bisa segera menikahi Dianti. Selain dikejar usia, dia juga harus mempertimbangkan hal yang lainnya. Manusia tidak pernah tahu kapan Allah akan memanggilnya, sehingga di usianya yang sudah menjelang senja, dia harus bergerak cepat.
"Di rumah saja, Aya ... Ayah sudah tua. Menikah di gedung atau hotel mewah sudah tidak lagi menjadi masanya Ayah. Masa itu sudah berlalu," balas Tendean.
Anaya tersenyum. "Tidak ada yang salah, Ayah ... itu kan cara untuk merayakan momen. Cara kita untuk merayakan kebahagiaan ketika bisa bersatu dengan orang yang kita cintai," balas Anaya.
Ayah Tendean tersenyum. Putrinya yang dulu dibesarkannya seorang diri, sekarang sudah bisa menjadi tempatnya mengobrol dan berdiskusi bersama. Untuk itu semua, dia lebih baik untuk bisa bergerak cepat.
__ADS_1
"Jadi, nanti temani dan dampingi Ayah ya, Aya," ucap Ayah Tendean.
"Tentu Ayah," balas Anaya.
Dia sangat senang akhirnya Ayahnya yang sudah menduda seperempat abad, kini akan memulai lembaran baru. Semoga saja, Bunda Dianti nantinya bisa menjadi jodoh terakhir, dan menemani Ayahnya hingga akhir hayatnya.
***
Dear All,
Mungkin ada bertanya, kenapa ada beberapa part yang idenya sama? Karena tidak semua pembaca adalah pembaca Novel sebelumnya Mas Duda Mencari Ibu Susu. Namun, aku akan cepatkan alurnya saja yah. Yang ingin melihat dan membaca proses detailnya silakan mampir di Mas Duda Mencari Ibu Susu.
Terima kasih,
Kirana^^
__ADS_1