
Pulang dari Rumah Sakit, Ayah Tendean merasa sangat lega mendapati kondisi istrinya dan janinnya dalam keadaan sehat. Sebelumnya, Ayah Tendean sempat cemas dan khawatir. Namun, setelah semuanya dalam kondisi baik, rasanya tidak ada yang Ayah Tendean takutkan. Yang penting dia akan selalu memperhatikan istrinya dan melakukan yang terbaik.
"Lega, Bunda ... kamu dan baby kita sehat," ucap Ayah Tendean.
"Iya, Mas. Semua ini juga karena kamu yang super baik dan super perhatian," balas Bunda Dianti.
Ayah Tendean pun tersenyum tipis. Sekarang di ranjang mereka, tangan Ayah Tendean mengusapi perlahan perut istrinya itu. "Yang penting tetap jaga kebugaran. Susunya diminum. Olahraga, dan juga jangan banyak pikiran yang aneh-aneh. Rasanya, kalau semua itu sudah kamu lakukan, sembilan bulan kehamilan pasti bisa terlewati dengan baik. Tinggal nanti persiapan untuk persalinannya saja," ucap Ayah Tendean.
Sebagai seorang istri tentu Bunda Dianti sangat senang diperhatikan oleh suaminya sendiri. Namun, juga selama ini suaminya itu memang sosok yang baik dan perhatian. Terlebih ketika dirinya hamil, Ayah Tendean rasanya semakin semakin perhatian dengannya.
"Kalau kepikiran yang berat ya enggak, Mas. Dilimpahi suami yang baik, anak yang baik seperti Anaya, menantu juga baik seperti Tama. Terus memiliki tiga cucu yang lucu-lucu. Apa lagi yang aku pikirkan? Tidak ada. Hidupku menuju usia senja justru dilimpahi Allah dengan kebaikan," balas Bunda Dianti.
Menurut Bunda Dianti, sekarang Allah melimpahinya dengan kebaikan. Ketika usianya menuju senja, justru dia memiliki lagi apa itu keluarga. Ketika usianya menuju kepala lima, barulah dia merasakan apa itu memiliki suami. Pikiran dan hatinya juga tenang.
"Allah maha adil, Bunda. Dulu terbiasa hidup sendiri, dan sekarang dilimpahi Allah dengan kebaikan. Siapa yang mengira juga, kita yang senja ini, Allah percayai dengan keturunan lagi. Alhamdulillah bukan?" balas Ayah Tendean.
__ADS_1
"Iya, benar-benar bersyukur, Mas. Di saat kita pasrah, justru Allah ridhoi. Mungkin Allah juga tahu kali yah, aku sudah menua, menuju kepala lima. Sehingga, sebulan usai menikah, langsung hamil. Siapa tahu nanti Allah percayai aku untuk merawat dan membesarkan anak kita ya, Mas. Kita berdua diberkahi Allah dengan umur panjang," balas Bunda Dianti.
"Amin ... semoga Allah memberkahi kita dengan umur yang panjang. Sehingga bisa mengasuh dan membesarkan anak kita nanti yah. Walau usia itu sepenuhnya rahasia Illahi. Namun, kita bisa meminta," balas Ayah Tendean.
Sekarang Bunda Dianti menganggukkan kepalanya. Setuju dengan apa yang baru saja diucapkan suaminya. Usia adalah rahasia Illahi. Namun, manusia bisa berdoa dan memohon kiranya diberkahi dengan panjang umur.
"Mas, pekan depan ke Panti Asuhan mau? Sudah beberapa pekan kan aku tidak bertemu anak-anak," ajak Bunda Dianti kepada suaminya.
"Boleh, penting jangan capek-capek dan jangan gendong-gendong dulu yah. Dijaga kehamilannya," ucap Ayah Tendean.
Sebatas mengingatkan bahwa ketika di Panti Asuhan nanti jangan kecapekan dan tidak usah menggendong anak-anaka dulu. Perut tidak boleh tertekan. Oleh karena itu, Ayah Tendean memperingatkan terlebih dahulu.
"Boleh, aku juga kepikiran untuk mengajak Citra. Rupanya kamu terlebih dahulu yang berbicara," balas Ayah Tendean.
"Aku hanya ingin mengenalkan Citra pada anak-anak yang tidak beruntung. Sementara Citra itu beruntung. Dia memiliki Mama dan Papa yang hebat. Semoga Citra suatu saat nanti juga memiliki hati yang mau berbagi seperti Mama dan Papanya. Kepekaan itu bisa dilatih dari kecil," ucap Bunda Dianti.
__ADS_1
Ya, dalam ilmu psikologi dikatakan bahwa kepekaan itu bisa dilatih dan dibiasakan. Dengan begitu hati bisa tergerak dengan sendirinya. Jika, sudah dilatih dan dibiasakan, tanpa diminta seseorang bisa bereaksi dengan sendirinya.
"Benar, Bunda. Duh, jadi inget dulu sewaktu Anaya seusia Citra itu, dia sering menangis setiap pulang sekolah. Merasa tidak punya Ibu. Sebagai Ayahnya yang berstatus duda, ya aku merasa bersalah. Namun, aku melatih Anaya bahwa tidak memiliki Ibu bukan kesalahan. Dia memiliki Ayah yang memiliki kasih sayang yang sama besarnya seperti seorang Ibu. Sejak saat itu, Anaya tidak menangis. Dia merasa Ayahnya yang terhebat. Sedihnya kalau teringat waktu Anaya kecil," cerita Ayah Tendean kemudian.
Bunda Dianti tersenyum, dia menggenggam tangan suaminya. Memberikan usapan di punggung tangan suaminya itu. "Semoga sampai kita tua dan sampai memutih rambut kita, Allah berikan banyak hadiah kebahagiaan ya, Mas," ucap Bunda Dianti.
"Amin ... itu juga yang aku harapkan," balas Ayah Tendean.
Ayah Tendean menatap wajah istrinya sesaat. Dia mendekat dan melabuhkan sebuah kecupan di kening istrinya. "Sehat-sehat sampai persalinan nanti ya, Bunda. Aku akan selalu menemani kamu. Semoga tidak ada kesialan nanti. Kita bisa menua bersama, sampai rambut kita benar-benar memutih," ucapnya.
Tentu ucapan Ayah Tendean dilatar belakangi dengan pernah kehilangan sewaktu dulu istri pertamanya tak terselamatkan usai melahirkan Anaya. Sekarang, Ayah Tendean memperbanyak doa, semoga tidak ada hari buruk dalam hidupnya. Keinginannya untuk menua bersama dengan Bunda Dianti akan dijawab oleh Allah.
"Amin, Mas. Semoga Allah mendengar permintaan hati kita yah," balasnya.
"Sudah 12 minggu, Bunda. Tidak lama lagi akan bertambah minggu dan bulan. Tak sabar melihat kamu dengan perut yang menyembul. Baby bump. Aku sudah membayangkan bahwa kamu akan semakin cantik," ucap Ayah Tendean.
__ADS_1
"Kamu bisa saja, Mas. Masih lama."
Pasangan yang sudah tak lagi muda itu pun tertawa. Saling membayangkan. Kendati demikian, di balik tawa itu terselip doa dan keinginan untuk bisa merangkai hari tua bersama. Terselip harapan, bahwa kali ini tidak ada yang terpisah dan dipisahkan. Kiranya Allah mendengarkan suara hati keduanya.