
Siang ini ....
Anaya bersama tiga anaknya, bermain ke rumah Ayahnya. Itu juga karena jarak rumah Anaya dengan Ayahnya tidak terlalu jauh. Hanya berjalan kaki saja, sudah sampai di rumah Ayah dan Bundanya sekarang.
"Assalamualaikum, Bunda," sapa Anaya dengan mengetuk pintu rumahnya.
Mendatangi rumah yang biasanya sepi. Ingin masuk tinggal masuk karena Anaya juga memiliki kunci rumah Ayahnya. Sekarang, ketika hendak masuk, harus mengetuk pintu dan mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Waalaikumsalam," balas Bunda Dianti sembari membukakan pintu untuk Anaya dan juga ketiga cucunya.
"Oma," sapa Citra dengan suaranya yang begitu riang.
"Iya, Citra ... wah, dua adiknya ikut ke sini yah."
Anaya kemudian masuk dengan mendorong stroller yang khusus untuk dua bayi sekaligus.
"Panas yah? Kalian jalan kaki?" tanya Bunda Dianti lagi.
"Tidak terlalu panas, Bunda ... Citra ngajakin ke sini. Mau pinjem bukunya Oma," balas Anaya.
__ADS_1
Oma Dianti kemudian mengajak Citra dan menunjukkan buku-buku yang pernah dia tulis. Melihat buku dongeng anak-anak membuat Citra bak menemukan surga. Dia sekarang fokus untuk membaca buku.
"Charel dan Charla kok malahan bobok?" tanya Bunda Dianti.
"Iya nih, Bunda ... didorong naik stroller justru bobok. Baru ngapain Bunda?" tanya Anaya kemudian.
Bunda Dianti tersenyum, "Ya, mau apa lagi, Anaya ... bekerja sebentar, beberes rumah sebentar, sambil menunggu Ayah kamu pulang," balasnya.
Sebenarnya keseharian istri atau ibu rumah tangga memang seperti itu. Jika memang bekerja dari rumah ya waktu akan dimanfaatkan untuk bekerja, beberes, dan menunggu suami pulang. Namun, bagaimana pun jika disyukuri dan dinikmati masa menunggu suami pun menjadi begitu menyenangkan juga.
"Ayah sebentar lagi pulang kok Bunda ... biasanya Ayah pulang jam dua siang," balas Anaya.
Hingga akhirnya Anaya dan Bunda Dianti terlibat pembicaraan yang lebih serius. "Bagaimana Bunda, menikah dengan Ayah?"
Mendengar pertanyaan dari Anaya, Bunda Dianti tersenyum. "Ya, bagaimana ya Anaya ... baru sebulan. Masih dini untuk bisa merasakan gimana-gimana. Namun, sejauh ini Ayah kamu sih baik. Momong juga," balas Bunda Dianti.
Ya, rupanya Ayah Tendean memiliki sifat yang lebih ngemong. Mungkin itu juga karena usia yang lebih matang. Sehingga lebih bisa ngemong pasangannya.
"Syukurlah ... Anaya ikut senang mendengarkannya. Maaf, Bunda ... Anaya mau tanya, Bunda masih haid atau sudah menopause?" tanya Anaya kemudian.
__ADS_1
Pertanyaan ini terbersit, ketika Tama, suaminya bercanda bahwa jika memang memungkinkan, bisa saja Anaya memiliki adik yang seusia dengan anak-anaknya. Memang terasa lucu, tetapi Anaya mengatakan siap saja jika memiliki adik nanti.
"Bunda sih masih haid, Anaya ..., tapi mungkin saja sudah menjelang menopause dini yah? Sudah 47 tahun," balasnya.
"Kalau masih haid, ada kemungkinan masih berpeluang untuk hamil, Bunda. Misal, nanti Allah titipkan keturunan, apakah Bunda siap?" tanya Anaya.
Mendengar penjelasan dari Anaya, Bunda Dianti terkekeh perlahan. Tidak bisa membayangkan jika wanita seusianya, yang sudah berusia 47 tahun akan hamil nanti.
"Apa mungkin, Ay?" tanya Bunda Dianti.
"Hehehe ... mungkin saja loh, Bunda," balasnya.
Bunda Dianti kemudian menatap Anaya. "Bukankah usia Bunda ini sudah rentan, Ay? Sudah tidak muda lagi," balasnya.
"Sebenarnya masih bisa, Bunda ... hanya saja memang melahirkannya nanti lebih baik dengan metode Caesar."
Bunda Dianti merespons dengan menganggukkan kepalanya. Setidaknya Anaya sudah berpengalaman dengan melahirkan. Sehingga memang tidak ada salahnya bertanya kepada anak sendiri.
"Sedikasihnya saja ya Anaya ... Bunda juga tidak tahu nanti ke depannya gimana. Sekadar menjalani saja," balas Bunda Dianti.
__ADS_1
Walau terasa menggelikan ketika seusia dirinya nanti hamil, tapi Bunda Dianti lebih menjalani saja. Pasrah. Toh, bagaimana nanti akan dihadapi bersama suaminya, Tendean.