Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Satu atau Dua Garis?


__ADS_3

Jika Anaya merasa mungkin saja Bunda Dianti sedang hamil, tapi Bunda Dianti sendiri merasa belum yakin. Kendati demikian, baik Bunda Dianti dan Ayah Tendean pasrah saja dengan pemberian dari Allah nanti. Jika memang dipercaya, ya keduanya tidak akan menolak.


"Badan kamu beneran meriang?" tanya Ayah Tendean kepada Bunda Dianti.


"Ya, lumayan, Mas. Sama kedinginan itu, Mas. Anaya bilang ada benda asing yang sedang tumbuh di dalam tubuhku. Jika benar, mukjizat sekali ya Mas ... mana usiaku sudah hampir 50 tahun," jawab Bunda Dianti sekarang.


"Kalau memang benar, ya sudah. Berarti Allah mempercayakan keturunan untuk kita berdua, Bunda. Dapat cinderamata dari Tuhan untuk pernikahan pasangan yang sudah tidak lagi muda seperti kita," balas Ayah Tendean.


Perlahan, Bunda Dianti pun menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya bahwa anak adalah anugerah dari Tuhan. Walau tidak lagi muda, jika Allah berkehendak memberikan keturunan, maka itulah yang terjadi.


"Mas, bisa belikan aku testpack enggak? Aku kepikiran dengan ucapan Anaya tadi. Esok pagi, lebih baik aku cek dulu," ucap Bunda Dianti lagi.


Merasa istrinya membutuhkan sesuatu yang tidak ada di rumah, Ayah Tendean pun berpamitan untuk ke apotek yang berada di dekat rumah. Hendaklah membeli testpack dan gelas tampung urine. Setidaknya memang lebih baik melakukan cek kehamilan terlebih dahulu. Jika sudah pasti, bisa mulai merencanakan untuk memeriksakan ke Dokter.


"Baiklah, aku di apotek dulu ya Bunda. Tunggu aku," balas Ayah Tendean.


Akhirnya Ayah Tendean menuju ke apotek. Namun, lantaran sudah tua dan membeli testpack, pandangan pegawai apotek pun terlihat aneh kepadanya. Akan tetapi, Ayah Tendean tak ingin ambil pusing. Yang pasti dia membeli dan tentunya akan membayarnya. Setelah dari Apotek, Ayah Tendean pun bergegas untuk pulang ke rumah.


"Bunda, sudah aku belikan. Tahu kan caranya? urinenya ditampung di gelas ini, terus nanti baru dilakukan test dengan testpack. Aku belikan dua, sapa tahu hasilnya berbeda," ucap Ayah Tendean.


"Satu aja juga udah cukup, Mas Dean. Hasilnya kan juga pasti sama," jawab Bunda Dianti.

__ADS_1


"Ya untuk perbandingan saja. Mana yang lebih akurat," balas Ayah Tendean.


Menganggukkan kepalanya, Bunda Dianti menyimpan itu di laci di dalam nakas yang ada di sisi tempat tidurnya. Esok pagi, sudah dia akan melakukan uji coba kimiawi dan berharap hasilnya pun pastilah yang terbaik untuk mereka berdua.


***


Keesokan Harinya ....


Pagi hari pun tiba, Bunda Dianti begitu bangun langsung memutuskan untuk menuju ke kamar mandi. Teringat dengan testpack dan gelas takar yang kemarin sudah dibelikan oleh suaminya. Maka, pagi hari ini ketika surya belum sepenuhnya menyapa, Bunda Dianti bergegas menuju ke kamar mandi.


Akan tetapi, baru saja Bunda Dianti beranjak dari tempat tidur, Ayah Tendean juga ikut terbangun. Dia pun menatap Bunda Dianti dengan mengulas senyuman di wajahnya.


"Iya, Mas. Mumpung masih pagi dan baru saja bangun," balasnya.


Rupanya Ayah Tendean ikut menyingkap selimut dan mengantar Bunda Dianti menuju ke kamar mandi. "Mau ditemenin di dalam?" tanya Ayah Tendean.


"Sendirian aja, Mas. Malu dong," jawab Bunda Dianti.


Akhirnya Ayah Tendean menunggu di depan pintu kamar mandi. Namun, dia begitu risau dengan hasil yang akan didapatkan istrinya nanti. Memang bukan yang pertama. Namun, setelah 25 tahun berlalu, momen ini seolah penuh makna untuk Ayah Tendean.


"Bunda, kalau sudah buka saja. Aku juga mau lihat," ucap Ayah Tendean sembari mengetuk pintu.

__ADS_1


Merasa suaminya sudah tidak sabar, Bunda Dianti pun membukakan pintu kamar mandi untuk suaminya. Selebihnya, Bunda Dianti duduk di kloset yang tertutup itu sembari memegang testpack di tangannya. Sementara, Ayah Tendean berjongkok di depan istrinya. Ikut risau juga dengan hasilnya. Walau, hanya menunggu sekian detik, tapi rasanya momen itu sangat mendebarkan.


"Aku takut," ucap Bunda Dianti dengan menatap testpack di tangannya. Saking takutnya, tangannya seolah tremor dan juga gemetaran.


"Tidak usah takut, kan ada aku, Bunda," balas Ayah Tendean.


Tiiittt!


Terdengar bunyi dari testpack digital itu. Bunyi yang mengalihkan perhatian Ayah Tendean dan Bunda Dianti. Tremor di tangan Bunda Dianti kian menjadi-jadi rasanya. Hingga akhirnya, keduanya sama-sama menunduk dan melihat hasil yang sudah bisa terbaca di testpack itu.


"Dua garis," ucap Ayah Tendean dengan lirih.


Seketika air mata membanjiri wajah Bunda Dianti. Dia sungguh tidak menyangka bahwa di usianya 47 tahun, untuk kali pertama ada kehidupan baru yang tumbuh di dalam rahimnya. Sementara Ayah Tendean segera memeluk istrinya itu.


"Alhamdulillah," ucap Ayah Tendean dengan masih memeluk istrinya dan mendaratkan kecupan di kening istrinya.


"Serasa seperti mimpi," ucap Bunda Dianti dengan masih terisak.


"Mimpi yang menjadi kenyataan, Bunda ... Aku cinta kamu!"


Tak bisa dipungkiri bahwa Ayah Tendean sangat bahagia. Rasanya seolah anak ini akan menjadi cinderamata yang indah dari Tuhan untuk dia dan Dianti. Walau sudah 53 tahun, ternyata Ayah Tendean masih begitu produktif terlihat dari benih yang sudah bersemi di rahim Bunda Dianti.

__ADS_1


__ADS_2