
Tidak terasa waktu berjalan sudah hampir sebulan. Rumah tangga Bunda Dianti dan Ayah Tendean juga berjalan dengan sangat baik. Terkadang siang hari Anaya dengan tiga anaknya bermain ke rumah Ayah dan Bundanya. Terkadang ketika weekend juga Bunda Dianti dan Ayah Tendean menyempatkan bermain dengan cucu. Bagaimana pun keduanya ingin mengisi hari tua dengan berbagai hal yang positif.
Sama seperti hari Sabtu ini di mana Ayah Tendean dan Bunda Dianti mengunjungi keluarga Anaya. Menyempatkan diri untuk bermain bersama Citra dan adik-adiknya.
"Yeay, Opa dan Oma datang," teriak Citra yang begitu girang melihat Oma dan Opanya datang ke rumah.
Sebenarnya Anaya dan Tama akan mengajak Citra, Charel dan Charla untuk bermain di rumah Opa dan Omanya sore nanti. Rupanya, siang hari Ayah Tendean dan Bunda Dianti sudah terlebih dahulu datang ke rumah. Tentu saja, Citra merasa begitu senang.
"Iya, Opa dan Oma kangen sama Citra dan Duo C," balas Opa Tendean. Akhirnya, Citra pun bermain dengan Opanya. Bermain dokter-dokteran karena Opanya adalah seorang Dokter. Sementara Bunda Dianti memberikan kotak makanan berisi Ikan Tongkol Cabe Hijau yang dia masak tadi.
"Ay, Bunda masak Ikan Tongkol Cabe Hijau nih. Bunda bawakan untuk kamu dan Tama. Suka enggak?" tanya Bunda Dianti.
Tampak Anaya menganggukkan kepala. "Suka, Bunda. Terima kasih banyak. Tumben sih Bunda masak begini," balas Anaya.
"Tiba-tiba pengen banget, Ay ..., tapi setelah selesai justru gak doyan makan. Cuma lihatin Ayah kamu makan sudah kenyang," balas Bunda Dianti.
__ADS_1
Mendengar cerita Bunda Dianti, Anaya tersenyum. "Kok aneh begitu, Bunda? Atau jangan-jangan Bunda sedang hamil yah?" tanya Anaya dengan tiba-tiba.
Tampak Bunda Dianti tertawa dan merespons ucapan Anaya. "Bundamu sudah 47 tahun, Ay. Mana mungkin Bunda hamil?" tanyanya penuh ragu.
"Ya, ditunggu saja ya Bunda. Kan anak itu juga rezeki, anugerah dari Allah. Jika memang dipercaya ya bagaimana Bunda. Badannya Bunda merasa aneh tidak?" tanya Anaya sekarang.
Setidaknya Anaya sudah pernah hamil, tahu bagaimana perubahan tubuhnya kala hamil. Begitu sehat, tapi ketika malam bisa menggigil dengan sendirinya. Kadang juga merasa meriang, sehingga mungkin saja itu menjadi gejala awal kehamilan.
Ayah Tendean yang usai bermain dengan Citra pun bergabung dengan Anaya dan istrinya di ruang tamu. "Bunda kamu beberapa malam ini kedinginan, Ay ... katanya meriang," sahut Ayah Tendean.
Anaya dan Tama yang mendengarkan cerita itu tersenyum. Terutama Anaya yang sudah yakin mungkin saja terjadi sesuatu dengan Bundanya. "Bunda jangan minum sembarangan obat dulu yah. Sapa tahu ada dedek bayi di perutnya Bunda. Soalnya dulu Anaya juga begitu. Sehat-sehat saja, waktu malam menggigil kedinginan sampai minta peluk Mas Tama," jawabnya.
"Benar, Bunda. Semingguan itu kedinginan sendiri. Sampai menggigil. Namun, beberapa saat sudah normal lagi," sahut Tama.
Ayah Tendean dan Bunda Dianti pun saling pandang. Terbersit pikiran, mungkinkah mereka berdua dianugerahi buah hati ketika usia sudah tidak lagi muda. Bahkan jika lahir, anaknya nanti seusia cucunya sendiri. Hingga akhirnya, Bunda Dianti kembali bertanya.
__ADS_1
"Bukan karena meriang yah?" tanyanya.
"Meriang seperti masuk angin dan kedinginan bisa terjadi karena ada sesuatu yang asing sedang tumbuh di dalam badan kita, Bunda. Kan tidak harus mual dan muntah. Soalnya, waktu hamil dulu Anaya sehat banget, tapi yang mual dan muntah justru Mas Tama. Kata Dokter, Mas Tama yang kena Couvade Syndrom," balas Anaya.
"Jadi, sebaiknya Bunda gimana, Ay?" tanya Bunda Dianti.
Walau usia lebih matang, tapi tentang kehamilan Bunda Dianti sama sekali tak berpengalaman. Sehingga, dia bertanya kepada Anaya. Sementara putrinya, Anaya yang masih muda setidaknya punya pengalaman melahirkan jadi dia bisa bertanya kepada Anaya.
"Tes kehamilan dengan testpack terlebih dahulu, Bunda," balas Anaya.
Setidaknya memang lebih baik mengecek dengan testpack dulu. Melihat hasilnya positif atau negatif. Setelahnya barulah ke Obgyn untuk pemeriksaan lanjutan.
"Santai saja, Bunda. Kan dari awal kita juga santai dan dikasihnya saja," balas Ayah Tendean sekarang.
Bunda Dianti menganggukkan kepala, walau di dalam pikiran sekarang juga sudah memikirkan perihal yang baru saja diucapkan Anaya. "Iya, Mas. Kalau benar, bayi kita seusia cucu kita yah?"
__ADS_1
Anaya dan Tama tersenyum. Jika membayangkan juga pasti lucu. Namun, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini bukan? Semuanya masih bisa terjadi. Termasuk Bunda Dianti yang bisa saja hamil ketika usianya sudah tak lagi muda.