
Siang itu, Bunda Dianti bermain ke rumah Anaya. Memang jika tidak sibuk dan kesepian di rumah, biasanya Bunda Dianti memilih main ke rumah Anaya dan sekaligus bermain dengan cucu-cucunya.
"Baru sibuk apa, Ay?" tanya Bunda Dianti kepada Anaya sekarang.
"Enggak sibuk apa-apa, Bunda. Kalau sudah bisa jemput Citra sekolah itu, sudah longgar. Tinggal menemani Citra mengerjakan PR aja dari sekolah dan main sama Twins," balas Anaya.
Mendengar jawaban Anaya, Bunda Dianti pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan. Dia merasa senang melihat Anaya yang menerapkan pengasuhan autoritatif atau Autoritive Parenting untuk ketiga anaknya.
Autoritative Parenting sendiri adalah orang tua akan memberikan batasan perilaku yang konsisten. Selain itu, dalam menerapkan pola pengasuhan ini sama sekali tidak menerapkan kekerasan kepada anak. Sebab, ketika anak melakukan satu hal, orang tua lebih memilih untuk mengajak anak. berdiskusi.
Contohnya, seperti menjelaskan pada Si Kecil mengapa diberikan aturan tertentu. Sederhananya, orangtua tidak membebaskan dan menerima begitu saja perilaku anak, tapi juga tidak memberikan kontrol yang berlebihan. Menariknya, anak akan diberikan kesempatan untuk mencoba dan bertanggung jawab pada pilihannya.
"Citra, kamu mau belajar dulu atau bermain dengan Adik dulu?" tanya Anaya sekarang kepada Citra, putri sulungnya.
"Mau belajar, Ma ..., tapi ditemenin Oma ngerjain PR nya boleh?" tanya Citra.
Terlihat jelas bahwa Anaya mengizinkan Citra untuk memilih. Bermain terlebih dulu pun boleh, asalkan nanti Citra tetap belajar dan mengerjakan PR. Mengajak anak diskusi, supaya anak bisa memilih dan menyampaikan pendapatnya. Selain itu, orang tua juga belajar mendengar pilihan anak, dan membiarkan anak melakukan apa yang dia pilih.
Sementara Oma Dianti tersenyum ketika Citra memilih untuk mengerjakan PR dan ditemani Omanya. Namun, Oma Dianti pun menganggukkan kepalanya. Dia tentu mau untuk menemani Citra mengerjakan PR. Sama seperti dulu di Panti Asuhan, dia juga sering menemani anak-anak mengerjakan PR nya.
"Yuk, Oma temenin ... hari ini PR apa, Citra?" tanya Oma Dianti.
Citra mengambil selembar kertas dari dalam tasnya. Kemudian menunjukkannya kepada Omanya. "Menebalkan huruf B, Oma," ucapnya.
"Ya sudah, yuk ... Oma temenin. Huruf B besar dan kecil yah?" tanya Oma Dianti.
"Iya, Oma ... Citra sudah megang pensil dengan benar kok, Oma. Kata Miss di sekolah, Citra harus belajar memegang pensil biar bisa menulis," cerita Citra sekarang kepada Oma Dianti.
__ADS_1
Lagi, mendengarkan Citra yang bercerita, Oma Dianti kembali tersenyum. "Citra latihan di rumah?" tanyanya.
"Iya, latihan sama Mama," balasnya.
Usai itu, Citra bisa menebalkan huruf B besar dan kecil sendiri. Sesekali Oma Dianti juga mengingatkan Citra untuk lebih rapi dan menebalkannya tidak di luar garis. Citra pun berusaha keras supaya lebih rapi.
"Kurang rapi ya, Oma?" tanya Citra lagi.
"Ada beberapa yang kurang rapi, Sayang. Citra belajar lagi yah ... ini sudah bagus, kalau lebih rapi pasti jauh lebih bagus," balas Oma Dianti.
Terlihat cara Oma Dianti memuji Citra adalah memuji prosesnya. Ya, hasil menebalkan huruf untuk anak berusia 4 tahun di mana kinestetik otot tangannya belum begitu baik saja sudah baik. Namun, dengan dorongan dan motivasi jika lebih rapi, hasilnya tentu akan lebih baik.
"Iya, Oma. Oma ngasih tahunya sama seperti Mama," balas Citra.
Memang sama, karena pola pengasuhan yang diterapkan sekarang adalah Autorative Parenting. Memberikan pujian juga bukan berdasarkan hasil, melainkan pada proses supaya anak-anak menikmati proses. Melalui proses, anak-anak belajar dan mengenal apa itu jatuh dan bangkit. Tidak serta-merta menerima hasilnya.
"Apa iya, Sayang?" tanya Oma Dianti lagi.
Mendengarkan cerita dari Citra, Oma Dianti pun tersenyum. Rasanya senang sekali melihat Anaya dan Tama menerapkan pola pengasuhan yang baik untuk anak-anaknya. Bahkan sekarang Bunda Dianti pun berandai-andai, nanti ketika anaknya sendiri sudah lahir, ingin juga memberikan pengasuhan yang baik untuk anaknya sendiri.
"Mama, Citra sudah belajar loh," ucap Citra dan menunjukkan lembar PR yang sudah dia kerjakan.
Anaya mengecek hasil pekerjaan Citra, setelahnya mulai menganggukkan kepalanya. "Oke, bagus, Nak ..., coba Citra lihat, huruf B yang ini kurang rapi yah. Garis pensil kamu ada di luar garis ini," tunjuk Anaya.
"Apa Citra hapus dan kerjakan ulang, Ma?" tanyanya.
"Boleh, kalau Citra mau lakukan saja," balas Anaya.
__ADS_1
Menurut, Citra pun menghapus bagian yang tidak rapi itu, kemudian menulis ulang. Ternyata hasilnya lebih rapi. Anaya tersenyum karena putrinya itu gigih dan mau mencoba. Semoga itu jadi kebiasaan yang baik untuk Citra sampai dewasa nanti. Tidak takut untuk mencoba dan gigih.
"Nah, lebih rapi," ucap Anaya dan Oma Dianti bersamaan.
Dipuji oleh Mama dan Omanya, Citra terlihat senang. Bahkan wajahnya tersenyum cerah. Itu tandanya Citra sudah belajar berproses.
"Hore, seneng ...."
Citra pun mengakui bahwa dirinya sangat senang sekarang. Mama Anaya dan Oma Dianti sampai tertawa bersama. Semua itu juga karena Citra begitu lucu.
"Boleh enggak, Citra main sama Adik-Adik, Ma?" tanyanya.
"Boleh, Kak Citra," balas Mama Anaya.
Sembari mengamati Citra dan Twins yang bermain bersama. Anaya menanyai Bundanya itu, masih terkait dengan kehamilannya sekarang ini.
"Ngidam enggak Bunda?" tanyanya.
"Belum sih, Ay ..., cuma Bunda mau sedikit cerita, Ayah kamu luar biasa baik banget dan perhatian banget. Bunda seperti diratukan oleh Ayah kamu," aku Bunda Dianti.
Bagaimana tidak diratukan. Jika Ayah Tendean mencukupi semua kebutuhannya, memberikan perhatian yang berhenti. Sekarang, Bunda Dianti tak ragu untuk bercerita kepada Anaya. Saking perhatiannya Ayah Tendean, setiap malam yang menemani Bunda Dianti meminum obat dari Dokter adalah Ayah Tendean. Dia yang menyuapkan sendiri dua obat salut selaput ke mulut istrinya.
Anaya tersenyum. Sekarang hatinya menghangat. Itu karena ayahnya adalah sosok yang baik. Penuh perhatian. Satu lagi, ketika ayahnya berniat untuk menikah, maka dia akan mencintai dan juga memberikan yang terbaik untuk istrinya.
"Kadang, Bunda itu terharu. Terlebih sekarang, Bunda tidak bisa membalas Ayahmu. Tidak boleh berhubungan dulu, karena faktor usia dan kandungan hormon prostaglandin yang dimiliki Ayahmu, bisa membuat baby nya pusing. Seolah-olah, kita dihujani dengan kebaikan, tapi tidak bisa membalasnya," cerita Bunda Dianti.
"Tidak apa-apa, Bunda. Ayah itu pengertian kok. Tidak akan marah juga. Justru Bunda jangan kepikiran. Nanti kasihan dedeknya," balas Anaya.
__ADS_1
Bunda Dianti kemudian tersenyum. "Suami yang baik, anak yang baik. Makasih Anaya. Walau terlambat, Allah memberikan keluarga yang baik untuk Bunda. Ditambah menantu dan para cucu. Ini adalah nikmat tak terkira dari Allah."
Ya, sepenuhnya Bunda Dianti menyadari begitu lama menjadi yatim piatu. Keluarganya hanya anak-anak dan staf di Panti Asuhan Kasih Bunda. Sekarang, walau seakan terlambat, tapi sekarang Bunda Dianti memiliki keluarga secara utuh dan lengkap. Keluarga yang layaknya seperti keluarga cemara.