
Seremonial utama sebagai pengantin sudah dilalui Tendean dan Dianti. Memang tidak mudah untuk memulai rumah tangga selama bertahun-tahun lamanya menduda. Bahkan Tendean merasa kurang berpengalaman sekarang.
"Bunda, nanti pulang mau dibawakan apa?"
Tendean yang sekarang memilih memanggil istrinya dengan sebutan Bunda. Itu pun mengikuti Anaya yang memang sudah memanggil Dianti dengan sebutan Bunda. Lagipula, panggilan Ayah memang selaras dengan Bunda.
"Tidak usah, Mas Dean. Semangat aja kerjanya di Rumah Sakit. Tidak usah capek-capek," balas Dianti.
Terkesan menggelikan ketika dulu, Dianti melihat Tendean masih sebagai mahasiswa kedokteran. Sekarang, Tendean sudah bertransformasi menjadi Dokter. Pria itu mengenakan kemeja batik, dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam, kemudian menggunakan kacamata. Terlihat tidak lagi muda, tapi justru kian bertambah pesonanya.
"Bunda, aku ingin mengatakan sesuatu ke kamu. Aku ini, sudah menduda begitu lama. Seusia Anaya, 26 tahun. Jadi, aku jujur, aku tidak tahu bagaimana membina rumah tangga karena yang kutahu adalah mengurus Anaya dan juga bekerja. Jika, terkadang aku kurang bisa memahami kamu, tolong maafkan aku," ucap Tendean.
__ADS_1
Walau usia sudah kepala lima, tapi Tendean mengakui bahwa dirinya minim pengalaman. Bahkan, terkadang Tendean menerka bahwa dia dan Tama, menantunya saja bisa lebih berpengalaman Tama. Itu juga karena menduda terlalu lama.
"Tidak apa-apa Mas Dean ... kita bisa belajar sama-sama kok. Kamu yang sudah lama menduda, dan aku yang baru pengalaman pertama. Banyak salah tidak masalah, yang pasti kita akan berusaha yang terbaik. Jadi kesalahan itu sebagai pengalaman," balas Bunda Dianti.
"Makasih, Bunda ... kalau memang aku terkadang tidak peka, langsung tegur aku. Aku sama sekali tidak keberatan," balas Tendean.
Ada senyuman di wajah Dianti. "Pasti, kita sama-sama menegur. Teguran yang baik, nasihat yang bermakna. Makasih sudah mengomunikasikannya terlebih dahulu denganku, Mas," balas Dianti.
Setelah itu, Tendean berpamitan dengan istrinya. Dia harus segera bekerja ke Rumah Sakit. "Bunda, aku berangkat ke Rumah Sakit dulu yah. Praktik hari ini sampai jam 14.00 siang. Jadi, usai makan siang, aku akan kembali pulang," pamit Tendean.
"Iya, aku tunggu di rumah. Aku sembari menulis buku, aku berjanji ingin membuat karakter dengan nama Citra, cucu kita," balas Bunda Dianti.
__ADS_1
Ayah Tendean sangat senang. Kini, sekadar berangkat ke Rumah Sakit saja, ada yang menghantarkannya sampai ke depan rumah. Ada yang melambaikan tangan kepadanya. Ini memang bukan gelora cinta remaja, tapi sesungguhnya ada rasa yang indah di dalam dada.
"Kamu membuat hari pria yang usianya semakin senja ini menjadi semakin berwarna Dianti ...."
Ayah Tendean bergumam sembari mengemudikan mobilnya. Terasa sangat senang karena masa duda sudah berakhir dan berganti dengan pasangan yang kini ada mendampinginya.
Sementara begitu sang suami bekerja sebagai Neurolog di Rumah Sakit, Dianti memilih untuk menulis. Ya, selain mendirikan Taman Baca dengan keluarga muda yang sudah dia anggap sebagai keluarga yaitu keluarga Khaira dan Radit (Tokoh utama Berbagi Cinta: Meminang Tanpa CInta), Bunda Dianti juga memiliki profesi sebagai seorang penulis buku.
Sebagaimana permintaan Citra yang ingin dibuatkan buku cerita dengan nama tokoh dirinya, sekarang Bunda Dianti melakukan mapping cerita, bagaimana dia hendak menuliskan cerita anak dengan otkoh Citra. Seketika Bunda Dianti tersenyum.
"Menikahi duda, banyak bonusnya ... bahkan aku memiliki cucu yang begitu lucu. Aku akan buat cerita yang indah untukmu, Nak ... Citra."
__ADS_1
Ada kehidupan yang terus berjalan, tapi ada juga peran baru yang sekarang dijalani. Kurang lebihnya tentu akan terus dirasakan Tendean dan Dianti bersama. Beradaptasi dalam kehidupan rumah tangga, dan menunggu kejutan demi kejutan yang bisa saja terjadi.