Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Hidup Memang Banyak Kejutan


__ADS_3

Sepulang dari Panti Asuhan, Tendean hendak menanyai istrinya. Setahu Tendean dulu Dianti adalah sarjana psikolog. Lantas, kenapa bisa menjadi penulis buku dan dekat dengan anak-anak. Rasanya itu menjadi kejutan tersendiri untuk Tendean.


"Bunda, kenapa kamu tidak berniat menjadi psikolog saja? Setahuku dulu, kamu selalu menjadi mahasiswa dengan IPK terbaik. Kupikir kamu akan menjadi Psikolog," ucap Tendean.


Bunda Dianti kemudian tersenyum. "Aku suka anak-anak, Mas. Bahkan aku mengambil Psikologi Perkembangan Anak karena ingin mendampingi anak-anak. Saking suka dengan dunia anak, aku memikirkan apa kontribusiku untuk anak-anak. Ya sudah, aku menulis buku, membuat dongeng yang bukan sekadar dongeng, tapi ada pembelajaran dan penanaman karakter di sana. Lalu, panti asuhan yang aku kerjakan dengan rekanku. Sekarang, rekanku membuka Panti Asuhan Kasih Ibu juga di Makassar. Mengerjakan segala sesuatu yang jadi passion kita itu menyenangkan, Mas," cerita Bunda Dianti.


Rupanya alasan utama kenapa Bunda Dianti memilih terjun ke dunia anak karena suka dengan anak-anak. Mengerjakan semuanya dengan passion. Sehingga hasil yang diharapkan sangat memuaskan hati.


"Oh, begitu. Apa karena suka anak-anak juga yang membuatmu sampai tidak menikah?" tanya Ayah Tendean lagi.


"Bukan juga. Sebenarnya waktu Bapak dan Ibu masih ada, beliau menjodohkanku dengan beberapa putra rekannya. Namun, aku merasa tidak sreg. Selain itu, ya mungkin aku yang bodoh dan naif, masih memegang janji pemuda yang dulu memintaku menunggu," cerita Bunda Dianti.


Jika sudah menyangkut janji yang dulu pernah Ayah Tendean ucapkan. Rasanya membuat dada Ayah Tendean menjadi sesak. Tidak mengira dia sudah membuat Dianti menunggu selama seperempat abad lamanya.

__ADS_1


Di, aku akan melanjutkan kuliah pascasarjana di Jakarta. Tunggulah aku di Bandung. Begitu, aku sudah selesai, aku akan kembali ke Bandung dan meminangmu.


Itulah pesan yang pernah diucapkan oleh Ayah Tendean dulu. Meminta Dianti untuk menunggu. Tidak menyangka ketika dulu dirinya ingkar, justru Dianti tetap berdiri di tempatnya dan tetap menunggunya.


"Maafkan aku, Di ... aku juga tidak menyangka ketika aku ingkar, kamu masih menungguku. Maafkan aku," ucap Ayah Tendean.


"Tidak apa-apa, Mas. Hidupkan memang penuh kejutan, sehingga banyak rasa dan banyak warna. Tidak apa-apa," balas Bunda Dianti dengan tersenyum.


"Tidak, baru sekarang aku menikah. Status di KTP juga Belum Menikah, bukan Janda. Kamu saja yang tidak teliti," balas Bunda Dianti.


Ayah Tendean menganggukkan kepala. Ya memang dia tidak memeriksa kartu Tanda penduduk milik Bunda Dianti waktu mendaftarkan pernikahan. Terlalu fokus dengan persiapan acara dan menyiapkan semua, sampai tidak membaca dokumen negara milik calon istrinya waktu itu.


"Ah, benar. Kenapa aku tidak memikirkannya. Aku yang tidak teliti," balas Ayah Tendean dengan tersenyum.

__ADS_1


"Sudah, Mas. Tidur yuk. Sudah menua, pinggang agak nyut-nyut karena kurang rebahan. Aktivitasku sekarang sering rebahan di rumah. Jadi, kebanyakan berdiri di Panti tadi bikin pinggang pegel," ucap Bunda Dianti.


Sekarang Ayah Tendean berdiri dan mengambilkan segelas air putih untuk istrinya. "Diminum dulu, baru nanti kita tidur. Usahakan minum air putih teratur. Sakit pinggang juga bisa karena kurang minum air putih."


"Kalau punya suami Dokter enak yah, kesehatan kita diperhatikan," balas Bunda Dianti.


"Kan suami harus perhatian ke istrinya. Minum dulu pelan-pelan. Habis ini baru tidur. Ku kira kamu tidak begitu capek hari ini," ucap Ayah Tendean.


"Hmm, emangnya kenapa Mas?" tanya Bunda Dianti.


Ayah Tendean pun tersenyum. "Biasa, Di. Ada yang butuh sekarang," balasnya.


Rupanya pasangan paruh baya itu juga bisa saja. Tidak hanya memiliki aktivitas yang kian beragam di hari tua, tapi juga memiliki kegiatan khusus untuk selalu memupuk cinta.

__ADS_1


__ADS_2