Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Hari yang Dinanti


__ADS_3

Tidak terasa bahwa kehamilan Bunda Dianti kian bertambah bulan, hingga kali ini kehamilan Bunda Dianti sudah memasuki minggu ke-39. Rasanya kehamilan kali ini berjalan dengan sungguh cepat. Berdasarkan dengan advice dari Dokter Indri. Bunda Dianti akan mulai melakukan tindakan operasi Caesar. Semua ini karena mengingat faktor usia Bunda Dianti yang sudah 48 tahun. Terlalu berisiko untuk melahirkan secara normal di usia Bunda Dianti sekarang.


Oleh karena itu, Bunda Dianti dan Ayah Tendean menerima advice dari Dokter Indri ini. Sebab, sebenarnya Ayah Tendean sudah memperhitungkan terlebih dahulu bahwa memang Bunda Dianti harus mendapat C-Section untuk kali ini.


“Harus Caesar ya, Mas … padahal, aku pengen merasakan melahirkan secara normal,” ucap Bunda Dianti dengan disertai helaan nafas yang keluar dari hidung Bunda Dianti .


“Tidak apa-apa Bunda, melahirkan itu metodenya kan banyak. Kebetulan Dokter Indri memberikan advice untuk melakukan Caesar. Tidak apa-apa untuk mengurangi faktor usia juga,” jawab Ayah Tendean yang memberikan penguatan dan support untuk istrinya itu.


"Berisiko banget ya, Mas?"


"Banget, Bunda. Usia juga berpengaruh, selain itu memicu adanya komplikasi yang lain dan tidak kuat untuk mengejan," balas Ayah Tendean.


Mendengarkan jawaban dari suaminya, perlahan Bunda Dianti pun menganggukkan kepalanya, “Iya … nanti pakai metode ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) ya Mas … yang minim rasa sakit dan proses penyembuhannya lebih cepat,” pinta Bunda Dianti kali ini kepada suaminya.


Sebab, terlebih dahulu Ayah Tendean meminta Dokter Indri menggunakan metode ERACS supaya hasilnya Bunda Dianti bisa pulih lebih cepat. Bahkan tidak begitu terasa ngilu di bekas sayatan di perutnya. Untuk itu, kali ini Bunda Dianti ingin menggunakan metode ERACS.


“Iya Bunda … yang penting sih keselamatan dan kenyamanan kamu dan bayi kita,” sahut Ayah Tendean .


***


Di Ruang Operasi ...


Sejak semalam Bunda Dianti sudah berpuasa sebelum dilakukan operasi Caesar pada hari ini. Seperti yang dianjurkan oleh suaminya, kali ini Ayah Tendean mengatakan kepada Dokter Indri bahwa mereka akan memilih metode ERACS di mana Bunda Dianti tidak akan merasa sakit berlebihan, selain itu Bunda Dianti bisa lebih cepat pulih.


"Mas, aku takut ..." ucap Bunda Dianti lagi di dalam ruangan operasi itu. Tangan wanita itu tampak dingin, tetapi tidak dipungkiri melahirkan memberikan rasa ketakutan tersendiri.


Bunda Dianti yang sudah berbaring di atas brankar dan sudah mengenakan baju pasien. Ayah Tendean pun juga bersiap dengan baju khusus pasien, mengenakan masker, dan penutup kepala supaya tetap steril. Pria itu menggenggam tangan istrinya. Memastikan bahwa dia akan selalu mendampingi Bunda Dianti . Sekalipun Ayah Tendean juga panik dan takut, tetapi Ayah Tendean akan mengalahkan semua rasa takut dan panik dalam dirinya untuk menyambut putri keduanya bersama dengan Bunda Dianti .


Kalau boleh jujur, di dalam hatinya Ayah Tendean merasa takut. Dua puluh enam tahun yang lalu, kala mendampingi almarhumah istri pertamanya melahirkan Anaya. Momen kelahiran itu menjadi hari berkabung untuknya, membuatnya hancur dan terpuruk. Sekarang, dia seolah dihadapkan dengan kenyataan dulu lagi. Namun, mau tidak mau memang harus dihadapi. Ayah Tendean menguatkan hatinya sendiri dan terus mendampingi istrinya.


“Aku ada di sini, Sayang … kita sambut adiknya Anaya bersama-sama yah. Kita akan menjadi saksi lagi untuk menyambut kelahiran baby dengan penuh cinta,” sahut Ayah Tendean . Tentu saja, Ayah Tendean mengatakan semua itu supaya Bunda Dianti tidak tegang. Tidak lupa Ayah Tendean pun melantunkan doa-doa dalam hatinya untuk kelancaran operasi yang akan dilangsungkan sesaat lagi.

__ADS_1


Setelahnya, Dokter Indri bersama tim medis dan beberapa perawat pun masuk. Mulailah sebuah kain berwarna hijau direntang menutupi bagian perut Bunda Dianti . Kemudian mulailah perawat memasang kateter ke dalam kandung kemih guna mengambil urine. Jarum infus atau intravena juga dimasukkan ke dalam pembuluh darah di tangan untuk memasukkan cairan infus dan obat-obat yang akan dimasukkan melalui infus.


Mulailah Dokter anestesi melakukan anestesi epidural (suntikan bius yang disuntikkan langsung ke sumsum tulang belakang) yang akan menimbulkan mati rasa dari bagian perut hingga kaki saja. Sementara untuk perut ke atas sampai kepala tetap dalam kondisi biasa.


"Mulai kita lakukan prosedur Caesarnya ya, Dokter ..." Dokter Indri berbicara kepada Dokter Ayah Tendean .


Ayah Tendean kemudian mengangguk dan kian menggenggam erat tangan istrinya yang terasa begitu dingin itu.


"Sabar ya Bunda ... tidak lama lagi bayi kita akan segera lahir," ucapnya memenangkan Bunda Dianti yang sudah berlinangan air mata.


Sementara di bawah sana, Dokter bedah dan tim medis mulai membersihkan area perut Bunda Dianti dan membuat sayatan vertikal mulai dari bawah pusar sampai tulang ke-maluan. Kemudian Dokter bedah membuka rongga perut Bunda Dianti dengan membuat sayatan satu per satu pada setiap lapisan perut.


Setelah rongga perut Bunda Dianti terbuka, mulailah dibuat sayatan horizontal di bagian bawah rahim. Hingga perlahan rahim itu telah terbuka. Perlahan bagaimana bayi itu masih terbungkus dengan air ketuban dan plasentanya terlihat. Kemudian, perlahan Dokter Indri mengambil bagian tersebut dari bagian perut Bunda Dianti dan memecahkan air ketubannya di luar, setelahnya mulai terdengarlah suara tangisan bayi yang begitu kencang.


Sedikit mengangkat bayi itu dan memperlihatkannya kepada Ayah Tendean dan Bunda Dianti .


"Jenis kelamin baby nya kejutan yah, karena Ibu Dianti dan Dokter Tendean memutuskan untuk tidak mengetahui jenis kelamin bayinya. Nah, sekarang ... Adiknya Anaya adalah cewek. Baby Girls!" ucap Dokter Indri mengangkat bayi perempuan di mana badannya masih dipenuh dengan cairan ketuban, lendir, dan beberapa darah di bagian mulut dan hidung.


Sementara Bunda Dianti pun turut menangis sesegukan. Rasanya dia begitu bersyukur kepada Allah yang menganugerahkan seorang bayi perempuan yang melengkapi hidupnya bersama Ayah Tendean .


"Baby kita Sayang … cewek. Dia sehat," ucap Ayah Tendean dengan menangis dan menciumi kening istrinya itu.


"Iya, Mas." jawab Bunda Dianti dengan berlinangan air mata..


Di saat sepasang orang tua baru itu haru dalam tangis dan kebahagiaan. Dokter Indri mulai membersihkan mulut dan hidung bayi terlebih dahulu, kemudian barulah tali pusatnya dipotong. Dilanjutkan dengan Dokter Indri mengambil plasenta dari dalam rahim Bunda Dianti .


Setelah bayi itu dibersihkan dari lendir yang menempel di badannya dan darah di bagian hidung dan mulutnya, Dokter Indri menaruh bayi itu di dada Bunda Dianti untuk melakukan Imisiasi Menyusui Dini (IMD).


"Babynya Bu Bunda Dianti ... cewek yahh kayak Anaya. Adik kecilnya Anaya ini, " ucap Dokter Indri dengan tersenyum.


“Wah, Bu Bunda Dianti memiliki tiga princess di rumah ini. Si baby, Citra, dan Charla. Bakalan rame ini,” gurauan Dokter Indri kali ini.

__ADS_1


Bunda Dianti menangis dengan air matanya yang terus terurai, tak kuasa menahan haru dan bahagia saat buah hatinya tengah berada di atas dadanya dengan suara tangisannya yang begitu kencang.


Ayah Tendean menautkan jari telunjuknya dalam genggaman jari-jemari buah hatinya itu.


"Welcome to the World, Putrinya Ayah ..." ucap pria itu dengan menitikkan air matanya.


Rupanya baby perempuan itu bisa menemukan sumber kehidupan pertamanya, dia belajar menghisap dan mendapatkan Colostrum yang sangat baik untuk sistem imun dan perkembangannya.


“Belajar minumnya sudah pinter nih anak Ayah .…” celetuk Ayah Tendean dengan tersenyum. Semua momen pertama yang dia kali ini benar-benar menjadi momen yang tidak akan pernah dia lupakan.


Bunda Dianti kemudian mengangguk, “Iya … sudah belajar menemukan sumber kehidupannya. I Love U, Nak …” ucap Bunda Dianti dengan penuh haru.


Sementara saat bayi itu belajar untuk kali pertama dalam proses kehidupannya, di bawah sana Dokter Indri kembali menjahit luka sayatan di perut Bunda Dianti .


“Jadi nama babynya sapa nih Dokter Tendean dan Bu Bunda Dianti ?” tanya Dokter Indri sembari menggerakkan jarum dan benang dari gelantin di area perut Bunda Dianti .


Ayah Tendean dan Bunda Dianti kemudian saling pandang. “Namanya siapa Mas?” tanya Bunda Dianti kepada suaminya itu.


“Annasya ... Nasya,” ucap Ayah Tendean dengan begitu yakin.


Nama yang dipilih Ayah Tendean pun juga adalah nama yang mirip dengan putri pertamanya. Anaya dan Annasya. Tidak mengira pria berusia 53 tahun itu menerima buah hati ketika sudah bercucu tiga.


"Namanya mirip dengan Kakak Anaya," balas Bunda Dianti.


"Benar, apakah kamu menginginkan nama yang lain?" tanya Ayah Tendean.


Dengan cepat Bunda Dianti menggelengkan kepalanya. "Tidak. Sudah bagus. Hei, Nasya ... terima kasih sudah melimpahi Bunda dengan kebahagiaan sebesar ini," ucap Bunda Dianti dengan memperhatikan Nasya yang masih berusaha menghisap ASI untuk kali pertama di sana.


"Terima kasih sudah mendampingi aku, Mas," ucap Bunda Dianti lagi kepada suaminya.


"Aku juga berterima kasih untuk kebahagiaan ini, Bunda. I Love U!"

__ADS_1


Momen indah. Kelahiran penuh haru untuk pasangan yang sudah tidak lagi muda. Namun, kebahagiaan ini terasa penuh dan melimpah.


__ADS_2