Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Satu Tahun Terlewati


__ADS_3

Jakarta, 1997


Dalam hidup manusia ada yang selalu menyertai dan itu adalah waktu. 24 jam sehari, dan terus berjalan, terus bergulir seolah turut menyertai hidup manusia. Pun begitu dengan guliran waktu yang sudah dilalui Tendean selama satu tahun ini. Banyak yang berubah dalam satu tahun ini. Anaya yang sudah belajar berdiri. Dengan susu formula yang diminum setiap harinya, nyatanya Anaya bisa tumbuh sehat. Hanya menghitung hari, si kecil yang dipanggil Aya itu akan berusia satu tahun.


Sementara jika ada yang belum berubah itu tentu adalah hati Tendean yang masih terasa kosong. Tidak tersentuh malahan. Pria itu benar-benar menghabiskan waktunya untuk melayani masyarakat dan juga membesarkan anaknya.


"Ean, beberapa hari lagi, Aya akan berulang tahun. Mau dirayakan enggak ulang tahunnya?" tanya sang Ibu kepada putranya itu.


Tendean pun menggelengkan kepalanya. "Tidak Bu ... menurut Ean jika ada hari yang tidak usah diperingati itu adalah hari lahirnya Aya. Cukup kita berkumpul dan berdoa saja," jawabnya.


Rasanya hari kelahiran Aya adalah hari terpilu dalam hidupnya. Hari di mana dia kehilangan belahan jiwanya. Hari yang mengubah seluruh hidup Tendean dan Aya. Pria itu menjadi duda di hari itu, sementara Aya menjadi yatim di hari itu juga. Benar-benar sebuah hari yang tidak perlu dirayakan menurut Tendean.


"Jangan begitu, Ean. Setidaknya Aya juga perlu mengingat kenangan manis. Mungkin di hari itu, kamu kehilangan almarhumah. Akan tetapi, Tuhan berikan kado terindah untuk kamu adalah diri Aya," ucap Ibu Mia.


Sepenuhnya Bu Mia ingin putranya itu menyadari bahwa di dalam hidup ini suka dan duka silih berganti. Tidak selama manusia tinggal dalam lembah air mata. Akan tetapi, tidak selamanya juga manusia bersuka ria dalam tawa. Namun, semuanya menyertai manusia. Suka dan duka, sedih dan bahagia, semuanya turut menyertai perjalanan hidup manusia di bawah matahari yang terus bersinar ini.


"Ean justru berpikir untuk mengajak Aya ziarah saja ke makam Bundanya, Bu ... setidaknya dari kecil Aya sudah tahu bahwa Bundanya sudah tiada. Raganya sudah tiada, tapi cintanya bisa selalu Aya kenang," ucap Tendean.


Bu Mia pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, boleh. Ada kalanya kamu menghadirkan hari-hari yang indah untuk Aya. Berikan memori yang indah. Anak yang besar tanpa Bundanya, juga harus bahagia dan memiliki kenangan yang indah," balas sang Ibu.


Tidak selamanya seorang anak yang tidak memiliki seorang ibu harus terus-menerus hidup dalam kesedihan. Merasa berbeda dari teman-temannya. Akan tetapi, mereka pun bisa melihat dunia dan juga melihat harapan dengan lebih optimis.

__ADS_1


"Iya Ibu ... pasti, Aya akan selalu bahagia walau dia tidak memiliki Bunda yang membersamai tumbuh kembangnya," balas Tendean.


***


Beberapa Hari Setelahnya ....


Hari ini adalah hari ulang tahun pertama untuk Anaya. Jika ulang tahun pertama selalu dirayakan orang tua dengan meriah. Akan tetapi, tidak untuk Anaya kecil. Sang Oma hanya membuatkan Nasi Tumpeng yang dibentuk kerucut dengan menu pelengkap. Sementara Tendean, sang Ayah menggendong bayinya yang sudah berusia satu tahun itu.


Ibu Mia, Pak Ali, Tendean, dan Aya kecil berkumpul bersama. Walau hari ini adalah hari yang bahagia, tetapi rasanya begitu sedih. Pun untuk Bu Mia yang rasanya sejak pagi, matanya sudah perih karena menahan tangis. Masih teringat dengan kejadian satu tahun yang lalu. Ya, satu tahun yang lalu di rumah ini banyak orang datang dan berkumpul, bukan untuk bersukacita, melainkan untuk berdukacita dan berbelasungkawa.


"Selamat ulang tahun, Anaya Sayang ... cucunya Oma sudah satu tahun saja. Semoga Anaya sehat selalu, tambah bertumbuh yah. Pelan-pelan bisa berjalan, bisa berbicara, dan juga sayang sama Ayah Tendean yah," ucap Bu Mia yang kali ini air matanya benar-benar berlinang.


"Selamat ulang tahun, Anaya ... cucunya Opa. Sehat selalu dan pintar ya Aya. Kami sayang Aya," ucap Pak Ali.


Hati seorang ibu sangat tahu jika Tendean sudah pasti bersedih, tetapi Tendean harus bangkit untuk Anaya. Sudah satu tahun berlalu juga. Andai saja, mendiang Desy masih ada, hari ini rasanya tentu akan lebih bahagia.


"Iya Bu ... untuk Aya, Ean akan kuat," balasnya.


Bu Mia pun menganggukkan kepalanya. "Harus kuat. Untuk putri kamu, cindera mata terindah dari Almarhumah," ucap Bu Mia lagi.


Tendean juga merasakan hatinya yang pilu, tetapi dia tidak berani bersuara banyak. Kadang suara itu justru keluar ketika dia tengah menimang atau menidurkan Anaya. Selebihnya, dia lebih banyak menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya.

__ADS_1


Menjelang siang, Tendean mengajak kedua orang tuanya dan juga si kecil Aya untuk mengunjungi Memorial Park. Kini di hadapan sebuah nisan dengan tercetak dengan tinta emas bernama Desy Febyanti. Tendean bersimpuh di depan makam itu. Tangannya mengusapi nisan berwarna hitam itu.


"Sudah satu tahun lamanya kamu berpulang, Desy ... hari ini, aku tidak sendiri. Aku bersama Bapak, Ibu, dan putri kecil kita, Anaya. Apa kabarmu Bunda? Lihatlah, Aya begitu cantik dan lucu. Seolah wajah kamu ada di dalam wajah Aya, hadiah yang Tuhan berikan untukku, tapi Dia mengambilmu dari sisiku."


Tendean bergumam dalam hati. Walau sudah satu tahun, duka itu masih terasa. Pun dengan Bu Mia dan Pak Ali yang masih menangis di sana. Menantunya sudah tiada, raganya mungkin sudah bersatu dengan tanah, tinggal tulang-belulang yang terkubur di sana. Rasanya tetap saja hari itu berselimut awan gelap.


Pak Ali kemudian menepuk bahu putranya. "Ayo, kita kirim doa untuk Desy. Al-fatihah bersama untuk Almarhumah," ajaknya.


Ketiganya pun menundukkan wajahnya, mengangkat sedikit kedua tangannya seolah hendak menangkup sesuatu dan mulailah mereka melantunkan surat Al-fatihah untuk Almarhumah. Selain itu ada beberapa doa juga yang dipimpin oleh Pak Ali. Mengirim doa untuk almarhumah supaya dijauhkan dari siksa kubur dan siksa neraka, mendapatkan kemurahan dari Allah semata.


Kemudian mereka bergantian menabur bunga di makam itu, kemudian mengguyurkan air mawar.


"Beristirahatlah dengan tenang, Desy ... Anaya, putri kita akan selalu mengingat Bundanya dengan cara yang indah," ucap Tendean.


Ketika Tendean mengucapkan itu angin pun berhembus, dan sebuah bunga kamboja putih menjatuhi pria itu. Tendean tersenyum, mungkin ini cara alam semesta untuk menyapanya. "Bahagialah di sana, Desy," ucap Tendean dengan menitikkan air matanya.


"Yang kuat ... sabar ya Ean," ucap Bu Mia.


"Pasti Bu. Untuk Aya, Ean akan selalu kuat," balasnya.


Anaya kecil pun menunjuk-nunjuk makam itu seakan ingin tahu. "Bundanya Aya, ada di sini. Hanya raganya saja yang terkubur. Akan tetapi, Bunda sudah di surga." Tendean menjelaskan kepada Anaya sembari menggendong putri kecilnya itu.

__ADS_1


Setelahnya Tendean berlulut dengan masih menggendong Anaya, rupanya Aya pun menggerakkan tangannya dan menyentuh nisan hitam di sana. Bocah kecil itu dengan sendirinya mendekatkan wajahnya ke batu nisan itu. Di sana ketiga orang dewasa menangis. Benarkah Anaya yang masih kecil, bisa merasa bahwa raga Bundanya terkubur di sana. Pun Tendean yang juga sedikit menceritakan perihal Bundanya itu kepada Anaya kecil.


Ketika hari kelahiran bersaman dengan hari kehilangan, rasa pilu di hati tidak bisa dipungkiri. Terasa sesak. Akan tetapi, Tendean berusaha ikhlas dan terus berharap bisa menjalani hari-harinya bersama Anaya.


__ADS_2