
Ini adalah malam pengantin yang mendebarkan sekaligus penuh dengan kejutan untuk Tendean. Bagaimana tidak, dia berpikir bahwa mungkin saja dia bukan pria pertama untuk Dianti. Pertemuan 26 tahun lalu di kota Bandung, hingga akhirnya bertemu kembali saat keduanya tidak sama-sama muda. Hingga akhirnya, di malam pertama pernikaha, Tendean mendapatkan kejutan yang sangat berarti.
"Di, kamu masih ...."
Tendean seakan tidak berani untuk melanjutkan pertanyaannya. Sebab, dia tahu bahwa pertanyaan seperti itu mungkin akan melukai hari seorang wanita. Oleh karena itu, Tendean hanya menelisipkan tangannya di bawah kepala Dianti, dan membawa Dianti ke dalam pelukannya. Kemudian dia menarik selimut untuk mencover tubuh keduanya yang sama-sama polos sekarang.
"Iya, kamu yang pertama untukku. Kenapa, Mas ... aku terlihat bodoh yah?" tanya Dianti dengan menghela nafas panjang.
"Tidak, kamu tidak bodoh sama sekali. Justru aku yang bodoh, Di ... aku tidak berusaha untuk mencari kamu. Padahal aku mengenalmu sangat lama. Aku sibuk dengan dukaku dan rutinitasku sehari-hari," balas Tendean.
"Bukankah dulu ... kamu berkata akan melanjutkan S2 ke Jakarta, dan akan kembali ke Bandung untuk meminangku, Mas?" tanya Dianti perlahan.
__ADS_1
Barulah sekarang, Tendean teringat dengan janjinya kepada Dianti dulu. Memang tidak pernah ada ungkapan cinta di antara keduanya. Akan tetapi, ada janji yang pernah terucap, bahwa dia akan ke Jakarta untuk menyelesaikan kuliah S2 di Jakarta dan setelahnya akan kembali ke Bandung. Namun, janji itu tidak pernah terpenuhi. Janji itu baru bisa terpenuhi seperempat abad setelahnya.
"Dalam 26 tahun ini, apakah kamu tidak pernah menikah, Di?" tanya Tendean lagi.
"Tidak, aku menunggumu, Mas. Maka dari itu, aku terlihat naif dan bodoh kan. Aku pikir, dengan usiaku yang sudah tidak lagi muda, aku ingin hidup selibat. Tidak menikah. Siapa sangka, aku justru menikah ketika usiaku hendak memasuki kepala lima," ucap Dianti.
Jalan hidup manusia memang tidak pernah ada yang tahu. Terkadang memang apa yang direncanakan oleh manusia, sangat berbanding terbalik dengan apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Sama seperti Dianti yang mengira bahwa dia tidak akan menikah lagi. Siapa sangka justru, dia kembali dipertemukan dengan Tendean ketika masa remajanya sudah hilang. Sudah menua. Namun, itulah teka-teki dari yang kuasa.
Ya, memang itu adalah perasaannya sekarang. Dia sampai bingung. Namun, terselip rasa bersalah karena dia telah membiarkan Dianti menunggu selama itu. Dianti tersenyum tipis, tangannya mengusapi lengan suaminya dengan usapan yang naik turun.
"Tidak apa-apa, Mas," balasnya.
__ADS_1
"Sakit tidak, Di? Tadi ada darah di sana," tanya Tendean kemudian.
"Sakit, Mas ... perih dan ngilu. Bagaimana pun ini pengalaman pertama untukku," balas Dianti dengan mencoba tenang. Walau sebenarnya malu, tapi dengan usianya sekarang agaknya tidak bisa lagi bersikap malu-malu.
"Maaf yah ... nanti lama-lama akan terbiasa kok," balas Tendean.
"Aku pernah membacanya di sebuah artikel. Awalnya memang sakit. Sebab, bagaimana pun ada tirai selaput yang terkoyak. Tidak apa-apa. Hampir setengah abad usiaku, baru sekarang aku merasakannya," ucap Dianti.
Hingga akhirnya, keduanya memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu dan kemudian hampir dini hari, barulah mereka mulai tidur. Kisah keduanya akan dimulai. Tidak lagi sebagai duda seperempat abad, atau seorang gadis yang menunggu seperempat abad lamanya.
Namun, keduanya siap membagi hidup untuk menjalani hari-hari bersama. Walau usai sudah tidak lagi muda, tapi mereka memiliki mimpi dan asa.
__ADS_1