
Dulu, Citra pernah meminta kepada Oma Dianti untuk dibuatkan cerita dengan namanya sendiri sebagai tokoh utama di buku cerita Omanya. Sekarang, Oma Dianti benar-benar mewujudkannya. Sudah rampung sebuah buku dongeng anak-anak dengan judul Citra, Anak Penyayang.
Malam itu, Oma Dianti dan Opa Tendean sama-sama datang ke rumah Anaya dan Tama. Tidak membawa bingkisan mewah. Akan tetapi, Oma Dianti datang dengan bingkisan berupa sebuah buku.
"Assalamualaikum," sapa Oma Dianti begitu memasuki rumah menantunya itu.
"Waalaikumsalam, silakan masuk Bunda dan Ayah," sahut Tama.
Memang Tama yang membukakan pintu. Bersama dengan Citra yang turut serta dengannya. Seperti biasa, Citra sangat senang bisa bertemu dengan Oma dan Opanya.
"Waalaikumsalam, Oma dan Opa," balas Citra.
Pasangan paruh baya itu tentu begitu senang karena Citra juga sangat ramah. Ketika ada orang datang dan mengucapkan salam, Citra juga membalas dengan baik dan ramah tentunya.
"Anaya mana?" tanya Ayah Tendean.
"Di dalam kamar, Ayah. Paling sebentar lagi juga turun," balas Tama.
__ADS_1
Setelah itu, Tama mempersilakan Ayah dan Bundanya untuk masuk. Kemudian, Tama memanggilkan Anaya yang masih berada di kamar. Sehingga, sekarang Tama dan Anaya turun dengan menggendong Charla dan Charel.
"Cucu-cucunya Oma belum pada bobok yah?" tanya Oma Dianti.
"Belum, Oma ... palingan nanti jam 20.00 baru pada bobok," balasnya.
Kemudian Opa Tendean mengajak Charel, sementara Charla memilih untuk tummy time di lantai. Setelah semuanya berkumpul, barulah Oma Dianti menyerahkan hadiah yang dia bawa untuk Citra.
"Jadi, Oma ke sini untuk memberikan hadiah untuk Kak Citra. Dulu, Kak Citra ingat enggak pernah meminta apa kepada Oma?" tanya Oma Dianti.
Citra tampak berpikir sekarang, mengingat-ingat lagi apa yang dulu pernah dia minta kepada Omanya. Namun, Citra tidak menemukan apa yang dulu dia minta. Hingga akhirnya, Citra hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Oma Dianti memberikan sebuah buku kepada Citra. Buku yang ilustrasinya dibuat dengan sangat bagus dan juga judulnya juga sangat indah. Buku dengan mode board book itu bahkan dipilih khusus dan dibuat dari bahan yang food grade dan anak untuk anak-anak.
"Ini hadiah dari Oma untuk Citra. Dulu, Citra pernah meminta kepada Oma untuk dituliskan buku cerita dengan tokohnya bernama Citra. Sekarang, Oma sudah membuatkannya untuk Citra. Coba dibaca apa judulnya?" tanya Bunda Dianti.
"Citra, Anak Penyayang," bacanya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Citra tertawa. Sangat suka mendapatkan hadiah dari Omanya. Kemudian dia membuka kemasannya perlahan dan membacanya.
"Wah, Citra punya karakter sendiri ya, Pa?" tanyanya kepada Papanya.
Papa Tama pun menganggukkan kepalanya. "Benar, Citra punya karakter sendiri. Lucu dan cantik yah karakternya," balas Tama.
Kemudian di beberapa halaman selanjutnya, Citra berteriak senang. "Yeay, Citra di buku ini juga punya adik kembar namanya Charel dan Charla. Yeay, makasih Oma," balasnya dengan girang.
Bunda Dianti tersenyum. Dia membuka kedua tangannya ingin memeluk Citra. Citra juga menganggukkan kepala dan menghambur ke pelukan Oma Dianti.
"Terima kasih, Oma Dian. Bukunya sangat bagus. Ceritanya sangat indah. Citra sangat suka," balasnya.
"Sama-sama, Kakak Citra. Oh, iya untuk penjualan buku ini semuanya akan Oma berikan untuk Citra. Nanti kalau Citra sudah besar untuk sekolah Citra yah. Sekolah yang tinggi, jadi anak kebanggaan Mama dan Papa," ucap Bunda Dianti.
Itu memang komitmen dari Oma Dianti sendiri. Seluruh penjualan buku nanti akan dia berikan untuk Citra. Dia ingin cucunya sekolah yang tinggi dan juga menjadi generasi yang cerdas dan membanggakan Mama dan Papanya.
"Terima kasih banyak, Oma," balas Citra.
__ADS_1
Kemudian Oma Dianti menganggukkan kepalanya. "Sama-sama, Sayang. Oma sayang Citra dan adik-adiknya," balasnya.
Tentu ini kejutan juga untuk Ayah Tendean, dia tidak mengira bahwa istrinya akan berinisiatif seperti ini. Namun, benar yang Ayah Tendean cari bahwa istrinya bisa menerima dan menyayangi anaknya dan juga cucu-cucunya.