Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Setelah Pernikahan


__ADS_3

Di pesta pernikahan itu memang beberapa kolega dari Dokter yang bekerja satu rumah sakit dengan Tendean juga datang. Tentu memberikan ucapan selamat dan doa untuk Dokter Tendean.


"Selamat Pak Dokter ... akhirnya sudah menemukan tambatan hati."


"Selamat menempuh hidup baru Dokter Tendean dan istri. Samawa selalu."


"Happy Wedding untuk Dokter Tendean dan Istri."


Tendean dan Dianti sama-sama bersyukur untuk ucapan dan doa yang diberikan. Walau tamu yang diundang tidak begitu banyak, tapi rupanya yang datang cukup banyak. Praktis kurang lebih menjelang jam 22.00, keduanya baru bisa beristirahat dan keluarga Anaya memilih untuk pulang. Anaya pun seakan tahu dan ingin memberikan waktu untuk ayahnya.


"Akhirnya, semua semua sudah selesai," ucap Tendean dengan menutup pintu depan dan mengajak Dianti untuk masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Betapa terkejutnya, Tendean karena kamarnya disulap menjadi kamar pengantin. Ada aneka bunga, bahkan ada kelopak bunga mawar merah yang dihamburkan ke ranjang. Tendean sangat yakin bahwa itu adalah ulah putrinya, Anaya.


"Aku bersih-bersih dulu ya Mas ... gantian saja," pamit Dianti.


Tendean menganggukkan kepalanya. Barulah menjelang jam 23.00, keduanya sudah bersih dan siap untuk beristirahat bersama. Walau sudah menikah, tapi suasana di dalam kamar itu dipenuhi dengan atmosfer kecanggungan.


Dianti, yang sudah berusia 47 tahun itu di mata Tendean justru terlihat cantik dan begitu muda. Walau usai sudah menjelang kepala lima, tapi di mata Tendean, istrinya itu begitu cantik. Lantas, Tendean mengambil tempat duduk di sisi Dianti. Sebenarnya Dianti begitu gugup, tapi dia ingin menyembunyikan semuanya itu. Membiarkan semua mengalun begitu saja.


"Iya, Mas Dean," balas Dianti dengan lirih.


"Kamu senang menikah denganku?" tanya Tendean lagi kemudian.

__ADS_1


Tampak Dianti menganggukkan kepalanya. "Tentu senang. Aku mengenalmu sudah begitu lama, Mas Dean. Kita sama-sama satu fakultas dulu. Kita sering diskusi mata pelajaran bersama. Hingga akhirnya kita bertemu lagi, walau usia kita sudah tidak lagi muda," balas Dianti.


Ya, memang dulu keduanya adalah kakak tingkat dan adik tingkat di fakultas kedokteran di salah satu kota Kembang. Sering menghabiskan waktu bersama. Berdiskusi mengenai kaitan ilmu Kedokteran dan Psikologis. Mengembangkan ideologi dan juga aktif dalam organisasi mahasiswa di kampus dulu.


"Terima kasih, Di ... sudah menerima pinanganku," balas Ayah Tendean.


Kini Tendean mendekatkan tangan Dianti ke dekat bibirnya, lantas dia memberikan kecupan di punggung tangan itu. Akhirnya, masa duda sudah berakhir. Kini hari-harinya yang sepi akan terisi dengan kebahagiaan baru. Semoga bahwa cinta ini adalah yang terakhir, sampai akhir menutup mata.


"Aku cinta kamu, Di," ucap Tendean.


Begitu asing dan sukar untuk mengucapkan cinta, ketika sudah seperempat abad menduda. Namun, juga Tendean mengakui perasaan cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Dirinya merasa lengkap ketika, Dianti menerima pinangannya. Bahkan sekarang keduanya sudah menikah dan sah. Tidak ada kesedirian. Namun, yang ada adalah rasa syukur dan bahagia. Jodoh di usia senja, yang Tendean syukuri dan Tendean berjanji akan selalu menjaga cinta yang kembali menyapa ketika usianya sudah memasuki kepala lima.

__ADS_1


__ADS_2