
Agaknya pertanyaan dari Anaya barusan menjadi pertimbangan untuk Bunda Dianti. Namun, apa yang dikatakan Anaya benar-benar logis. Dia memang belum menopause, sehingga masih ada kemungkinan untuk bisa hamil. Namun, ada pertimbangan tersendiri bagi Bunda Dianti, mengingat usia yang sudah tidak lagi muda.
Malam harinya, barulah Bunda Dianti berbicara kepada suaminya. Hanya sekadar, ingin berbicara atau mungkin bisa berkonsultasi dengan suaminya. Setidaknya suaminya adalah seorang Dokter, jadi bisa memberikannya saran
"Mas Dean, baru sibuk?" tanya Bunda Dianti.
"Enggak, Bunda ... kenapa?"
"Mau ngobrol aja sebentar," balas Dianti.
Ayah Tendean kemudian menutup buku seputar penyakit saraf yang sekarang dibacanya, kemudian mengalihkan atensinya kepada istrinya. Bagaimana pun juga, memang kadang di malam hari mereka gunakan untuk ngobrol bersama. Toh, usia juga sudah tidak lagi muda, di rumah juga hanya berdua. Sehingga memang senyaman mungkin mencari kegiatan bersama.
Pola pikir pasangan muda dan pasangan yang paruh baya. Kadang ketika memang sudah paruh baya juga lebih banyak ngobrol bersama, sharing, dan juga ada kalanya bercinta. Fokus untuk mengisi hari berdua.
__ADS_1
"Mas, tadi siang kan Anaya ke sini, terus kami ngobrol-ngobrol. Anaya tanya apakah aku sudah menopause, kan aku masih haid, Mas. Berarti, aku kan belum menopause. Setelah itu, Anaya kembali bertanya, kalau belum menopause berhenti ada kemungkinan bisa hamil juga. Nah, menurut Mas Dean gimana tuh?"
Memang rasanya usai perbincangan dengan Anaya barusan mengusik Bunda Dianti. Dia hanya memikirkan faktor usia saja yang sudah tidak lagi muda.
"Yang dikatakan Anaya benar, Bunda. Kalau masih bisa haid, seharusnya memang masih memungkinkan untuk bisa hamil. Kamu sendiri bagaimana, siap enggak hamil di usia segini?"
"Risikonya tinggi enggak Mas?"
Mencoba menjelaskan dari sisi medis. Memang ibu yang hamil di usia 40 tahun cenderung kurang bugar. Oleh karena itu, biasanya disarankan untuk berjalan kaki, yoga, dan berenang, untuk menjaga kebugaran. Selain itu, ibu hamil di usia 40 tahun juga berisiko terkena penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit tiroid.
Mendengarkan penjelasan suaminya, agaknya menjadi pertimbangan tersendiri untuk Bunda Dianti. Terlebih Bunda Dianti pernah membaca sebuah artikel bahwa hamil di usia 40 tahun ke atas untuk berisiko anak mengalami down syndrom. Untuk itu, memang lebih baik sharing dengan suaminya terlebih dulu.
"Beberapa risiko itu aku sudah baca sebelumnya. Namun, tetap ada peluang untuk hamil. Jadi, sebaiknya gimana Mas?" tanya Bunda Dianti lagi.
__ADS_1
Kali ini Ayah Tendean mendekat, menggenggam tangan istrinya yang menurutnya tengah galau itu. "Aku tidak masalah, tapi semua aku kembalikan ke kamu. Tubuh dan seluruh sistem reproduksi itu milik kamu. Wanita memiliki pilihan untuk mau hamil atau tidak. Jika, memang risikonya terlalu tinggi. Tidak usah, tidak apa-apa. Namun, jika sampai kamu hamil, yang pasti aku akan selalu mendampingi kamu, Bunda."
Ya, memang mau hamil dan tidak hamil itu adalah pilihan. Akan tetapi, Ayah Tendean menjanjikan satu hal bahwa dia akan selalu mendampingi Bunda Dianti. Tidak akan membiarkannya sendiri.
"Nunggu sedikasihnya Tuhan aja ya Mas. Kalau dipercaya sama Tuhan, ya aku akan menerimanya dengan lapang dada," balas Bunda Dianti.
"Iya, Bunda ... makasih banyak. Jangan takut. Aku akan selalu mendampingi kamu. Jadi, gimana ... sedikasihnya?"
"Iya, sedikasihnya saja. Anak kan rejeki dari Tuhan. Walau aku juga sudah memiliki banyak anak, bukan anak biologis, tapi anak-anak di panti asuhan," balas Dianti.
"Benar ... makasih yah. Usia sudah tidak muda. Pikirannya juga berbeda ya Bunda. Tidak hanya tentang kesenangan semata, tapi juga memikirkan risiko lainnya."
Yang Ayah Tendean sampaikan memang benar. Bahwa mereka sudah tidak lagi muda, perlu memikirkan risiko yang mungkin saja terjadi. Semoga saja, nanti Tuhan berkenan memberikan yang terbaik untuk mereka berdua.
__ADS_1