
Menjaga kehamilan dan kebugaran tubuh itu tidak mudah. Sama seperti Bunda Dianti sekarang. Dengan didampingi oleh suaminya sendiri, Bunda Dianti benar-benar menjaga kehamilannya.
"Gimana, Bunda ... sudah semakin bertambah bulan. Sudah hampir lima bulan loh kehamilannya," ucap Ayah Tendean.
"Ya, disyukuri saja sih, Mas. Sudah kelihatan banget baby bumpnya ya, Mas?" tanya Bunda Dianti kepada suaminya.
Ayah Tendean tersenyum perlahan, tangan bergerak dan mengusapi perut istrinya yang memang sudah begitu membuncit. Sepanjang hari hingga selama lima bulan ini Ayah Tendean selalu menjaga istrinya. Mengingatkan untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan bernutrisi. Juga ada instruktur yoga yang datang ke rumah seminggu dua kali untuk membantu Bunda Dianti menjaga kebugarannya.
"Lucu yah. Sehat-sehat sampai persalinan nanti," ucap Ayah Tendean.
"Iya, Mas. Gak terasa yah, sudah mau lima bulan," balas Bunda Dianti.
"Iya, bener banget. Nanti kalau sudah tujuh bulan, kita buat pengajian yah?" tanya Ayah Tendean kepada istrinya itu.
Sekarang, Bunda Dianti menganggukkan kepala. "Boleh, undang anak-anak dari panti asuhan juga ya, Mas," balasnya.
"Tentu, Bunda. Atau acaranya di Panti Asuhan saja juga boleh. Kan gak apa-apa. Pasti, akan melibatkan semua anak-anak," balas Ayah Tendean.
Kemudian Bunda Dianti bersandar di lengan suaminya. Sebenarnya ada pikiran-pikiran yang membuat Bunda Dianti takut, terutama dengan semakin besarnya kandungannya. Namun, sejauh ini didampingi suaminya dan sering mengobrol dengan Anaya membuat Bunda Dianti percaya bahwa nanti pun akan baik adanya.
__ADS_1
"Sini, kamu ada pengen sesuatu enggak? Aku beliin," tanya Ayah Tendean.
Akan tetapi, sekarang Bunda Dianti menggelengkan kepalanya. "Enggak, gak pengen apa-apa kok Mas. Pengen bersandar saja. Kadang kalau dipikirkan dengan logika, kok ya kehamilanku kayak gak logis terutama mengingat usiaku, tapi wanita berusia hampir 50 tahun bisa hamil," ucap Bunda Dianti yang masih merasa bingung.
"Ya, jika Allah berkehendak, itulah yang terjadi, Bunda. Selama masih haid berarti kan masih subur," balasnya.
"Kamu juga masih subur ya, Mas. Mengingat usiaku yang semakin tua, kayaknya satu anak saja ya, Mas. Usai itu aku memasang kontrasepsi aja yah," balas Bunda Dianti.
Ayah Tendean merespons dengan menganggukkan kepala. Dia tahu jika memang istrinya kian bertambah usianya. Jika hamil lagi pastilah berisiko. Oleh karena itu, lebih baik memang cukup sekali hamil dan melahirkan saja.
"Iya, boleh, Bunda. Aku juga khawatir. Sekarang saja sudah khawatir kok," balas Ayah Tendean.
"Mau baby moon enggak, Nda? Sapa tahu bisa healing," ajak Ayah Tendean kepada istrinya.
Pikirnya memang ibu hamil membutuhkan waktu untuk jalan-jalan dan juga liburan untuk healing. Bisa membuang stress yang selama ini menumpuk. Oleh karena itu, Ayah Tendean menawarkan baby moon kepada istrinya.
"Gak usah lah, Mas. Kayak anak muda aja. Dulu Anaya dan Tama apa juga baby moon, Mas?" tanyanya.
"Iya, mereka ke Malang deh kalau enggak salah. Citra dititipkan ke orang tua Tama. Biar healing dan baby moon," balasnya.
__ADS_1
Bunda Dianti sekarang menganggukkan kepala. Jika Anaya dan Tama melakukan baby moon itu wajar karena memang keduanya masih muda. Masih layak melakukan baby moon. Sementara, keduanya sudah berusia paruh baya, menuju senja. Rasanya aneh saja jika melakukan baby moon.
"Oh, kalau Anaya dan Tama masih muda, Mas. Wajar lah kalau baby moon, biar lebih mesra dan romantis juga," balas Bunda Dianti.
"Yang paruh baya, melakukan baby moon juga boleh kok. Biar semakin hangat. Mau second honeymoon juga boleh. Justru ketika paruh baya disarankan untuk melakukan second honeymoon loh, Bunda," balas Ayah Tendean.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan suaminya, Bunda Dianti hanya bisa terkekeh geli. Benarkah memang bulan madu kedua itu disarankan untuk pasangan paruh baya seperti keduanya? Sementara, untuk Bunda Dianti rasanya aneh saja.
"Mana ada, Mas?" tanyanya singkat.
"Serius, masak aku mengada-ada. Justru bulan madu kedua itu disarankan untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, membangun emosi suami dan istri, dan juga setelah bertahun-tahun menikah, kita lebih siap merespons setiap pelukan, ciuman, dan sentuhan," balas Ayah Tendean.
Namun, Bunda Dianti masih terkekeh geli. Merasa masih tidak terbiasa dengan bulan madu keduanya. Dulu saja, jika tidak didesak Anaya untuk honeymoon, Bunda Dianti juga enggan untuk pergi.
"Bulan madu kedua usai melahirkan aja, Mas. Bisa lebih leluasa," balas Bunda Dianti.
"Baiklah, aku ngikut kamu saja. Yang pasti aku tidak mengada-ada. Yang aku sampaikan bisa kamu cari bahwa itu benar adanya," balas Ayah Tendean.
Bunda Dianti tersenyum dan kemudian mengapit lengan suaminya. Merasa geli. Namun, kalau ingin bulan madu kedua, mereka berpikir untuk melakukannya ketika sudah melahirkan saja. Sekarang fokus dulu ke kehamilan yang sudah berusia lima bulan. Hanya tinggal empat bulan saja, kehamilannya akan menghadapi masa persalinan.
__ADS_1