Duda Seperempat Abad

Duda Seperempat Abad
Arti Butuh yang Sebenarnya


__ADS_3

Rupanya ketika hendak beranjak tidur, Ayah Tendean memiliki niat tersembunyi sekarang. Oleh karena itulah, dia bertanya demikian kepada istrinya. Rupanya Bunda Dianti pun tersenyum, dia sangat tahu apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Walau pernikahan masih seumur jagung, tapi Bunda Dianti bisa menebak kode-kode tersembunyi dari seorang pria.


"Aku tahu apa yang kamu mau," ucap Bunda Dianti.


"Beneran capek?" tanya Ayah Tendean terlebih dahulu.


"Tidak kok ... aku nggak kecapekan. Beneran butuh itu?" tanya Bunda Dianti lagi.


Kali ini Ayah Tendean menganggukkan kepalanya. "Iya, itu pun kalau kamu mau," balas Ayah Tendean.


"Boleh kok, Mas ... pelan-pelan saja," balas Bunda Dianti.


Seolah mendapatkan lampu hijau, Ayah Tendean jelas saja tersenyum puas. Dia segera menutup tirai jendela di kamarnya. Sebagaimana kebiasaan istrinya yang menyukai kamar yang temaram, sekarang pun Ayah Tendean mematikan lampu utama di kamarnya. Mengganti dengan lampu tidur yang lebih redup. Pelan-pelan, dia menaiki ranjang dan menindih tubuh istrinya. Dengan siku tangannya, Ayah Tendean menahan bobot tubuhnya sendiri. Pria itu membuka dengan mengecup kening istrinya. Kenapa demikian? Sebab, Bunda Dianti mengatakan sangat senang ketika suaminya itu mengecup keningnya. Direspons dengan Bunda Dianti yang memejamkan matanya, dan memeluk tubuh suaminya.


"Makasih, Mas," ucapnya dengan menunjukkan senyuman yang indah.


"Aku akan selalu mengecup keningmu. Sebagaimana keinginanmu," balas Ayah Tendean.

__ADS_1


Ada anggukan samar kepala Bunda Dianti. Baginya, kecupan di kening itu seperti dia begitu disayang, diperhatikan, dan penuh ketulusan. Hatinya menjadi damai tiap kali suaminya itu mengecup keningnya.


Perlahan, wajah Ayah Tendean turun dan bibir itu kini mendaratkan kecupan di bibir istrinya yang saat itu sama sekali tidak mengenakan lipstik. Permukaan kulit yang kenyal, manis, dan juga hangat bisa Ayah Tendean rasakan, hingga pria itu menutup matanya. Perlahan-lahan, Ayah Tendean menggerakkan bibirnya dan mulai memagut bibir itu dengan begitu lembut. Dua bibir bertemu dalam satu muara yang di mana keduanya sama-sama memuaskan dahaga. Saling memagut, saling mencecap rasa manis, dan juga saling mengusap dengan lidah yang membawa keduanya terombang-ambing dalam badai cinta yang panas. Hangat.


Tangan yang semula hanya menahan di pinggang sisi kanan dan kiri, perlahan pun merayap dan meraba lekuk-lekuk feminitas yang ada di tubuh istrinya. Memberikan belaian di tengkuk hingga telinga, meraba bagian lengan, hingga tangan itu dengan sengaja memberikan remasan di dada istrinya.


"Bunda ... Sayang," ucap Ayah Tendean dengan menghela nafas sepenuh dada.


Belum sempat sang istri menjawab, Ayah Tendean sudah membawa bibirnya untuk menjatuhkan kecupan yang hangat dan basah di garis leher istrinya. Walau menjelang setengah abad, tetapi permukaan epidermis itu masih begitu halus, justru Diantinya kian cantik saja di matanya.


Pun Dianti yang sengaja melepaskan kemeja yang dikenakan suaminya. Sama-sama shirtless. Hingga keduanya bisa merasakan suhu tubuh yang meningkat dengan drastis.


Menyisir area dada, Ayah Tendean melepaskan wadah penutup berwarna putih dengan hiasan beberapa bunga itu. Pria itu membuka matanya dan melihat istrinya. Walau keremajaan masa muda sudah berlalu, yang ada di depan matanya sekarang justru begitu menggairahkan.


Pria itu dengan pelan-pelan mulai menghisap buah persik yang ada di sana. Menahan dengan tangannya, dan menggigitnya perlahan, menghisapnya, melu-matnya dengan begitu bersemangat. Pekikan dari istrinya disertai remasan di area rambutnya justru membuat Ayah Tendean tambah dan tambah bersemangat.


Hingga semua benang yang menempel di sana terlepas semuanya. Ayah Tendean memperhatikan penampilan istrinya, dia memuja. Oleh karena itu, dengan perlahan dia menyisiri lembah yang ada di bawah sana. Menghisapnya dengan begitu bersemangat, menusuknya perlahan dengan ujung lidahnya, bahkan tiga jari tangannya memberikan godaan di sana.

__ADS_1


"Mas Dean ... Mas Dean!"


Dianti memekik. Rasa yang asing, gelenyar yang membutakan mata kembali menerpanya. Kali ini,  rasa terbang dan melayang. Hingga Ayah Tendean, meminta sang istri untuk membasahi pusakanya terlebih dahulu. Kemudian pria itu menempatkan dirinya. Dengan perlahan-lahan dan sangat halus, penyatuan dua jiwa dalam satu muara kembali terjadi.


"Dian ... Di ... an!"


Lagi Ayah Tendean merasakan dirinya yang nyaris meledak. Dia hanya diam, belum menghujam, tetapi sambutan yang hangat dan cengkeraman di dalam sana sudah membuatnya menggila. Hingga dengan menahan pinggang sang istri, Ayah Tendean menghujam perlahan. Menusuk. Menerobos hingga terasa benturan di dalam sana.


Begitu padu. Begitu indah. Sampai keduanya benar-benar mengarungi sungai yang bermuara ke samudra cinta. Ombak demi ombak, riak-riak air, dan juga gelombang membasahinya, seakan membuat keduanya nyaris tenggelam. Akan tetapi, itulah nikmatnya.


Dengan begitu erat Dianti memeluk erat suaminya. Dia menerima setiap perlakuan dari suaminya. Menyesuaikan diri bahwa inilah memadu kasih yang indah bagi sepasang suami istri.


Hingga sampai batas, Ayah Tendean merasakan tubuhnya berguncang dengan begitu hebat. Matanya terpejam kian rapat. Hingga akhirnya, dia meledak dan pecah. Rubuh dan berpeluh. Itu adalah yang dirasakan Ayah Tendean sekarang ini. Benar-benar indah, muara yang indah dan juga berbalutan sejuta kenikmatan.


"Aku cinta kamu, Bunda Dianti ... Aku cinta kamu," ucap Ayah Tendean dengan terengah-engah di sana.


"Aku juga Mas Dean ... sangat mencintaimu!"

__ADS_1


__ADS_2